Bukan Eksportir, Bukan Pula Negara Kaya Minyak

Oleh , 9/6/2013, 00.00 WIB

Seusai mengikuti rapat partai koalisi pendukung pemerintah yang dipimpin langsung Wakil Presiden Boediono pada Selasa 4 Juni di kediaman Wapres Sekretaris Jenderal DPP PPP M Romahurmuziy mengungkapkan sejumlah alasan mengapa harga bahan

Share

KATADATA ? Seusai mengikuti rapat partai koalisi pendukung pemerintah yang dipimpin langsung Wakil Presiden Boediono pada Selasa, 4 Juni di kediaman Wapres, Sekretaris Jenderal DPP PPP M Romahurmuziy mengungkapkan sejumlah alasan mengapa harga bahan bakar minyak harus naik. Salah satu alasan yang mengemuka adalah Indonesia bukan lagi negara eksportir minyak.

?Karena itu, saya heran bila masih ada yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi,? ujar politisi PPP yang akrab dipanggil Rommy tersebut. "Jalan berpikirnya tidak ketemu nalar. Itu menunjukkan mereka  tidak mengerti tentang ekonomi energi nasional.?  

Indonesia sekarang memang telah berubah. Selain bukan sebagai nett oil exporter, Indonesia juga bukan lagi negara kaya minyak. Saat menjadi anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak, Indonesia memang merupakan eksportir utama minyak dunia. Selama 32 tahun di bawah pemerintahan Orde Baru, rata-rata produksi minyak mencapai 1,38 juta barel per hari. Puncak produksi pernah dicapai pada 1977 sebesar 1,65 juta barel per hari dan 1995 sebesar 1,6 juta barel per hari.

Perjalanan produksi minyak Indonesia

Pada masa itu, cadangan minyak bumi Indonesia juga tergolong tinggi. Hingga 1980-an, cadangan minyak Indonesia masih mencapai 11,6 miliar barel. Minyak menjadi mesin utama bagi pembangunan ekonomi nasional, sekaligus memberikan kontribusi melebihi 50 persen bagi penerimaan negara. Dengan tingkat cadangan dan produksi yang cukup tinggi, harga BBM pun disubsidi oleh pemerintah.

Namun, sekarang Indonesia bukan lagi pemilik cadangan minyak dalam jumlah besar. Cadangan minyak Indonesia tersisa 4 miliar barel pada 2011. Jumlah cadangan tersebut sangat jauh jika dibandingkan dengan Venezuela, Arab Saudi atau Iran, yang memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar. Pada 2011, Venezuela mempunyai cadangan minyak terbukti 297 miliar barel, Arab Saudi 265 miliar barel dan Iran 151 miliar barel. Dengan cadangan sebesar itu, Arab Saudi mampu memproduksi 11,1 juta barel minyak per hari dan Iran 4,3 juta barel per hari.

Bukan hanya dengan negara super kaya minyak. Dibandingkan dengan sejumlah negara Asia, cadangan minyak Indonesia juga tertinggal. Saat ini, China memiliki cadangan minyak 14,8 miliar barel, Malaysia 5,9 miliar barel, India 5,8 miliar barel, bahkan Vietnam yang kini memiliki  cadangan 4,4 miliar barel. Padahal, pada 1980-an, Indonesia merupakan negara terbesar kedua di Asia Pasifik sebagai pemilik cadangan minyak setelah China.

Dari sisi tingkat produksi, produksi minyak Indonesia juga sudah merosot sangat tajam. Dibandingkan dengan puncak produksi pada 1995 sebesar 1,6 juta barel per hari, pada 2012 produksi minyak Indonesia tinggal hampir separohnya, yakni hanya 861 ribu barel per hari. Sedangkan, konsumsi BBM malah sebaliknya, melejit dari 400 ribu barel per hari pada 1980-an menjadi lebih dari 1,4 juta barel pada saat ini.

Tingkat konsumsi yang jauh melebihi tingkat produksi membuat Indonesia bukan lagi sebagai nett oil exporter, melainkan berubah menjadi nett oil importer. Bahkan, impor minyak dan BBM terus menunjukkan peningkatan sehingga memberatkan neraca perdagangan Indonesia. Bahkan, neraca perdagangan beberapa kali defisit akibat impor BBM yang sangat besar.

Tak hanya neraca perdagangan yang defisit. Jumlah subsidi BBM pun semakin membengkak dari tahun ke tahun. Pada 2006, jumlah subsidi BBM masih Rp 64 triliun, namun enam tahun kemudian sudah membengkak hampir empat kali lipat menjadi Rp 212 triliun.

Tahun ini, menurut Menteri Keuangan Chatib Basri, anggaran subsidi BBM bisa sangat membengkak menjadi Rp 297,7 triliun jika tidak ada kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Pembengkakan terjadi karena asumsi nilai tukar sebesar Rp 9.300 diperkirakan melemah menjadi Rp 9.600.

Tak bisa dipungkiri, Indonesia merupakan satu negara yang sangat royal memberikan subsidi BBM bagi penduduknya. Bahkan, proporsi anggaran yang dialokasikan untuk subsidi BBM tidak jauh berbeda dengan negara-negara super kaya minyak.

Itu terungkap dari hasil studi Dana Moneter Internasional (IMF) yang berjudul "Energy Subsidy Reform: Lesson and Implications" dan  dirilis pada 18 Januari 2013.  Studi itu menyebutkan tiga negara paling kaya minyak di dunia, yakni Venezuela, Arab Saudi dan Iran, pada 2011 menganggarkan dana subsidi BBM cukup besar bagi rakyatnya.

Arab Saudi mengalokasikan 14 persen dari penerimaan negara, Venezuela 15,8 persen dan Iran 16,9 persen. Ironisnya, dana subsidi yang dianggarkan pemerintah Indonesia hampir sama dengan negara-negara petrodolar tersebut. Menurut studi tersebut, sebesar 14 persen dari total penerimaan negara Indonesia digunakan untuk subsidi BBM.

Infografik Lainnya