Riset Rusia: Vaksin Sputnik V Efektif Lawan Covid-19 Varian Omicron

Image title
Oleh Lavinda
18 Desember 2021, 14:25
Sputnik, Omicron
ANTARA FOTO/REUTERS/Manaure Quintero/WSJ/dj
Pekerja berhati-hati memindahkan vaksin Sputnik V milik Rusia untuk melawan penyakit virus corona (COVID-19) di bandara, di Karakas, Venezuela, Senin (29/3/2021).Manaure Quintero/WSJ/

Vaksin Sputnik V asal Rusia dianggap lebih tangguh dalam menetralkan virus Covid-19 varian Omicron dibandingkan vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna.

Hasil studi yang dilakukan The Gamaleya Center bersama The Russian Direct Investment Fund (RDIF) menunjukkan, Sputnik V hanya berkurang tiga hingga tujuh kali dalam aktivitas menetralkan virus Omicron dibanding Pfizer-BioNTech, yang berkurang 41 kali, dan Moderna 49-84 kali.

“Sejauh ini, Sputnik V menunjukkan hasil terbaik dalam menetralisasi virus Omicron jika dibandingkan dengan vaksin lain,” kata Presiden Direktur RDIF Kirill Dmitriev dalam konferensi pers virtual dikutip Antara, Sabtu (18/11).

Penelitian dilakukan menggunakan serum dengan periode sekitar enam bulan setelah vaksinasi. Indikator perlindungan Sputnik V lebih lama dibanding periode vaksin lain yang lebih singkat, yakni Pfizer-BioNTech 12-27 hari dan Moderna 28 hari.

Selain itu, Sputnik V memunculkan respons sel T yang kuat dan tahan lama, dan karena 80% epitop dalam lonjakan protein tidak terpengaruh oleh mutasi pada varian Omicron. Karena itu, Sputnik V diharapkan memberikan perlindungan jangka panjang terhadap penyakit yang disebabkan Omicron.

Menurut penelitian, kekebalan sel T yang tahan lama dari Sputnik V juga berkontribusi pada kemanjuran 80% terhadap Delta pada bulan ke-6 hingga ke-8 dibanding efikasi vaksin mRNA tertentu, yang kurang dari 29 persen yang setelah enam bulan.

“Hasil ini membawa kabar gembira untuk dunia bahwa Sputnik V dapat berkontribusi dalam melawan varian Omicron,” ujar Dmitriev.

Penelitian Swedia di jurnal The Lancet menunjukkan efikasi vaksin Pfizer dalam melawan varian Delta menurun 47% setelah empat bulan, 29% setelah enam bulan, dan 23% setelah tujuh bulan.

Sementara itu, penelitian di Amerika Serikat terhadap penduduk kelompok usia 65 tahun juga menunjukkan penurunan dalam efektivitas vaksin mRNA dalam melawan varian Delta setelah bulan ke-4 dan terus menurun 20% setelah bulan ke-5 dan ke-7.

Reporter: Antara
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait