Seberapa Besar Peluang Grup Bakrie?

Oleh , 17/7/2013, 00.00 WIB

Salah satu opsi penguasaan 7 persen sisa saham Newmont yang kerap mengemuka adalah pembelian saham oleh Badan Usaha Milik Daerah BUMD seperti dilakukan pada tiga tahap divestasi sebelumnyaPersoalannya seperti halnya Pemda BUMD jug

Share

KATADATA ? Salah satu opsi penguasaan 7 persen sisa saham Newmont yang kerap mengemuka adalah pembelian saham oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) seperti dilakukan pada tiga tahap divestasi sebelumnya.

Persoalannya, seperti halnya Pemda, BUMD juga memiliki keterbatasan dana, sehingga harus menggandeng swasta lokal/nasional. Itu sudah dilakukan oleh pemerintah daerah untuk pembelian 24 persen saham Newmont yang sudah dilakukan sebelumnya. Pemda melalui Badan Usaha Milik Daerah, yakni PT Daerah Maju Bersaing bekerjasama dengan PT Multi Daerah Bersaing (MDB), anak usaha PT Bumi Resources Minerals membeli saham Newmont. Di sini, daerah mendapatkan pembiayaan dari MDB yang dikendalikan oleh Grup Bakrie.

Untuk jatah 7 persen saham sisanya, peluang ini masih cukup menarik bagi Grup Bakrie lantaran melalui penambahan itu maka PT MDB (Bakrie dan Daerah) akan menjadi pemegang saham terbesar (31 persen), di atas kepemilikan saham Newmont Mining dan Sumitomo. Bagi daerah, peluang ini juga menarik karena terdapat insentif dari Bakrie kepada daerah (3 Pemda) yang dijanjikan untuk mendapatkan dana tambahan US$ 3 juta/tahun hingga pembelian 31% saham Newmont rampung. 

Persoalannya, jika Daerah tetap menggandeng Grup Bakrie terdapat sejumlah risiko yang harus dihadapi. Pertama, dalam menyediakan dana pembelian saham, kemungkinan besar saham Newmont akan kembali dijaminkan, seperti yang dilakukan sebelum ini kepada Credit Suisse First Boston (CSFB). Kedua, penjaminan saham mendatangkan risiko kehilangan saham jika perusahaan gagal bayar utang. Jika ini terjadi, maka tujuan divestasi ke pihak nasional yang diamanatkan UU tidak tercapai. 

Persoalan yang lebih berat lagi adalah risiko keuangan Grup Bakrie saat ini relatif masih sangat besar. Itu dikarenakan oleh sejumlah faktor seperti harga batubara yang terus merosot. Harga Batubara anjlok 35 persen dari awal 2013 ke posisi US$ 76,6 per ton (akhir Juni 2013), terendah sejak 2010.

Grup Bakrie juga menghadapi tekanan utang yang cukup berat. Total utang 10 perusahaan terafiliasi Grup Bakrie dalam nominal rupiah mencapai Rp 18,9 triliun dan dalam bentuk valas sebesar US$ 5,97 miliar. Dari jumlah itu yang akan jatuh tempo pada tahun ini sebesar Rp 2,7 triliun dan US$ 3,17 miliar. Bumi Resources, salah satu andalan Grup Bakrie, sekaligus perusahaan terafiliasi PT Multi Daerah Bersaing justru memiliki beban utang paling berat. BUMI memiliki  utang sebesar US$ 3,7 miliar dan jatuh tempo pada 2013 sebesar US$ 455 juta. Selain itu, BUMI mempunyai rasio utang terhadap ekuitas sebesar 1500 persen atau 15 kali.

Penurunan harga komoditas juga telah menekan kinerja finansial perusahaan Bakrie, khususnya yang berbasis pada sumber daya alam. Misalnya pada triwulan I 2013, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) rugi US$ 16 juta. Padahal pada 2012, Bumi Resources Minerals sudah merugi 56,3 juta atau Rp 590 miliar. PT Bumi Resources Tbk, induk usahanya malah rugi lebih besar lagi, yakni US$ 705,6 juta atau Rp 7 triliun.

Penurunan kinerja tersebut berimbas negatif terhadap saham perusahaan-perusahaan Grup Bakrie, apalagi diperparah dengan sentimen negatif perekonomian global. Sepanjang satu tahun terakhir, saham Bumi Resources telah merosot 57,6 persen dan Bumi Resources Minerals menurun sebesar 36 persen.

Dengan kondisi seperti itu, wajar bila sebelumnya Nirwan D Bakrie, CEO Bakrie Group mengemukakan tidak berminat membeli sisa saham Newmont.

Infografik Lainnya