Usai Kalahkan Apple, Xiaomi Hapus Merek Ponsel Premium Mi

Xiaomi pertama kali mengenalkan merek Mi dalam produk ponselnya pada 2011 yang bisa diartikan sebagai 'mobile internet' atau ' mission impossible'.
Image title
25 Agustus 2021, 09:42
Xiaomi, Apple, Gadget
Metta Dharmasaputra, Katadata.
Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun, ketika berkunjung ke Xiaomi Campus di kawasan Xi'erqi, distrik Haidian, Tiongkok, Senin (18/11/2019).

Produsen ponsel pintar (smartphone) asal Tiongkok, Xiaomi secara resmi menghapus merek ponsel premium mereka Mi mulai kuartal III 2021. Langkah itu dilakukan untuk mempermudah branding, seiring posisi Xiaomi yang berhasil menjadi produsen ponsel papan atas, mengalahkan Apple.

Juru bicara Xiaomi mengatakan, setelah menghapus merek Mi, produk-produk ponsel premium akan diganti namanya menjadi Xiaomi. Misalnya, setelah meluncurkan Mix 4, Xiaomi tidak akan lagi memasang nama Mi Mix 4 pada produk premium itu, tapi Xiaomi Mix 4.

Tidak hanya ponsel, tetapi berbagai produk elektronik lain seperti TV, laptop, hingga kulkas juga tidak ada lagi yang akan memakai nama Mi. Juru bicara Xiaomi mengatakan upaya Xiaomi mengganti nama Mi merupakan langkah strategis.

"Perubahan ini akan menyatukan kehadiran merek global kami dan menutup kesenjangan persepsi antara merek serta produknya," katanya dikutip dari XDA Developer pada Selasa (24/8).

Advertisement

Xiaomi mengatakan, dengan penyederhanaan branding itu, perusahaan akan menyatukan dua merek dalam satu induk. Produk Xiaomi merupakan produk teknologi berkelas premium, sedangkan Redmi merupakan produk dengan harga yang lebih terjangkau dan ditujukan untuk audiens yang lebih muda. 

Diketahui, Xiaomi pertama kali mengenalkan merek Mi dalam produk ponselnya pada 2011. Pendiri Xiaomi Lei Jun mengatakan bahwa Mi merupakan singkatan dari "mobile internet" dan "mission impossible". Artinya, Xiaomi sebagai perusahaan mobile internet yang ingin meraih pencapaian mustahil.

Kala itu, Xiaomi meluncurkan secara global produk ponsel premium Mi 1. Smartphone ini mengemas spesifikasi tinggi, seperti cip (chipset) Qualcomm Snapdragon S3 dual-core, RAM 1 GB, dan resolusi 854x480 4 inci. Setelahnya menyusul Mi 2, Mi 3, hingga terbaru Xiaomi Mi 11 yang juga masuk pasar Indonesia.

Di sisi lain, strategi branding dilakukan seiring dengan mulai masuknya Xiaomi ke dalam jajaran produsen ponsel papan atas. Bahkan Xiaomi berhasil mengalahkan Apple secara global.

Canalys mencatat bahwa Xiaomi menggeser posisi Apple dengan penjualan smartphone terbanyak kedua di dunia pada kuartal dua. Perusahaan Tiongkok ini mencatatkan peningkatan penjualan 83% yoy, sementara Appe hanya 1%.

Alhasil, pangsa pasar Xiaomi mencapai 17% secara global dan melampaui Apple 14%. Posisi pertama masih ditempati oleh Samsung dengan 19%.

Canalys mengungkapkan setidaknya empat strategi Xiaomi untuk mendongkrak penjualan. Pertama, mempercepat ekspansi ke luar negeri. Di AS misalnya, pengiriman ponsel Xiaomi naik 300% yoy. Di Eropa Barat meningkat 50%.

"Xiaomi mengembangkan bisnis luar negeri dengan cepat," kata manajer riset Canalys Ben Stanton dikutip dari CNBC Internasional, pada Juli (16/7).

Kedua, menggenjot produksi dan meluncurkan banyak produk baru. Asia Nikkei Review melaporkan, Xiaomi memesan komponen dan suku cadang hingga 240 juta unit kepada pemasok. 

Jumlah tersebut jauh melebihi pesanan tahun lalu. Oleh karena itu, pengiriman ponsel Xiaomi sudah diprediksi akan melampaui tingkat rata-rata pengiriman tahunan iPhone.

Ketiga, mempertahankan strategi ponsel murah. Canalys mencatat, harga jual rerata ponsel Xiaomi lebih murah 40% dibandingkan Samsung dan 75% daripada Apple.

Terakhir, Xiaomi mengatasi masalah kelangkaan pasokan komponen, terutama cip (chipset). Salah satunya, meningkatkan investasi pengembangan cip guna mengurangi ketergantungan terhadap ekosistem teknologi AS.

Reporter: Fahmi Ahmad Burhan
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait