Bank Harda Jual Saham Baru Pasca-Dicaplok CT, Harga Sahamnya Anjlok

Bank Harda berniat menerbitkan saham baru atau rights issue sebanyak 7,5 miliar saham atau 64,19% dari total modal.
Image title
6 April 2021, 16:17
Ilustrasi transaksi PT Bank Harda.
ANTARA FOTO/Kornelis Kaha/foc.
Ilustrasi transaksi PT Bank Harda.

PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI) berencana menerbitkan saham baru dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) alias rights issue usai dicaplok pebisnis Chairul Tanjung melalui PT Mega Corpora. Tujuannya, untuk mendukung pemenuhan modal inti sesuai peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam prospektus yang diunggah melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah saham baru rencananya diterbitkan sebanyak 7,5 miliar unit atau setara 64,19% dari modal setelah rights issue. Nilai nominal saham baru tersebut Rp 100 per saham, meski begitu, perusahaan belum menentukan harga pelaksanaannya.

Bank Harda berencana menggunakan dana hasil rights issue ini untuk memenuhi ketentuan permodalan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, untuk memperkuat struktur permodalan dalam pengembangan usaha, termasuk pengembangan kredit konvensional maupun digital.

"Pemegang saham yang tidak melaksanakan rights issue akan terkena dilusi kepemilikan maksimal sebesar 16,88% dari persentase kepemilikan saham," seperti dikutip dari prospektus Bank Harda pada Selasa (6/4).

Saat ini, mayoritas saham Bank Harda dimiliki oleh Mega Corpora sebanyak 3,08 miliar unit saham atau setara 73,71%. Sedangkan 1,09 miliar unit saham atau setara 26,29% dimiliki oleh masyarakat dengan kepemilikan di bawah 5%.

Dengan asumsi saham baru tersebut diambil alih seluruhnya oleh Mega Korpora, maka kepemilikannya menjadi 10,58 miliar unit saham atau setara 90,59%. Sedangkan persentase kepemilikan masyarakat turun menjadi 9,41% dengan jumlah unit saham yang tidak berubah.

Pelaksanaan rights issue ini dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang rencananya digelar 7 Mei 2021. Dengan demikian, pelaksanaan aksi korporasi ini berlaku paling lambat 12 bulan setelah RUPS.

Berdasarkan laporan keuangan 2020, modal inti tier 1 Bank Harda senilai Rp 299,7 miliar, masih di bawah ketentuan OJK Rp 1 triliun. OJK pun menargetkan, modal inti bank per akhir 2021 minimal senilai Rp 2 triliun.

Dengan asumsi harga rata-rata saham Bank Harda pada periode 8 Maret 2021 sampai 31 Maret 2021 yang senilai Rp 1.613 per saham, lalu dikalikan dengan jumlah saham baru sebanyak 7,5 miliar, maka ada potensi Bank Harda mampu mendapatkan dana segar senilai Rp 12,09 triliun. Meski begitu, harga pelaksanaan rights issue ini belum ditentukan oleh perusahaan.

Setelah prospektus perseroan disampaikan kepada publik pada 31 Maret 2021, harga saham Bank Harda malah ditutup turun dalam tiga hari berturut-turut.

Pada 1 April 2021, harga saham Bank Harda anjlok hingga 6,7% menyentuh harga Rp 1.045 per saham. Penurunan harga terjadi lagi pada 5 April 2021 sebesar 6,7%, dimana harganya menjadi Rp 975 per saham. Sehari setelahnya, saham ini kembali turun 4,62% menjadi Rp 930 per saham.

Kepala Riset Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, respons negatif pelaku pasar tersebut disebabkan oleh jumlah saham baru yang diterbitkan cukup besar. Jika hak investor tidak ditebus, akan terkena dilusi kepemilikan saham sebesar 16,88% dari persentase kepemilikan saat ini.

"Sehingga berpotensi terjadinya dilusi pada investor yang tidak menebus rights tersebut," kata Lanjar.

Meski begitu, langkah rights issue yang dilakukan oleh Bank Harda bisa memberikan efek positif pada bisnis perusahaan. Pasalnya, dana tersebut digunakan untuk pengembangan kredit perusahaan.

"Bank Harda setelah resmi menjadi bagian dari CT Corp memiliki target ke depan yang cukup menarik, dimana bank ini akan dijadikan bank digital," kata Lanjar kepada Katadata.co.id, Selasa (6/4).

Secara fundamental, Lanjar menilai saham Bank Harda masih cukup menarik saat ini. Pasalnya, harga saham terhadap nilai buku alias price to book value (PBV) Bank Harda masih di bawah saham bank yang berpotensi menjadi bank digital, seperti PT Bank Jago Tbk (ARTO).

Berdasarkan data RTI Infokom, PBV Bank Harda sebesar 11,21 kali, sedangkan Bank Jago mencapai 88,76 kali. "Secara fundamental, PBV masih di bawah rata-rata saham potensi bank digital. Di harga saat ini, cukup menarik. Rekomendasinya, buy on weakness," kata Lanjar.

Di lain pihak, analis Kiwoom Sekuritas Sukarno Alatas mengatakan, PBV Bank Harda saat ini tergolong tinggi. Jika dibandingkan dengan Bank Jago, memang jauh lebih rendah. Tapi, dengan bank sejenis yang berencana melakukan transformasi digital, PBV Bank Harda termasuk tinggi.

"Di harga saham Bank Harda sekarang pun, harganya masih dinilai tinggi jika dibandingkan dengan saham sejenis," kata Sukarno kepada Katadata.co.id, Selasa (6/4).

Seperti PBV PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO) dengan rasio 5,41 kali. Begitu juga PBV PT Bank Bumi Arta Tbk (BNBA) yang sebesar 2,04 kali atau PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) sebesar 1,96 kali. Termasuk saham PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) dengan PBV 2,21 kali dan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) sebesar 2,87 kali.

Harga saham Bank Harda dan beberapa saham bank kecil lainnya memang sempat mengalami kenaikan signifikan pada medio Februari 2021. Namun, karena kenaikan signifikan tersebut, harganya mulai rontok pada Maret 2021.

Oleh karena harga saham Bank Harda saat ini yang relatif tinggi, menjadi wajar jika harga sahamnya dalam beberapa waktu terakhir mengalami koreksi.

"Pelaku pasar bisa jadi switching ke saham yang lebih murah dibandingkan Bank Harda atau faktor lainnya karena pelaku pasar melakukan penjualan untuk meminimalisasi penurunan yang lebih dalam," ujar Sukarno.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
Video Pilihan

Artikel Terkait