Suryo Eko Ditunjuk Jadi Bos Baru PTBA

PTBA juga membagikan dividen sebesar Rp 835 miliar atau 35% dari total laba bersih perseroan tahun 2020 sebesar Rp 2,4 triliun.
Image title
5 April 2021, 15:40
PT Bukit Asam Tbk atau PTBA ganti direktur utama dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST)
www.ptba.co.id
Bukit Asam (www.ptba.co.id)

Pemegang saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sepakat mengesahkan Suryo Eko Hadianto sebagai Direktur utama PTBA, menggantikan Arfiyan Arifin yang telah habis masa jabatannya. Sebelumnya, Suryo Eko Hadianto menduduki jabatan sebagai Direktur Transformasi Bisnis PT Inalum atau MIND-ID.

Keputusan itu disetujui para investor dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang berlangsung Senin (5/4) hari ini. Selain PTBA ganti direktur utama, rapat ini juga menyetujui perombakan jabatan tiga direksi PTBA lain. 

Ketiga direksi lain yang juga mengalami pergantian jabatan yakni, Joko Pramono sebagai Direktur sumber daya manusia yang digantikan oleh Dwi Fatan Lilyana. Kemudian  Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Mega Satria yang digantikan Farida Thamrin. Lalu Direktur Operasi dan Produksi Hadis Surya Palapa digantikan oleh Suhedi. Sementara itu, posisi direktur pengembangan usaha masih ditempati oleh Fuad Iskandar.

Dalam kesempatan tersebut, Suryo Eko mengatakan akan melanjutkan apa yang sudah ditetapkan direksi sebelumnya. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh jajaran direksi, supaya kompak, satu visi  menuju PTBA yang lebih baik kedepannya. Mengingat perusahaan ini memiliki potensi besar untuk dapat dikembangkan.

Meski demikian, ia mengimbau agar seluruh jajaran direksi maupun pekerja PTBA dapat tetap menjaga integritas dalam bekerja. Pasalnya tanpa integritas, semua akan rusak. "Tidak ada toleransi bagi integritas negatif. Kalau positif semua, PTBA akan segera lari," kata dia dalam konferensi pers secara virtual, Senin (5/4).



Dalam RUPST tersebut, PTBA juga membagikan dividen sebesar Rp 835 miliar. Jumlah dividen tunai yang dibagikan ini merupakan 35% dari total laba bersih perusahaan tahun 2020 sebesar Rp 2,4 triliun.

Aset perusahaan tercatat masih kuat berada di angka Rp 24,1 triliun, dengan komposisi kas setara kas dan deposito berjangka di atas 3 bulan sebesar Rp 5,5 triliun atau 23% dari total aset.

Berdasarkan kinerja operasional, perseroan menargetkan kenaikan volume produksi batu bara dari 24,8 juta ton pada 2020 menjadi 29,5 juta ton pada 2021. Perseroan juga menargetkan kenaikan penjualan batu bara dari 26,1 juta ton pada 2020 menjadi 30,7 juta ton pada 2021.

Reporter: Verda Nano Setiawan
Editor: Lavinda
Video Pilihan

Artikel Terkait