Recksan Salur, KPMD Matutuang: Baru Saya yang Hilang Lima Hari

Oleh , 22/7/2013, 00.00 WIB

Kami hanya pasrahberdoa memuji TuhanSaat itu hujan hanya rintikrintik kecil tertiup anginWadah pemapung air pun tak adasehingga kami tak bisa minumTapi akhirnya kami selamatIni berkat campur tangan Tuhan

Share

KATADATA ? ?Kami hanya pasrah,

berdoa memuji Tuhan.

Saat itu hujan hanya rintik-rintik kecil, tertiup angin,

Wadah pemapung air pun tak ada,

sehingga kami tak bisa minum.

Tapi akhirnya kami selamat.

Ini berkat campur tangan Tuhan.?

Peristiwa nahas tiga tahun lalu itu masih lekat dalam ingatannya. Recksan Salur terapung di laut lepas lima hari lima malam, setelah perahu yang ia tumpangi bersama seorang rekannya, Karce Salensehe, terbalik digulung ombak dalam perjalanan dari pulau Matutuang menuju Marore di ujung utara Sulawesi.

Nyawa keduanya nyaris melayang. ?Kami terseret arus hingga mendekati Tarakan,? ujarnya. Untuk memulihkan kulit-kulitnya yang mengelupas terbakar matahari, ia harus mondok dua pekan di rumah sakit.

Recksan adalah salah satu penggerak Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Perdesaan Mandiri. Terlahir di Filipina pada 13 Desember 1986, lelaki yang lebih fasih berbicara Tagalog, bahasa rakyat Filipina, ini ditunjuk menjadi Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD) di Pulau Matutuang, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara.

Meski medan yang dihadapinya di wilayah perbatasan Indonesia ini terbilang sulit, ia rajin menyosialisasikan program nasional pemberantasan kemiskinan ini. Tak jarang ia bahkan harus merogoh kocek sendiri untuk biaya transportasi antar pulau.?Saya bertanggung jawab pada masyarakat,? tuturnya.

Apa saja tantangan yang dihadapinya, Recksan berbicang singkat melalui telepon dengan Nur Farida Ahniar dari Katadata. Untuk melayani wawancara ini, ia rela menempuh perjalanan enam jam dengan kapal perintis ke ibu kota Sangihe, kota Tahuna.

Bagaimana awalnya menjadi Kader di Pulau Matutuang?
PNPM masuk ke kampung Matutuang pada 2009. Awalnya saya tak tahu itu program apa. Aparat di Kecamatan Kepulauan Marore mengadakan rapat di kampung. Mereka melakukan sosialisasi apa itu PNPM. Dalam rapat itu dilakukan pemilihan siapa pelaku desa yang akan menjadi KPMD. Saya dan Karce Salensehe terpilih.

Adakah kesulitan yang dihadapi?
Saya tidak memiliki pengalaman, terutama mengadakan pertemuan. Saya dilahirkan dengan latar belakang Filipina (Meski berstatus WNI, 75 persen penduduk Matutuang berasal dari Filipina). Saya lebih menguasai bahasa Filipina. Bapak saya orang Sangihe, ibu saya campuran Filipina-Indonesia. Saya lahir dan mengenyam sekolah dasar di Filipina.

Tapi, berhasil Anda lalui?
Di masa-masa awal menjadi KPMD cukup sulit. Namun, dengan keberanian, akhirnya saya mampu memimpin pertemuan-pertemuan di desa dan memfasilitasi masyarakat yang belum mengerti program tersebut. Datang ke rumah penduduk, ikut berkoordinasi ke Kecamatan Marore. Program ini bagus karena dampaknya langsung kepada masyarakat. Program dan dana yang dibutuhkan sesuai dengan usulan masyarakat.

Apa tantangan yang dihadapi dalam menjalankan tugas di daerah kepulauan yang terletak di perbatasan?
Menyiapkan dokumen sangat sulit. Karena kami tinggal di daerah ekstrem, tak ada alat komunikasi atau sinyal telpon. Dari segi jarak juga jauh, harus menggunakan kapal nelayan untuk menyerahkan dokumen ke kecamatan. Pada 2009-2010 semangat saya masih menyala-nyala. Mengantar dokumen dengan biaya sendiri, karena saya tak tahu masalah dana operasional. Padahal, untuk pulang pergi saya harus membeli solar untuk perahu sebanyak 25 liter. Saya menganggap itu sebagai partisipasi. Saya bertanggung jawab demi masyarakat. Terlebih di Matutuang, kebanyakan warga di sana merupakan keluarga sendiri.

Sebagai KPMD berapa honor yang Anda terima?
Yang saya tahu, honornya pada 2009-2010 hanya Rp100 ribu per bulan. Pada 2012 naik menjadi Rp 200 ribu. Tetapi tahun 2013 ini honornya tidak cair sejak enam bulan lalu. Tahun ini saya belum menerima apa-apa. (Macetnya pembayaran gaji juga pernah dialami fasilitator PNPM di Indonesia).

Bagaimana suka duka menjadi KPMD di Pulau Matutuang?
Transportasi dan komunikasi sangat sulit. Ketika harus ada sesuatu yang dikerjakan dari kecamatan, kami cuma dikirim nota yang dititipkan perahu nelayan. Kami harus menghadapi masyarakat dengan pendidikan yang rendah, perlunya adaptasi bahasa, dan pindahan dari Filipina menjadi tantangan tersendiri. Kami sangat memerlukan jaringan komunikasi untuk mengurangi risiko. Sebab, mayoritas penduduk Matutuang merupakan nelayan. Jadi, jika terjadi apa-apa bisa cepat diketahui. Alat transportasi juga sangat diperlukan karena kapal perintis datangnya dua minggu sekali. Jadwalnya juga tidak pasti, tergantung dari kabupaten.

Program apa saja yang dikerjakan di Matutuang melalui PNPM?
Selama PNPM hadir 2009-2012, telah dibangun talud pantai sepanjang 420 meter. Dari pembangunan jalan dengan target 1.100 meter, yang sudah direalisasikan mencapai 980 meter. Program lainnya yaitu pengadaan mesin diesel dan instalasi listrik berkapasitas 22,5 KVA. Kami juga membangun 18 unit MCK, sumur bor tiga unit sekaligus, membuat 3 kamar mandi, beserta drainase sepanjang 417 meter.

Bagaimana kehidupan di Matutuang?
Kehidupan di daerah ini bisa dibilang susah, tetapi kami jalani saja. Dulu ketika belum ada kapal perintis, ketika nelayan tak bisa melaut, kami hanya bisa makan kelapa muda. Adanya kapal perintis sangat membantu membeli bahan makanan dan barang-barang lain. Di sana tak ada buah-buahan. Hanya kelapa saja, karena kontur tanah tak subur.

Apa bedanya tinggal di Filipina dibanding di Pulau Matutuang, Sangihe?

Sangat jauh berbeda. Untuk masalah lapangan kerja, di Matutuang lebih banyak. Penduduknya sedikit, sehingga masih bisa menjadi nelayan. Berbeda halnya dengan di Filipina. Di sana harus bekerja sekuat tenaga, tak ada subsidi, dan harus bekerja sendiri.  Saya ke Indonesia ketika hendak mendaftar SMP tahun 2000 di Tahuna, ibukota kabupaten Sangihe. Karena tak mengerti bahasa Sangihe, saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris yang mudah.  Sayangnya ketika hendak ujian kelulusan, ijazah SD saya tak diterima dengan alasan format yang berbeda. Padahal, saya sudah tiga tahun mengenyam pendidikan SMP di Tahuna. Saya tak boleh ikut ujian, dan tak bisa melanjutkan jenjang pendidikan SMA.

Ketika Anda terapung-apung di laut, apakah warga menyadarinya?
Warga baru mengetahui kami hilang satu hari kemudian. Ketika itu ada pemberitahuan dari Kecamatan Marore bahwa rakor ditunda menjadi Senin karena cuaca buruk. Padahal, saya sudah berangkat hari Sabtu. Dari situ warga panik. Minggu sore masyarakat baru mencari (saya dan Karce), termasuk orang tua saya dan suami Karce.

Kabarnya nelayan hilang merupakan sesuatu yang umum?
Kalau nelayan hilang sudah biasa. Tetapi biasanya dua hari sudah ditemukan. Baru saya yang hilang hingga lima hari.

Infografik Lainnya