Pameran Otomotif Indonesia

Sejarah Gaikindo Motor Show. Saat ini pameran GAIKINDO menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Dimulai setelah ada penyelenggara pameran otomotif ‘partikelir’ yang kehabisan dana.
Image title
7 Juli 2017, 17:01
Target Produksi Mobil
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Pengunjung melihat mobil yang dipamerkan dalam Auto Show 2017 di Hall MOG, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/3). Pemerintah menargetkan industri otomotif nasional mampu memproduksi 2,5juta unit mobil pada tahun 2020.

GEDUNG ICE di kawasan Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, berukuran cukup besar, 220 ribu meter persegi. Gedungnya keren dan tertata rapi, di tengah-tengah kawasan salah satu kota satelit Jakarta paling terkenal. 

Satu-satunya kelemahan, jika boleh disebut, adalah lokasi yang jauh dari Jakarta. Dari kawasan pusat kota Jakarta di Sudirman-Thamrin, ICE memiliki jarak setidaknya 30 kilometer.

Namun Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (GAIKINDO) tidak gentar, saat dua tahun lalu memindahkan lokasi pameran otomotif mereka dari Jakarta ke sana. Mereka yakin pengunjung tetap membanjiri pameran yang sekarang bernama GAIKINDO Indonesia International Auto Show (|GIIAS) itu.

“Karena kita dulu pernah memindahkan pameran dari Jakarta Convention Center ke Kemayoran (dan tetap sukses),” kata Freddy Sutrisno, orang yang terlibat dalam penyelenggaraan pameran GAIKINDO sejak awal.

Nama besar pameran otomotif yang digelar GAIKINDO memang sudah cukup membuat mereka yakin, lokasi di BSD tidak membuat orang enggan datang. Terbukti, pameran pada 2015 itu mereka bisa meraih 400 ribu pengunjung, naik 20 ribu orang dibanding tahun sebelumnya, saat masih digelar di Kemayoran, Jakarta Pusat.

Popularitas gelaran pameran otomotif GAIKINDO saat ini sangat jauh berbeda, dibanding ketika digelar pertama kali pada 1986. Saat itu pameran digelar di Jakarta Convention Center. Jangan dibayangkan Jakarta Convention Center saat itu seluas Jakarta Convention Center sekarang. Saat itu baru ada gedung bundar di tengah, belum ditambah ruang-ruang di kiri-kanannya.

Praktis Balai Sidang Senayan zaman itu—begitu Jakarta Convention Center biasa disebut—hanya seluas sekitar 10 ribu meter persegi. Kira-kira butuh 22 Balai Sidang, untuk bisa seluas ICE. GAIKINDO pun tidak berani menarik tiket masuk. “Saat itu masih gratis,” kata Freddy.

Sebelum gelaran pertama 1986, bisa dibilang tidak pernah pameran GAIKINDO. Ada sesekali pameran mobil, seperti tercatat pada 1972. Saat itu pesertanya masih pemain lama yang sekarang tidak lagi terdengar, seperti Indonesia Republic Motor Company (IRMC) yang memegang merek Ford.

Kekosong pameran ini, sempat dimanfaatkan pebisnis yang mencium peluang. Salah satunya menggelar pameran cukup besar, di Balai Sidang pada 2015. Pameran yang diikuti industri otomotif besar, dijadwalkan berlangsung lima hari. Namun baru berjalan dua hari, manajemen Balai Sidang memberi tahu bahwa panitia baru membayar sewa untuk dua hari. Penyelenggara ‘partikelir’ ini kelabakan kehabisan dana.

“Akhirnya kita patungan,” kata Freddy, yang juga eksekutif di Indomobil. Patungan ini tidak hanya membuat pameran berjalan sesuai rencana, namun juga ada hikmah lain: GAIKINDO memutuskan menggelar pameran sendiri.

Maka pameran resmi GAIKINDO mulai digelar pada 1986. Muncul masalah baru, saat ruang pamer di Balai Sidang dipandang terlalu kecil untuk ruang bagi 13 Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) dan 40 bisnis pendukung yang ikut serta.

Akhirnya diputuskan untuk menggelar di lapangan parkir Balai Sidang. Hanya saja, pihak GAIKINDO tidak memberi tahu sebelumnya sehingga manajemen Balai Sidang mengomelinya dan tahun berikutnya, mereka memasang tarif pemakaian tempat parkir.
Pameran ini seperti menjadi cermin industri otomotif Indonesia. Di masa awal, pameran didominasi mobil karoseri, namun kemudian posisinya bergeser saat para pemegang merek juga membuat badan kendaraan niaga.

Krisis Ekonomoi 1997-1998 juga membuat pameran ini lumpuh. Pasar mobil yang sudah di kisaran 400 ribu, anjlok tinggal sekitar 50 ribu. Pameran mulai digelar kembali pada 2000, saat pasar sudah mendekati tingkat sebelum krisis.

Bukan hal yang mudah, memutar kembali pameran GAIKINDO ini. “Sangat sulit membujuk anggota untuk ikut pameran kembali,” kata Freddy. “Ini saat paling sulit, selama GAIKINDO menggelar pameran.”

Pameran semakin populer. Mereka tak lagi menggelar di Balai Sidang yang sudah diperbesar dan namanya lebih sering disebut sebagai Jakarta Convention Center. Namun, GAIKINDO memutuskan memindahkan ke Jakarta International Expo. Belakangan, GAIKINDO memutuskan ke gedung ICE di BSD.

Saat pindah ke ICE, posisi pameran otomotif gelaran GAIKINDO sudah sangat bergengsi. Di Asia Tenggara, pameran GAIKINDO sudah menjadi nomor satu baik dari sisi penunjung maupun peserta. Pameran ini sudah melewati gengsi Bangkok Motor Show.
Pameran ini juga sudah masuk daftar kegiatan resmi organisasi industri otomotif internasional OICA (Organisation Internationale des Constructeurs d’Automobiles).

Ini sebabnya GAIKINDO penuh percaya diri menggelar di lokasi yang cukup jauh dari pusat kota Jakarta.

Video Pilihan

Artikel Terkait