Suspensi Perdagangan Dibuka, Harga Saham Bank JTrust Melonjak 18%

BEI menghentikan perdagangan Bank JTrust pada Selasa (21/9). Suspensi perdagangan di pasar reguler dan tunai tersebut dilakukan karena harga sahamnya menurun signifikan secara kumulatif.
Image title
22 September 2021, 11:04
JTrust
ANTARA FOTO/FOTO/Audy Alwi
Direktur Utama PT Bank JTrust Indonesia Tbk.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut penghentian sementara (suspensi) atas perdagangan saham PT Bank JTrust Indonesia Tbk (BCIC) di pasar reguler dan pasar tunai mulai perdagangan sesi pertama Rabu (22/9). Saham yang disuspensi selama satu hari ini langsung menguat hingga 18% ke harga Rp 262 per saham.

Berdasarkan data RTI Infokom, saham bernilai kapitalisasi Rp 2,46 triliun ini diperdagangkan dengan volume transaksi 29,46 juta unit saham dan frekuensi 3.000 kali pada pukul 10.23 WIB. Lalu, pelaku pasar melakukan transaksi pada saham ini dengan total nilai Rp 7,26 miliar.

Sebelumnya, BEI menghentikan perdagangan Bank JTrust pada Selasa (21/9). Penghentian perdagangan di pasar reguler dan tunai tersebut dilakukan karena harga sahamnya secara kumulatif menurun signifikan.

Pada 9 Agustus, saham Bank JTrust sempat ditutup di level Rp 965, dan menjadi harga tertinggi sepanjang tahun ini. Namun, setelah itu harga sahamnya menurun secara beruntun. Bahkan, tercatat belasan kali menyentuh level auto rejection bawah (ARB) sebesar 7%.

Sebelum disuspensi, saham Bank JTrust ditutup di harga Rp 222 per saham, atau merosot 76,99% dibanding harga puncak. Harga saham Bank JTrust saat disuspensi ini juga menjadi yang terendah sepanjang tahun ini.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma menyampaikan penurunan ini sejalan dengan rencana Bank JTrust menerbitkan maksimal 4,54 miliar unit saham seri C atau 45,4% dari jumlah saham bernominal Rp 100. Penambahan modal dilakukan melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

Harga pelaksanaan saham baru tercatat Rp 330 per saham, sehingga JTrust berpotensi meraup dana Rp 1,5 triliun. Dana tersebut ditujukan untuk memenuhi ketentuan modal inti sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) minimal Rp 2 triliun tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan per Juni 2021, modal inti Bank JTrust tercatat hanya Rp 1,04 triliun.

Menurut Suria, investor menjual saham Bank JTrust karena dianggap tidak likuid di tengah rencana penerbitan saham barunya. "Sahamnya tidak likuid tapi mau rights issue. Jadi orang-orang buru-buru mau jual supaya tidak keluar uang lagi buat rights issue," katanya kepada Katadata.co.id, Selasa (21/9).

Saat ini, porsi kepemilikan masyarakat hanya 7,64%. Pemegang saham lainnya, J Trust Co., Ltd 86,68% selaku pengendali, J Trust Asia Pte. Ltd. 4,67%, dan JTrust Investment Indonesia 1%.

Seperti diketahui, dalam rights issue Bank J Trust, pemegang saham utama bersama-sama telah menyatakan akan melaksanakan haknya dengan kompensasi komponen ekuitas lain dan konversi hak tagih dari pinjaman subordinasi seluruhnya senilai Rp 1,36 triliun.

Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan, investor perlu memperhatikan rencana rights issue yang akan dicatatkan pada 5 November 2021. Menurutnya, saham ini masih berisiko memiliki fluktuasi harga yang tinggi.

"Sebaiknya dicermati saja dan berhati-hati dalam mengambil keputusan beli di saham dengan kondisi seperti Bank JTrust saat ini karena risiko fluktuasi harganya tinggi," kata Ivan kepada Katadata.co.id, Selasa (21/9).

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait