Anggarkan Capex Rp 2,84 T pada 2021, Antam Kebut Proyek Smelter

Antam akan menyelesaikan pembangunan beberapa smelter, termasuk smelter feronikel di Halmahera Timur dan proyek smelter grade alumina bekerja sama dengan Inalum.
Image title
Oleh Ihya Ulum Aldin
7 April 2021, 15:00
Anggarkan Capex Rp 2,84 T pada 2021, Antam Kebut Proyek Smelter.
ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/rwa.
Pramuniaga menunjukkan emas batangan PT. Aneka Tambang (Antam) di sebuah gerai emas, Malang, Jawa Timur, Selasa (5/1/2021).

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) mencapai Rp 2,84 triliun untuk 2021. Dana itu digunakan untuk pengembangan yang bersifat rutin, pengembangan usaha dalam bentuk proyek-proyek, dan keperluan lainnya.

"Dana yang terbesar untuk pengembangan usaha dalam bentuk proyek," kata SVP Corporate Secretary Antam Kunto Hendrapawoko dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (7/4). Meski begitu, Kunto tidak menyebutkan persentase capex untuk digunakan dalam pengembangan usaha tersebut.

Saat ini, Antam dalam proses penyelesaian beberapa pabrik, salah satunya smelter feronikel di Halmahera Timur. Antam juga memiliki kerja sama dengan induk usahanya, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) dalam proyek smelter grade alumina, serta proyek pengembangan lainnya yang sedang digodok untuk segera dikerjakan.

Kunto mengatakan, proyek pengembangan tahun ini memang fokus pada penyelesaian proyek smelter, utamanya smelter feronikel. "Untuk bisa berkontribusi kepada perusahaan di tengah outlook nikel yang makin positif ke depan," katanya.

Saat ini, proses pengerjaan proyek sudah mencapai 98% dan sudah dalam penyelesaian. Dengan beroperasinya pabrik berkapasitas 13.500 ton feronikel ini, maka diharapkan total produksi di portofolio Antam meningkat menjadi 40.500 ton. Pasalnya, saat ini produksi feronikel Antam sebesar 27.000 ton.

Terkait dengan rencana capex 2021, selain didanai dari kas internal, Antam juga menjajaki sumber eksternal. Sayangnya, Kunto tidak memberikan keterangan lebih lanjut, apakah pendanaannya melalui pinjaman bank ataupun penerbitan surat utang alias obligasi.

"Tentunya yang akan dipilih adalah yang memberikan cost of fund yang paling kompetitif bagi perusahaan," kata Kunto.

Fokus Peningkatan Produksi dan Penjualan Bijih Nikel

Kunto menjelaskan, Antam memiliki beberapa fokus bisnis pada 2021, seperti ekspansi pengolahan mineral yang bersifat hilir, perluasan basis cadangan dan sumber daya, dan menjalin kemitraan untuk mengembangan produksi mineral olahan baru, termasuk fokus pada peningkatan bisnis inti Antam.

Tahun ini, Antam akan berupaya meningkatkan capaian kinerja produksi dan penjualan untuk semua komoditas inti. "Diantaranya yang sangat menonjol adalah peningkatan produksi dan penjualan dari produk bijih nikel," kata Kunto.

Antam menargetkan mampu memproduksi bijih nikel sebanyak 8,44 juta wet metric ton (wmt) pada 2021. Target ini naik hingga 77% dibandingkan realisasi produksi bijih nikel 2020 yang sebanyak 4,76 juta wmt.

Lalu, Antam menargetkan penjualan produk bijih nikel tahun ini mencapai 6,71 juta wmt yang artinya meningkat 133% dibanding realisasi penjualan 2020 yang sebanyak 3,3 juta wmt.

Target pertumbuhan produksi dan penjualan bijih nikel tahun ini seiring dengan meningkatnya kebutuhan bijih nikel di dalam negeri karena aktivitas smelter domestik meningkat. "Karena membaiknya industri dan harga komoditas," kata Kunto.

Kunto juga membeberkan target produksi dan penjualan Antam pada komoditas lainnya. Perusahaan milik negara tersebut menargetkan produksi feronikel sebanyak 26.000 ton dengan target penjualan 26.000 ton.

Antam juga menargetkan produksi bijih bauksit sebanyak 3 juta wmt dengan penjualan sebanyak 2,73 juta wmt yang mayoritas dijual ke Tiongkok. Sementara, target produksi emas tahun ini sebanyak 1,37 ton dengan target penjualan mencapai 18 ton.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
Video Pilihan

Artikel Terkait