BEI Belum Hapus Saham Emiten yang Tidak Aktif Dua Tahun, Ini Alasannya

Beberapa emiten yang sudah dihentikan perdagangan sahamnya oleh BEI antara lain, PT Polaris Investama Tbk (PLAS), PT Golden Plantation Tbk (GOLL) , dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL).
Image title
29 September 2021, 20:23
BEI, Saham, Bursa
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Seorang pria melintas di depan gedung Indonesia Stock Exchange (IDX), Sudirman, Jakarta Pusat (08/08).

Sejumlah emiten sudah memenuhi syarat untuk dihapus pencatatan sahamnya (delisting) dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski begitu, manajemen BEI belum merealisasikan delisting tersebut karena masih dalam pemantauan dan pembinaan.

"Dalam perjalanannya, sebelum melakukan delisting, bursa tetap melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap perusahaan tercatat termasuk upaya perbaikan yang dijalankan Perseroan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Gede Nyoman Yetna kepada awak media, Rabu (29/9).

Seperti diketahui, ada beberapa pertimbangan Bursa sebelum melakukan delisting berdasarkan Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (delisting) dan Pencatatan Kembali (relisting) Saham di Bursa.

Delisting dapat dilakukan karena going concern perusahaan dan dilakukan suspensi di pasar reguler dan pasar tunai atau hanya diperdagangkan di pasar negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

Berdasarkan catatan Katadata.co.id, hingga saat ini ada 13 emiten yang sahamnya sudah disuspensi oleh bursa selama 24 bulan. Di antaranya PT Polaris Investama Tbk (PLAS) yang sudah 24 bulan disuspensi pada 28 Desember 2020, PT Golden Plantation Tbk (GOLL) pada 30 Januari 2021, dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) pada 27 Mei 2021.

Berkaitan dengan ketiga emiten tersebut, Nyoman mengatakan saat ini dalam kondisi suspensi dikarenakan terdapat keraguan kelangsungan usaha dan belum dipenuhinya beberapa kewajiban sesuai ketentuan. Ketiganya saat ini masih dalam pemantauan dan pembinaan.

Sebagai salah satu bentuk perlindungan investor di pasar modal, emiten yang di-delisting wajib mengubah statusnya dari perusahaan terbuka menjadi perusahaan tertutup.

"Dengan melakukan pembelian kembali atas seluruh saham yang dimiliki oleh pemegang saham publik (buy back)," katanya.

Selama tidak ada perbaikan kondisi atas penyebab terjadinya suspensi, perusahaan tercatat masih dalam proses delisting. Bursa akan mempertimbangkan upaya perbaikan kinerja yang dilakukan sebelum perusahaan tercatat tersebut ditetapkan delisting oleh Bursa.

Bursa akan terus memantau kondisi serta perkembangan terkini dari perusahaan tercatat dan meminta kepada para pemangku kepentingan untuk memperhatikan dan mencermati segala bentuk keterbukaan informasi yang disampaikan oleh Bursa dan perusahaan tercatat.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait