Saling Silang Investasi, Emtek Suntik Dana Rp 5,5 T ke Grab Indonesia

Corporate Communication Head Emtek Beverly Gunawan menyatakan, transaksi yang dilakukan pada 30 Juni lalu itu membuat Emtek memiliki total 5,88% saham Grab Indonesia.
Image title
6 Juli 2021, 17:22
Beverly Gunawan, Corporate Communication Head Emtek menyampaikan, transaksi yang dilakukan pada 30 Juni 2021 itu membuat Emtek memiliki total 5,88% saham di Grab Indonesia.
Emtek, Grab
Logo Emtek dan Grab

PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) dan Grab Holdings Inc. makin mesra. Keduanya saling silang kepemilikan saham dengan nilai investasi mencapai triliunan rupiah.

Terbaru, emiten berkode saham EMTK ini membeli 3,2% saham PT Grab Teknologi Indonesia (Grab) dengan nilai transaksi Rp 3,08 triliun. Sebelum transaksi, Emtek ternyata sudah memiliki 244,57 ribu saham atau setara 2,68% saham Grab Indonesia.

Beverly Gunawan, Corporate Communication Head Elang Mahkota Teknologi menyatakan, transaksi yang dilakukan pada 30 Juni 2021 itu membuat Emtek memiliki total 5,88% saham di Grab Indonesia.

"Emtek telah berinvestasi di Grab Indonesia dengan total sekitar Rp 5,5 triliun," ujar Beverly kepada Katadata.co.id, Selasa (6/7).

Advertisement

Sekretaris Perusahaan Emtek Titi Maria Rusli mengatakan, alasan dilakukan transaksi ini, untuk mendukung kegiatan usaha utama.

"Memperkuat posisi Emtek sebagai perusahaan teknologi dan digital terkemuka di Indonesia dan memperkaya ekosistem digitalnya," katanya melalui keterbukaan informasi.

Sementara itu, Grab Holdings berinvestasi di Emtek dengan memiliki 4,6% sahamnya melalui H Holdings Inc. Investasi dilakukan dengan mengambil bagian atas saham baru yang diterbitkan Emtek pada 31 Maret 2021.

Emtek melakukan penerbitan saham baru sebanyak 4,75 miliar unit saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 1.954 per saham yang artinya Emtek mampu meraup dana hingga Rp 9,29 triliun dari penambahan modal.

Berdasarkan sumber berita yang membantu transaksi tersebut kepada The Straits Times, nilai investasi yang digelontorkan oleh Grab Holdings mencapai Rp 4 triliun kepada Emtek.

Wakil Direktur Utama Emtek Sutanto Hartono mengakui adanya saling silang investasi pada kedua perusahaan. Pasalnya, ia melihat adanya kesamaan bisnis digital pada Grab sehingga keduanya makin dekat.

"Ini adalah investasi dua tahap, Grab Holdings masuk Emtek, dan Emtek masuk ke Grab Indonesia. Kami melakukan ini karena melihat bahwa ada irisan-irisan dari ekosistem digital," ujar Sutanto dalam paparan publik di kantornya, Jakarta, Kamis (3/6).

Menurut dia, silang investasi ini bisa membawa hubungan kedua perusahaan ke tahap berikutnya. Hal ini juga memudahkan kedua perusahaan melakukan diskusi yang lebih terbuka dan dalam. Pasalnya, sebelum melakukan investasi, kedua entitas merupakan perusahaan yang berdiri secara independen.

"Hal yang menarik adalah memang ini ekosistem digital, perkembangan bisnis modelnya kan dinamis di indonesia kan banyak super apps," ujarnya.

Meski demikian, Sutanto mengatakan, perusahaan masih belum mengetahui bentuk kerja sama atau kolaborasi antara Bukalapak dan Grab. Untuk saat ini, Emtek dan Grab masih fokus pada masalah investasi dan belum membicarakan lebih rinci mengenai langkah kolaborasi bisnis ke depannya.

Senior Vice President Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan, bisnis digital sudah menjadi keharusan untuk setiap perusahaan, apalagi di tengah pandemi Covid-19.

Perusahaan besar, seperti Astra dan Emtek yang terus menambah modal ke perusahaan digital, berpeluang menekan biaya yang jauh lebih besar. Meski begitu, kesuksesannya salah satunya utilisasi ekosistem yang sudah ada di grup tersebut.

"Jadi bisnis digital sangat bagus jika memiliki ekosistem yang sangat bagus. Mulai dari supply chain (rantai suplai), merchandise chain (rantai barang dagangan), pembayaran digital, dan database pelanggan," kata Janson kepada Katadata.co.id.

Melihat persaingan bisnis digital di Indonesia yang sudah diisi oleh perusahaan rintisan (startup), kehadiran pemain-pemain besar membuat persaingan menjadi makin ketat. Namun, persaingan ketat tersebut dinilai tidak bisa terhindarkan.

"Penggunaan digital bisnis adalah keharusan dengan memanfaatkan ekosistem yang sudah existing di grup tersebut," kata Janson.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait