Ping An Dikabarkan Minat Investasi, Bank Nobu Buka Pintu Selebarnya

PT Matahari Department Store Tbk selaku pemegang 16,4% saham Bank Nobu sudah menyatakan tidak mengambil haknya untuk membeli saham baru tersebut.
Image title
1 Oktober 2021, 13:41
Bank Nobu, Ping An, Grup Lippo, Lippo Group
123RF.com/SH LISONG
Gedung perusahaan asuransi Ping An

PT Bank Nationalnobu Tbk atau Bank Nobu sedang menjajaki penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue 500 juta unit saham.

Beberapa waktu terakhir beredar kabar, grup finansial raksasa asal Tiongkok Ping An Insurance Group minat berinvestasi di bank milik Grup Lippo tersebut.

Menanggapi kabar tersebut, Direktur Bank Nobu Hendra Kurniawan tidak membantah ataupun membenarkan rumor yang beredar di kalangan pelaku pasar. Dia mengatakan, pihaknya tidak menutup pintu bagi Ping An untuk menjadi investor melalui skema rights issue ini.

"Mengenai grup finansial Ping An, pada prinsipnya kami membuka kepada seluruh pemegang saham," kata Hendra dalam paparan publik secara virtual, Jumat (1/10).

Hendra mengatakan, sejauh ini baru PT Grahaputra Mandirikharisma yang telah memastikan komitmennya untuk menjadi pembeli siaga dalam aksi rights issue. Perusahaan ini merupakan afiliasi sesama Grup Lippo dan saat ini tidak memiliki saham di Bank Nobu.

Di sisi lain, Hendra menyampaikan PT Matahari Department Store Tbk selaku pemegang 16,4% saham Bank Nobu sudah menyatakan tidak mengambil haknya untuk membeli saham baru tersebut. Sementara itu, pemegang saham lain belum memastikan untuk menggunakan haknya dalam pembelian saham baru atau tidak.

Pemegang saham Bank Nobu per 31 Agustus 2021 antara lain, PT Kharisma Buana Nusantara sebanyak 22,53%, PT Prima Cakrawala Sentosa sebanyak 19,58%, OCBC Securities sebanyak 11,74%, Nomura Securities sebanyak 10%, PT Lippo General Insurance Tbk 7,6%, dan masyarakat punya 12,15%.

"Kami terbuka untuk pemegang saham siapa yang berhak mempunyai PMTHMETD. Jadi saat ini masih berproses untuk komitmen-komitmen pemegang saham utama," kata Hendra.

Emiten berkode saham NOBU ini baru saja mengantongi restu pemegang saham untuk rights issue dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 24 September 2021. Namun, Bank Nobu belum memutuskan harga pelaksanaan rights issue sehingga belum bisa dipastikan target perolehan dananya.

Manajemen Bank Nobu memperhatikan rencana-rencana bisnis yang dimiliki untuk memutuskan berapa struktur rights issue-nya, rasionya, jumlah, dan besarnya. "Itu nanti sedang berproses setelah RUPSLB disetujui pemegang saham. Pada waktunya tentu kami akan mengambil keputusan dan akan kami umumkan," kata Hendra.

Aset Bank Nobu Terdongkrak usai Rights Issue

Grahaputra Mandirikharisma selaku pembeli siaga berencana menyetorkan modal berupa uang tunai Rp 5,1 miliar dan Rp 193 miliar berupa aset. Setelah transaksi, Grahaputra Mandirikharisma akan memiliki sebanyak 164,39 juta unit saham atau setara 3,57% dari total saham dengan asumsi seluruh pemegang saham tidak melaksanakan haknya.

Setoran modal berupa aset yang dimaksud adalah seluruh Gedung A Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten senilai Rp 132 miliar. Aset lainnya yaitu, sebagian ruang dalam Gedung Gajah Mada Tower Lantai G, Gambir, Jakarta Pusat dengan nilai Rp 61 miliar.

Berkat setoran dana dari Grahaputra Mandirikharisma, total aset Bank Nobu akan terdongkrak dari Rp 15,17 triliun pada Mei 2021 menjadi Rp 15,36 triliun. Tambahan tersebut terdapat pada pos aset tetap Rp 193 miliar dan giro pada Bank Indonesia Rp 5,1 miliar.

Hendra mengatakan, Gedung A UPH memiliki lokasi yang strategis karena berada di jantung kawasan pusat bisnis Lippo Karawaci. Dengan memiliki gedung ini, Bank Nobu bisa mempermudah koordinasi karena unit-unit Bank Nobu akan berada di gedung tersebut.

"Kami harapkan koordinasi antar-unit bisa lebih mudah karena kami berada di dalam satu gedung yang beberapa lantai," katanya.

Gedung Gajah Mada Tower juga memiliki potensi yang besar karena menyatu dengan Gajah Mada Plaza. Daerah tersebut punya pertumbuhan karena dikelilingi oleh sentra pedagang besar seperti Pasar Asemka, Glodok, Pasar baru, Roxy, dan Sawah Besar. "Potensi itu masih sangat tinggi untuk di daerah Gajah Mada ini," kata Hendra.

Terlebih, saat ini pemerintah tengah membangun Moda Raya Terpadu (MRT) fase 2 yang menyambungkan Bundaran Hotel Indonesia dengan Ancol Barat, melewati Gajah Mada. MRT diharapkan bisa memobilisasi masyarakat lebih baik ke daerah Gajah Mada.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait