Rugi Bukalapak Susut 25% Jadi Rp 766 M, Beban Penjualan Masih Naik

Bukalapak mencatatkan total nilai pemerosesan atau processing value (TPV) semester I 2021 senilai Rp 56,7 triliun atau tumbuh 54% dari periode sama tahun lalu Rp 36,8 triliun.
Image title
1 September 2021, 11:28
Bukalapak, saham buka, rugi bukalapak, Laporan Keuangan, Saham Bukalapak, Unicorn
Bukalapak
Bukalapak

PT Bukalapak.com Tbk (BUKA) mencatatkan rugi bersih Rp 766,23 miliar sepanjang semester I 2021. Jumlahnya menyusut 25,33% dari jumlah kerugian pada periode sama pada tahun lalu yang mencapai Rp 1,02 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan, unicorn pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini mengantongi pendapatan neto Rp 863,62 miliar dalam enam bulan pertama 2021. Pendapatan tersebut tumbuh hingga 34,67% dari raihan omzet neto pada semester I-2020 sebesar Rp 641,28 miliar.

"Pendapatan Bukalapak mayoritas masih berasal dari marketplace, yakni sebesar Rp 529,18 miliar. Jumlah itu tumbuh 4,42% dibanding periode sama tahun lalu Rp 506,77 miliar," ujar Manajemen Bukalapak dalam keterangan tertulis, Rabu (1/9).

Kenaikan signifikan berasal dari pendapatan mitra yang dalam enam bulan pertama tahun ini, yakni mencapai 349% menjadi Rp 289,81 miliar dari sebelumnya Rp 65,47 miliar. Namun, pendapatan dari BukaPengadaan tercatat menyusut 36,29% menjadi Rp 44,62 miliar dari semula Rp 70,03 miliar.

Sejalan dengan kenaikan pendapatan, beberapa pos beban ikut membengkak. Alhasil, Bukalapak mencatatkan rugi usaha Rp 776,16 miliar hingga Juni 2021, meski menurun 24,85% dibanding rugi usaha hingga Juni 2020 Rp 1,03 triliun.

Pengeluaran paling besar yang paling menggerus profitabilitas Bukalapak adalah beban penjualan dan pemasaran senilai Rp 881,73 miliar pada semester I 2021. Beban tersebut tercatat naik signifikan 14,64% dibanding periode sama tahun lalu Rp 769,13 miliar.

Beban besar lainnya adalah beban umum dan administrasi yang mencapai Rp 659,09 miliar dalam enam bulan pertama tahun ini. Beban ini mampu diturunkan 22,55% oleh Bukalapak dari Rp 850,94 miliar pada semester I-2020.

Pos beban berikutnya adalah beban pokok pendapatan senilai Rp 118,05 miliar hingga Juni 2021. Berdasarkan laporan keuangan, beban pokok pendapatan tersebut mengalami kenaikan 69,92% dari periode sama tahun lalu Rp 69,47 miliar.

Bukalapak mencatatkan total nilai pemerosesan atau processing value (TPV) semester I 2021 senilai Rp 56,7 triliun atau tumbuh 54% secara tahunan dari periode sama tahun lalu Rp 36,8 triliun. Pertumbuhan TPV ini didukung oleh kenaikan jumlah transaksi sebesar 15% dan kenaikan sebesar 34% pada nilai transaksi rata-rata atau average transaction value (ATV).

Sebanyak 75% TPV Bukalapak selama semester pertama ini berasal dari luar daerah tier 1 Indonesia. Manajemen Bukalapak menilai penetrasi all-commerce dan tren digitalisasi warung-warung kecil ritel di luar tier 1, terus menunjukan pertumbuhan yang kuat.

TPV mitra pada semester I-2021 mampu meningkat 227% menjadi Rp 23,9 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp 7,3 triliun. Kontribusi mitra terhadap TPV Bukalapak meningkat dari 22% per Juni 2020 menjadi 48% setahun setelahnya.

"Hal ini ditopang oleh kenaikan pada jumlah produk dan jasa yang ditawarkan oleh Bukalapak kepada para mitra. Pada akhir Juni 2021, jumlah Mitra yang telah terdaftar mencapai 8,7 juta, naik dari 6,9 juta pada akhir Desember 2020," kata Manajemen Bukalapak.

Dari sisi neraca, Bukalapak memiliki aset Rp 4,04 triliun per Juni 2021, atau meningkat dari kepemilikan aset sebelumnya sebesar Rp 2,59 triliun per Desember 2020. Peningkatan aset paling signifikan berasal dari aset lancar menjadi Rp 3,11 triliun dari Rp 1,76 triliun. Aset tidak lancar juga naik menjadi Rp 927,29 miliar dari Rp 823,84 miliar.

Sementara itu, Bukalapak mencatatkan peningkatan total liabilitas menjadi Rp 1,02 triliun per Juni 2021 dari Rp 985,82 miliar per Desember 2020. Liabilitas jangka pendek meningkat menjadi Rp 927,24 miliar dari Rp 881,99 miliar. Sementara liabilitas jangka panjang turun tipis menjadi Rp 100,58 miliar dari Rp 103,83 miliar.

 

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait