Seberapa 'Hijau' Bahan Bakar Nabati (Biofuel)?

CDP merekomendasikan agar biofuel dikelola secara berkelanjutan.
Jeany Hartriani
Oleh Jeany Hartriani - Tim Publikasi Katadata
20 Mei 2021, 22:43

Memperluas perkebunan kelapa sawit untuk produksi biofuel dapat menimbulkan efek kontraproduktif.  Termasuk menggagalkan komitmen Indonesia dalam upaya penanganan perubahan iklim. 

Salah satu penyebabnya, ekspansi perkebunan sawit dapat mengancam hutan Indonesia. Sebanyak satu juta barel konsumsi biofuel setiap harinya membutuhkan 9-15 juta hektare perkebunan kelapa sawit. Semakin banyak biofuel yang dibutuhkan untuk konsumsi, maka akan semakin banyak lahan, termasuk hutan, yang dibutuhkan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit.

Selanjutnya, kebijakan biofuel juga kerap bertentangan dengan tujuan lingkungan yang diterapkan pemerintah, salah satunya komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29 persen pada 2030. Nyatanya, rantai pasok biodiesel justru menyumbang 80 persen emisi GRK dari total seluruh emisi yang dihasilkan sektor ini.

Terkait permasalahan tersebut, CDP merekomendasikan agar biofuel dikelola secara berkelanjutan. Beberapa hal yang dapat dilakukan adalah mengintegrasikan aspek keberlanjutan dalam peraturan industri, mengedepankan transparansi terkait persoalan lingkungan, serta meningkatkan dialog dan kerjasama antara sektor publik dan swasta agar dapat mencapai solusi yang saling menguntungkan.

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.