Setiap Tahun, Kuota BBM Bersubsidi Selalu Jebol

Oleh , 9/6/2013, 00.00 WIB

Kebijakan menaikkan harga BBM perlu dilakukan untuk menjaga agar subsidi BBM tidak melebihi kuota yang ditetapkan oleh pemerintah bersama DPR dalam pembahasan APBN Namun dalam implementasinya volume BBM bersubsidi selalu melebihi kuota yang

Share

KATADATA ? Kebijakan menaikkan harga BBM perlu dilakukan untuk menjaga agar subsidi BBM tidak melebihi kuota yang ditetapkan oleh pemerintah bersama DPR dalam pembahasan APBN. Namun, dalam implementasinya, volume BBM bersubsidi selalu melebihi kuota yang disepakati. Ironisnya itu berlangsung terus menerus dari tahun ke tahun.

Dalam satu tahun, bisa beberapa kali direvisi. Pada 2011 misalnya, kuota BBM subsidi yang disepakati DPR bersama pemerintah awalnya sebesar 36,5 juta kiloliter, namun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P), kuota direvisi menjadi 40,5 juta kiloliter (KL). Realisasinya lebih tinggi lagi, yakni mencapai 41,8 juta kiloliter.

Terlampauinya target BBM bersubsidi ini disebabkan oleh lonjakan jumlah kendaraan bermotor. Pada 2011, jumlah sepeda motor meningkat sebanyak 8 juta unit dan kendaraan roda empat atau mobil bertambah 894 ribu unit.

Pada 2012, pemerintah merevisi kuota BBM subsidi juga berulang kali. Kuota BBM subsidi ditetapkan sebanyak 40,01 juta kiloliter pada awal pembahasan APBN 2012, lalu direvisi menjadi 44,04 juta kiloliter dalam APBN-P 2012. Pada November tahun lalu, kuota ditambah lagi sebesar 1,23 juta kiloliter menjadi 45,27 juta kiloliter.

Sejatinya, untuk mempertahankan agar volume subsidi tidak melebihi kuota, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan Peraturan Menteri Energi No 12 Tahun 2012 tentang Pengendalian BBM pada Mei 2012. Namun, upaya pengendalian BBM subsidi tidak membuahkan hasil yang memuaskan lantaran jumlah kendaraan meningkat signifikan.

Namun, lagi-lagi pemerintah gagal mengendalikan BBM bersubsidi akibat jumlah kendaraan bermotor tumbuh pesat. Menurut data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, pada 2012, terjual sebanyak 7,1 juta unit sepeda motor. Sedangkan, penjualan mobil menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), mencapai rekor baru, yakni 1,1 juta unit mobil.

Memasuki awal 2013, pemerintah bersama DPR menetapkan kuota BBM subsidi lebih tinggi lagi, yakni sebesar 46 juta kiloliter. Kuota sebesar ini sudah memperhitungkan pembatasan BBM bersubsidi bagi kendaraan dinas pemerintah, BUMN dan BUMD se-Jawa Bali, serta pelarangan penggunaan BBM bersubsidi untuk perusahaan pertambangan dan perkebunan.

Upaya pembatasan itu dilakukan melalui penerbitan Peraturan Menteri ESDM No 1/2013 tentang Pengendalian BBM Bersubsidi di tahun 2013. Menurut Wakil Menteri ESDM, Susilo Siswoutomo, Permen baru ini merupakan perluasan dari Permen 2012 dan roadmap pengendalian distribusi BBM bersubsidi.

Namun, baru berjalan satu triwulan, pemerintah sudah mengkhawatirkan kuota BBM subsidi bakal terlampaui. Bahkan, mantan Menteri Keuangan Agus Martowardojo sudah menyatakan kuota BBM subsidi bakal jebol hingga 50-53 juta kiloliter jika pemerintah tidak berbuat apa-apa.

Tanda-tanda kuota BBM subsidi bakal jebol sudah terlihat pada triwulan I 2013. Keterangan resmi Pertamina menyebutkan realisasi penyaluran Premium dan Solar bersubsidi telah mencapai 10,74 juta kiloliter atau mencapai 100,6 persen dari total kuota pada periode tersebut. Penyebab utamanya adalah konsumsi solar bersubsidi yang melebihi 5,2 persen dari kuota.

Jika mengacu pada hasil penelitian Lemigas. Satu unit sepeda motor rata-rata mengkonsumsi 0,75 liter per hari dan mobil 3 liter per hari. Jika setiap tahun rata-rata jumlah sepeda motor bertambah 7 juta unit dan mobil bertambah 800 ribu unit, maka dalam satu tahun akan ada tambahan konsumsi BBM sepeda motor sebesar 1,9 juta kiloliter dan mobil 900 ribu kiloliter. Artinya, dalam setahun sedikitnya ada tambahan kuota BBM subsidi sebesar 2,8 juta kiloliter.

Infografik Lainnya