Tak Lagi Diblokir AS, Pengembang TikTok Sasar Segmen Korporasi

Image title
11 Juni 2021, 07:39
Pengembang aplikasi TikTok, ByteDance meluncurkan merek Volcano Engine yang menyasar segmen korporasi. Upaya perusahaan itu dilakukan setelah TikTok resmi tidak lagi diblokir Amerika Serikat (AS).
123RF.com/Alexey Malkin
Ilustrasi aplikasi video musik pendek TikTok

Pengembang aplikasi TikTok, ByteDance meluncurkan merek Volcano Engine yang menyasar segmen korporasi. Upaya perusahaan itu dilakukan setelah TikTok resmi tidak lagi diblokir Amerika Serikat (AS).

Dalam sebuah pernyataan dikutip dari Reuters, Manajemen ByteDance mengatakan, Volcano Engine menawarkan teknologi yang ditujukan untuk membantu klien memperkuat rekomendasi dan personalisasi. Tujuannya, agar keterikatan (engagement) korporasi semakin meningkat.

Perusahaan akan mendapatkan algoritme rekomendasi, analisis data, dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Algoritme ini dianggap sebagai poin rahasia di balik kesuksesan ByteDance mengembangkan TikTok.

Volcano Engine memang telah beroperasi selama satu tahun. Layanan ini telah menggaet klien korporat besar, seperti perusahaan e-commerce JD.com, produsen ponsel pinta atau smartphone, Vivo dan produsen mobil Geely.

Perusahaan menyasar segmen korporasi karena sebagian besar pendapatan ByteDance selama ini didapat dari produk konsumennya, yakni TikTok dan aplikasi pengumpulan berita Jinri Toutiao. "ByteDance telah berusaha untuk membuat terobosan ke area baru," dikutip dari Reuters pada Kamis (10/6).

Selain menyasar segmen korporasi, perusahaan asal Tiongkok ini juga berencana menambahkan layanan komputasi awan (cloud). Sektor tersebut sudah sangat kompetitif saat ini. Di pasar Tiongkok, pasar cloud juga sudah dikuasai oleh raksasa e-commerce Alibaba.

Data IDC mencatat, Alibaba Cloud merupakan penyedia layanan cloud publik terbesar di Tiongkok. Hal tersebut diukur dari pangsa pasar Infrastructure as a Service (IaaS) dan Platform as a Service (PaaS) kuartal I tahun ini.

Upaya ByteDance gencar menyasar segmen korporasi juga dilakukan seiring dengan lepasnya perusahaan dari tekanan AS. Presiden AS Joe Biden, Rabu kemarin (9/6), mencabut perintah eksekutif terkait pemblokiran TikTok oleh mantan Presiden AS Donald Trump.

Mengutip The Verge, alih-alih memblokir Tiktok, Biden memilih untuk mengatasi risiko keamanan TikTok dengan mengidentifikasi aplikasi dan mempromosikan internet yang terbuka. "Pemerintah berkomitmen untuk mempromosikan internet yang terbuka, dapat dioperasikan, andal, dan aman untuk mendukung ekonomi digital global,” kata seorang pejabat senior pemerintah pada Rabu (9/6).

Padahal, TikTok sempat ditekan oleh AS dan diminta untuk menjual sebagian sahamnya kepada perusahaan di Negeri Paman Sam.

Mantan Presiden AS Donald Trump memberikan batasan waktu kepada ByteDance untuk menjual operasional TikTok di AS. ByteDance sempat berencana membentuk TikTok Global untuk operasional di AS. Perusahaan asal AS, Oracle rencananya mempunyai 12,5% dan Walmart 7,5% saham.

Setelah Joe Biden memimpin AS, ByteDance membatalkan kesepakatan dengan Oracle dan Wallmart. "Trump telah pergi. Alasan kesepakatan itu hilang bersamanya," kata sumber yang mengetahui masalah ini, dikutip Business Insider, Februari lalu (15/2).

 

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait