Meneropong Asal-Muasal Tumpukan Utang Jumbo Waskita Karya

Total utang Waskita Karya yang berhubungan dengan pembangunan jalan tol mencapai Rp 52,9 triliun pada 2020.
Image title
1 Oktober 2021, 20:50
Waskita, Waskita Karya, BUMN, Infrastruktur
Arief Kamaludin|KATADATA
Waskita

PT Waskita Karya (Persero) Tbk tengah bergelut dengan tumpukan utang jumbo yang mencapai Rp 89,2 triliun sampai akhir 2020. Namun, perusahaan memperoleh banyak dukungan dari pemerintah melalui berbagai saluran. Lalu, apa saja yang membuat utang perusahaan konstruksi pelat merah itu menggunung?

Jumlah utang emiten berkode saham WSKT ini terdiri dari, utang bank dan obligasi Rp 65,3 triliun, dan 19 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp 27,81 triliun yang mayoritas berasal dari aktivitas akuisisi.

Proyek Waskita Karya terbagi atas dua jenis, jalan tol dan transmisi listrik. Sebanyak 16 proyek merupakan jalan tol, di mana hanya 3 ruas yang didapatkan melalui proses tender. Sisanya merupakan akuisisi yang sebagian merupakan penugasan dari pemerintah. Beberapa di antaranya, Waskita karya diminta mengakuisisi tol Trans Jawa dari pihak swasta yang mangkrak.

"Pada 2015-2017, Waskita cukup agresif mengambil tol-tol yang memang sudah ada BPJT tetapi tidak berjalan optimal di Trans Jawa," kata Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo dalam rapat dengan anggota DPR Komisi VI, awal pekan ini.

Oleh karena membutuhkan total pendanaan Rp 27,81 triliun, utang Waskita Karya pada periode 2017-2020 cenderung naik. Puncaknya pada 2019, utang BUMN konstruksi tersebut mencapai Rp 70,9 triliun kepada pihak bank dan obligasi, di luar utang kepada vendor.

Proyek-Proyek PT Waskita Karya Tbk (WSKT)
       
NoNama ProyekKepemilikanPanjangAsalTahun Akusisi/TenderNilai Investasi
 Jalan Tol
1Kanji-Pejagan100%35 kmAkusisi2015 Rp          2,04
2Pejagan-Pemalang100%57,5 kmAkusisi2014 Rp          0,86
3Pemalang-Batang60%39,2 kmAkusisi2016 Rp          1,40
4Batang-Semarang40%75 kmTender2015 Rp          1,65
5Pasuruan-Probolinggo100%44 kmAkusisi2017 Rp          1,34
6Krian-Legundi-Bunder100%38,3 kmAkusisi2016 Rp          3,00
7Bekasi-Cawang-Kampung Melayu70%16,1 kmAkusisi2014 Rp          2,58
8Cimanggis-Cibitung90%25,4 kmAkusisi2015 Rp          0,55
9Cibitung-Cilincing-Tanjung Priok55%34 kmAkusisi2017 Rp          1,27
10Cinere-Serpong35%10,2 kmAkusisi2015 Rp          0,30
11Depok-Antasari25%27,5 kmAkusisi2015 Rp          0,49
12Bogor-Ciawi-Sukabumi100%54 kmAkusisi2015 Rp          2,20
13Cileunyi-Sumedang-Dawuan15%60 kmTender2015 Rp          0,13
14Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi30%61,7 kmAkusisi2015 Rp          0,46
15Kayu Agung-Palembang-Betung98%112 kmAkusisi2016 Rp          0,59
16Kuala Tanjung-Tebing Tinggi30%143 kmTender2017 Rp          0,05
 Sub Jumlah Jalan Tol 832,9 km   Rp        18,90
       
 Transmisi Listrik
17Transimisi 500 KV Sumatera Paket 1 556 towerTender  Rp          3,50
18Transimisi 500 KV Sumatera Paket 2 379 towerTender  Rp          2,60
19Transimisi 500 KV Sumatera Paket 3 639 towerTender  Rp          2,80
 Sub jumlah transmisi listrik 1574 tower   Rp          8,90
       
 JUMLAH     Rp        27,81
Sumber: Kementerian BUMN, 27 Sepetmber 2021

 

Total utang Waskita Karya yang berhubungan dengan pembangunan jalan tol mencapai Rp 52,9 triliun pada 2020. Jumlah itu terdiri dari utang langsung Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) Rp 23,9 triliun dan yang terkait BUJT secara tidak langsung Rp 29 triliun.

Tekanan keuangan Waskita Karya tidak hanya terjadi pada kenaikan utang, tetapi juga dari sisi pendapatan. Pada 2019, sebelum pandemi Covid-19, pendapatan perusahaan tercatat Rp 31,4 triliun atau turun hingga 35,65% dari 2018 yakni, Rp 48,8 triliun. Pendapatannya makin anjlok pada 2020 dihantam pandemi Rp 16,2 triliun, merosot 48,4% secara tahunan.

Di tengah penurunan pendapatan dan besarnya utang karena penugasan akuisisi dari pemerintah, Waskita Karya absen mendapat suntikan penyertaan modal negara (PMN). Berbeda dengan yang BUMN Karya lain, Waskita mengerjakan proyek Trans-Jawa hingga selesai, kemudian baru mendapat PMN.

"Ini membuat kondisi keuangan Waskita mengalami pemburukan signifikan," kata Tiko, sapaan akrabnya.

Salah satu upaya untuk menyehatkan kembali keuangan Waskita dengan melakukan divestasi proyek-proyek yang ada atau asset recycling. Hal ini dinilai mampu mengurangi beban utang yang berasal dari investasi dan konstruksi jalan tol.

Dari 16 ruas jalan tol yang dimiliki Waskita Karya seperti dalam tabel, sejak 2019 telah direalisasikan 5 divestasi yaitu ruas tol Solo-Ngawi, Ngawi-Kertosono, Kualanamu-Tebing Tinggi, Semarang-Batang, serta Cinere-Serpong.

Ruas tol Cibitung-Tanjung Priok juga akan didivestasikan segera karena Waskita Karya sudah menekan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (CSPA) dengan PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).

Waskita juga menawarkan tiga ruas yaitu, Pejagan-Pemalang, Kanci-Pejagan, dan Pemalang-Batang kepada Sovereign Wealth Fund (SWF), Indonesia Investment Authority (INA).

Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono mengatakan, proses divestasi ruas jalan tol bisa mengurangi liabilitas perusahaan mencapai Rp 41 triliun. "Dengan adanya pengurangan atau dekonsolidasi, maka utang Waskita tinggal Rp 46 triliun," katanya.

Ia menjelaskan, pengurangan liabilitas sebagai akibat dari divestasi sejumlah ruas tol berasal dari dekonsolidasi utang BUJT, pembayaran pinjaman pemegang saham kembali ke Waskita, pembayaran tagihan konstruksi oleh investor baru, dan penerimaan dana hasil divestasi tersebut.

Selain divestasi sejumlah ruas tol, Waskita merestrukturisasi utang bank. Saat ini, perusahaan tercatat sudah mendapat perpanjangan jangka waktu kredit hingga lima tahun dengan bunga kompetitif dari 21 bank. Total utang bank yang direstrukturisasi mencapai Rp 29,2 triliun.

Destiawan mengatakan, utang bank tersebut terdiri dari, kredit investasi, pinjaman modal kerja, dan pinjaman untuk ekuitas. Waskita akan berupaya membayar utang, salah satunya dengan melakukan divestasi sejumlah aset yang dimilikinya.

"Kalau kredit investasi, begitu kami melakukan divestasi, maka akan terjadi dekonsolidasi pinjaman. Kami bisa mengembalikan pinjaman ekuitasnya. Kemudian utangnya secara otomatis beralih ke investor yang baru," kata Destiawan

Kondisi utang Waskita Karya yang bengkak membuat kinerja sahamnya di pasar modal direspons negatif oleh pelaku pasar. Sejak awal tahun ini hingga penutupan perdagangan 30 September 2021, harga saham Waskita terkoreksi 42,01% menjadi Rp 835 per saham.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait