Aksi Kolektif Ubah Jelantah Jadi Berharga

Upaya ini dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari NGO, badan usaha, hingga komunitas desa.
Image title
Oleh Arofatin Maulina Ulfa - Katadata Insight Center
25 Agustus 2020, 11:20

Pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel telah banyak diimplementasikan di berbagai tempat. Upaya ini dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari NGO, badan usaha, hingga komunitas desa.

Beberapa di antaranya adalah Lengis Hijau yang merupakan NGO lingkungan di Denpasar, gerakan Jelantah4Change di Balikpapan, GenOil di Makassar, dan Belijelantah.com di Jakarta. Ada juga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) seperti BUMDes Panggung Lestari di Kabupaten Bantul dan BUMDes Berkah Bersama di Kabupaten Tabalong.

Selain itu, terdapat Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) seperti KSM Peduli Lingkungan di Tarakan, Kalimantan Utara. Sedangkan badan usaha yang melakukan penyaluran minyak jelantah menjadi biodiesel ialah CV. Artha Metro Oil yang berpusat di Jakarta dan Kabupaten Sidoarjo.

Daur ulang minyak jelantah menjadi bahan baku biodiesel ini memberi manfaat ekonomi. Studi International Council on Clean Transportation (ICCT) pada 2018 menunjukkan, minyak jelantah di berbagai kota dijual dengan harga beragam. Mulai dari harga Rp 2.500 hingga Rp 4.700 per liternya.

Pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel telah sejak lama dimulai di Indonesia. Beberapa wilayah sudah memulai langkah ini melalui pembentukan peraturan daerah. Di antaranya adalah DKI Jakarta melalui Peraturan Gubernur DKI Nomor 167/2016 tentang Pengelolaan Limbah Minyak Goreng. Sebelumnya, Bogor juga telah menerapkan peraturan serupa melalui Peraturan Daerah Kota Bogor Nomor 1/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Daur ulang jelantah untuk biodiesel juga dilakukan pada operasional shuttle bus di Bandara Soekarno-Hatta. Sejak 2016, pihak pengelola bandara terbesar di Indonesia ini telah memanfaatkan limbah jelantah dari restoran di kawasan tersebut.