Kenaikan Harga Saham Farmasi Diprediksi Hanya Jangka Pendek

Saham farmasi diprediksi hanya akan meningkat dalam jangka pendek. Sedangkan, untuk jangka menengah dan panjang, harganya berpotensi kembali turun.
Image title
23 Juni 2021, 10:00
Harga saham farmasi mengalami kenaikan signifikan dalam dua hari terakhir. Saham ini pernah menjadi primadona saat pandemi Covid-19, meski akhirnya kembali merosot.
123rf/lightwise
Ilustrasi industri farmasi

Harga saham sektor farmasi mengalami kenaikan signifikan dalam dua hari terakhir. Saham ini pernah menjadi primadona saat pandemi Covid-19, meski akhirnya kembali merosot.

Pada penutupan perdagangan Selasa (22/6), harga saham farmasi tercatat mengalami kenaikan tinggi di awal perdagangan. Namun, ditutup dengan kenaikan terbatas.

Saham PT Indofarma Tbk (INAF) pada perdagangan Rabu (23/6) dibuka naik Rp 2.790 dari level penutupan hari sebelumnya. Pada perdagangan kemarin, saham INAF bahkan sempat naik hingga 24% menyentuh harga Rp 3.200, meski akhirnya ditutup menguat 7,36% menjadi Rp 2.770.

Saham lainnya yang naik adalah PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Pada perdagangan selasa (22/6), harga saham KAEF sempat naik 19,93% menyentuh Rp 3.490, meski harus ditutup naik 4,47% di harga Rp 3.040. Sebelumnya, pada perdagangan Senin (21/6), harganya ditutup naik 24,89% menjadi Rp 2.910. 

Advertisement

Harga saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) pada perdagangan Selasa (22/6), sempat naik 2,36% sebelum ditutup turun hingga 4,05% di harga Rp 1.420. Sebelumnya, saham ditutup naik hingga 8,82% menjadi Rp 1.480.

Saham PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) juga sempat naik 4,17% menjadi Rp 1.250 pada awal perdagangan Selasa (22/6). Namun, harganya langsung anjlok dan ditutup turun 6,67% menjadi Rp 1.120. PYFA juga mengalami kenaikan hingga 25% menjadi Rp 1.200 pada perdagangan Senin (21/6). 

Saham PT Phapros Tbk (PEHA) juga sempat mengalami kenaikan hingga 24,65% menjadi Rp 1.415 per saham pada Senin. Pada hari berikutnya, harganya sempat naik 9,54% menjadi Rp 1.550. Namun, harganya langsung anjlok dan harus ditutup pada harga Rp 1.320 atau turun 6,71%.

Produsen alat kesehatan, PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA), juga mengalami kenaikan harga saham hingga 20,8% ke level Rp 2.120, namun ditutup naik hanya 0,28% menjadi Rp 1.760 pada Selasa (22/6). Sehari sebelumnya, harga saham naik hingga 24,91% menjadi Rp 1.755.

Direktur Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan kenaikan harga saham sektor farmasi dan alat kesehatan ada hubungannya dengan dorongan pemerintah soal produksi alat kesehatan dari dalam negeri dan kedatangan pasokan vaksin tambahan.

"Tentu menjadi katalis positif," kata Nico kepada Katadata.co.id, Rabu (23/6).

Meski begitu, Nico mengingatkan pelaku pasar, kenaikan signifikan saham-saham farmasi ini sifatnya hanya jangka pendek. Sedangkan, untuk jangka menengah dan panjang, harganya berpotensi kembali turun.

"Tetap saja ketika vaksin usai, pasti harganya akan balik lagi seperti semula. Ini cuma sementara, cuma angin saja," kata Nico.

Menurut Nico, kenaikan terbatas saham farmasi terjadi lantaran pelaku pasar berkaca pada penurunan signifikan saham farmasi beberapa waktu lalu. Maka itu, kali ini pelaku pasar tidak terjebak euforia dan lebih cepat merealisasikan keuntungannya.

"Saham yang kemarin nyangkut, sekarang lepas. Makanya kita mesti melihat momennya," kata Nico.

Saham Farmasi jadi Primadona Sepanjang Pandemi

Harga saham sektor farmasi sempat menjadi primadona sepanjang pandemi Covid-19, terlebih menjelang program vaksinasi yang dilakukan pemerintah. Namun, harga sahamnya justru anjlok setelah program vaksinasi dimulai pada 13 Januari 2021.

Analis Penyelia Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan penurunan harga saham farmasi memang wajar terjadi karena sebelumnya memang mengalami kenaikan signifikan. Karena kenaikan yang signifikan ini, membuat valuasi harga sahamnya tidak menarik lagi.

Agar valuasinya menarik dan sesuai dengan harga sahamnya, maka kinerja keuangan perusahaan harus juga bagus. "Pada akhirnya, emiten harus bisa menunjukkan kinerja keuangannya selaras dengan ekspektasi market," kata Janson kepada Katadata.co.id.

Saham Indofarma sebelumnya sempat menyentuh Rp 6.975 per saham, harga tertingginya selama pandemi Covid-19 pada 12 Januari 2021. Namun, harganya langsung anjlok hingga 58,85% menjadi Rp 2.870 pada penutupan 1 Februari 2021.

Sejak pandemi Covid-19, harga saham Kimia Farma menyentuh rekor tertingginya pada 12 Januari 2021 di harga Rp 6.975 per saham. Namun, harganya langsung anjlok 57,28% menjadi Rp 2.980 per saham pada 1 Februari 2021.

 Seperti lainya, saham IRRA tercatat berada di level tertingginya sepanjang pandemi pada 11 Januari 2021 di harga Rp 3.700 per saham. Namun, harganya langsung anjlok hingga 54,46% menjadi Rp 1.685 per saham pada 1 Februari 2021.

Berbeda dengan saham farmasi sebelumnya, pola pergerakan harga Kalbe Farma cenderung stabil selama pandemi Covid-19. Harga tertingginya tercatat pada Rp 1.760 pada 11 Januari 2021, namun hanya turun 16,76% Rp 1.465 pada 29 Januari 2021.

Puncak dari harga saham Pyridam Farma sepanjang pandemi Covid-19 terjadi pada 12 Januari 2021 di harga Rp 1.480 per saham. Namun, hanya dalam beberapa hari turun hingga 40,54% menjadi Rp 880 pada 25 Januari 2021.

Harga saham Phapros sempat menyentuh level tertingginya pada 12 Januari 2021 senilai Rp 2.640 per saham. Tapi, harganya langsung anjlok hingga 54,55% menyentuh harga Rp 1.200 per saham pada 29 Januari 2021.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait