Kapitalisasi Pasar Modal Syariah Tumbuh 28%, Literasinya Masih Rendah

Nilai kapitalisasi pasar modal syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat 28,62% dalam lima tahun menjadi Rp 3.344 triliun pada 2020.
Image title
6 April 2021, 13:30
pasar modal syariah, Gedung OJK
Donang Wahyu|KATADATA
OJK menilai literasi keuangan dan pasar modal syariah masih rendah.

Pasar modal syariah dinilai terus berkembang dalam lima tahun terakhir, baik dari sisi jumlah produk, investor, maupun nilai kapitalisasi pasarnya. Namun, salah satu tantangan yang dihadapi untuk perkembangan industri halal Tanah Air adalah literasi yang masih rendah.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan nilai kapitalisasi pasar saham-saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat 28,62% dalam lima tahun menjadi Rp 3.344 triliun pada 2020. Produk reksa dana syariah melonjak hingga 574% menjadi Rp 74,37 triliun pada 2020.

Dari penerbitan sukuk korporasi, OJK mencatat adanya peningkatan lebih dari 200% selama 5 tahun menjadi Rp 30,35% pada akhir tahun lalu. Lalu, sukuk yang diterbitkan oleh negara juga mengalami peningkatan sebesar 226% sepanjang periode tersebut menjadi Rp 74,37 triliun pada 2020.

Dari sisi jumlah investor, jumlah pelaku pasar yang tercatat dalam sharia online trading system (SOTS) meningkat hingga 1.650% menjadi sebanyak 85.891 investor. Peningkatan juga terjadi pada jumlah investor reksa dana syariah sebesar 665% menjadi sebanyak 483.440 dalam kurun waktu lima tahun terakhir.

Kendati demikian, Deputi Komisioner Bidang Pasar Modal OJK Justini Septiana mengatakan literasi keuangan syariah oleh masyarakat di Indonesia memang masih sangat rendah. Hal ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi untuk terus memaksimalkan potensi industri halal dalam negeri.

Berdasarkan data OJK, tingkat inklusi keuangan syariah masyarakat Indonesia hanya sebesar 9,1%, sedangkan tingkat literasinya hanya 8,93%. Angka itu jauh di bawah tingkat inklusi keuangan konvensional yang sebesar 76,19% dan tingkat literasi 38,03%.

Selain itu, keuangan syariah belum sepenuhnya terintegrasi dengan ekosistem industri halal. Hal ini mempengaruhi peningkatan market share keuangan syariah yang terbatas.

"Dimana di Januari 2021, masih sebesar 10% dari aset industri keuangan nasional," kata Justini menambahkan.

Padahal, menurut Justini, potensi industri syariah di Indonesia sangat besar, yang terlihat pada nilai perdagangan industri halal pada 2020 yang mencapai US$ 3 miliar dengan tren yang meningkat.

Direktur Pasar Modal Syariah OJK, Fadilah Kartikasasi mengatakan regulasi yang sudah diterbitkan oleh OJK selama ini sudah lengkap, terutama regulasi untuk produk-produk syariah. Seperti regulasi terkait saham syariah, reksa dana syariah, sukuk, bahkan efek beragunan aset (EBA) dan dana investasi real estat (DIRE) syariah.

"Tapi kita tahu, karena beberapa hal di pasar, yang baru ada hanya reksa dana syariah, sukuk, dan saham syariah. EBA dan DIRE, kami masih mendorong pelaku pasar untuk menerbitkan," kata Fadilah dalam diskusi yang dilaksanakan secara virtual, Selasa (6/4).

Fadilah juga mengatakan perkembangan industri pasar modal syariah juga tercermin dari terdapatkan pelaku industri yang terjun ke industri halal ini,  seperti penjamin emisi sukuk, wali amanat, maupun bank kustodian. "Di mana pada lima tahun lalu masih sedikit, bahkan tidak ada," katanya.

Per akhir Maret 2021, OJK mencatat terdapat 14 platform sharia online trading system. Lalu, terdapat 60 manajer investasi pengelola reksa dana syariah, dimana ada 15 bank kustodian yang terjun menangani reksa dana ini.

Catatan lainnya, terdapat 26 penjamin emisi sukuk yang ada di Tanah Air, 13 pihak penerbit daftar efek syariah, dan 113 ahli syariah pasar modal. "Angkanya begitu meningkat signifikan, banyak pelaku pasar yang terlibat industri pasar modal syariah," katanya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan BEI Hasan Fawzi mengatakan jumlah emiten yang sahamnya masuk dalam golongan syariah meningkat hingga 31% dalam lima tahun terakhir, dimana per Maret 2021 jumlahnya mencapai 434 emiten.

"Angka ini proporsinya mencapai 60% dari total 724 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia," kata Hasan menambahkan.

Peningkatan tersebut salah satunya disebabkan emiten yang baru masuk ke Bursa melalui initial public offering (IPO), tercatat sebagai saham syariah. Sepanjang 2021, sudah ada 11 IPO, dimana semuanya masuk ke saham syariah. Tahun lalu, ada 51 IPO, dimana 57% di antaranya merupakan saham syariah.

Melihat tren pertumbuhan ini, pihak BEI sangat optimis pasar modal syariah terus bertumbuh. "Karena didukung juga dengan keseriusan pemerintah dan regulator dalam memajukan ekonomi syariah dan membangun ekosistem industri halal," kata Hasan.

 

CEO Ajaib group Anderson Sumarli mengatakan, antusiasme pelaku industri terhadap produk-produk pasar modal syariah sangat tinggi. Di platform Ajaib, saham yang paling populer saat ini adalah PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dan PT BTPN Syariah Tbk (BTPS). Sedangkan, produk reksa dana yang populer adalah Trimegah Syariah Saham.

Ia mengatakan, antusias yang tinggi tersebut perlu dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat dari seluruh stakeholder terkait yang saling bekerja sama. "Mesti dipastikan, mereka (masyarakat) melek ada yang namanya pasar modal syariah," kata Anderson.

Ia mengatakan, sampai saat ini, pertanyaan yang sering muncul dari masyarakat adalah, apakah ada produk saham yang halal atau produk reksa dana yang halal? "Ini gampang untuk bisa dijawab, tapi mesti ada edukasi dengan baik," kata Anderson.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
Video Pilihan

Artikel Terkait