Berlomba Himpun Dana, Bank Digital Tawarkan Bunga Simpanan Fantastis

Analis menilai, dengan tingginya biaya dana, bank digital harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit.
Image title
13 Oktober 2021, 14:14
Bank Digital, Suku Bunga, Perbankan
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi perbankan nasional

Perkembangan bank digital yang pesat di Tanah Air terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Dalam perkembangannya, ada bank digital yang berani menawarkan beragam suku bunga deposito berjangka fantastis hingga 7,5% untuk menarik minat nasabah, di atas suku bunga penjaminan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Seperti diketahui, akhir September lalu, LPS menurunkan suku bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum menjadi 3,5%, terendah sepanjang sejarah. Sementara itu, bank-bank digital menawarkan suku bunga di atas penjaminan tersebut.

Berdasarkan penelusuran Katadata.co.id, Bank Neo Commerce melalui aplikasi Neobank menawarkan bunga simpanan paling tinggi. Bunga tabungan mencapai 6% per tahun, berdasarkan penelusuran di aplikasinya. Nasabah tidak perlu minimal setoran dan bebas biaya admin.

Sementara untuk produk deposito, jargon yang disematkan oleh Bank neo Commerce adalah "Periode singkat, bunga tinggi". Bunga yang ditawarkan mencapai 6,5% per tahun dengan periode deposito 7 hari saja dan minimal setoran Rp 200 ribu. Untuk bunga 7,5% per tahun, tenornya selama 3 bulan.

Produk deposito lain dengan bunga lebih besar dan tenor lebih lama, disematkan jargon "Setoran ringan, bunga fantastis". Neo Commerce menawarkan deposito dengan bunga 7,75% per tahun untuk tenor 6 bulan dengan minimal setoran Rp 200 ribu. Untuk tenor 12 bulan, bunga yang ditawarkan mencapai 8%.

Bank KEB Hana Indonesia melalui aplikasi digital LINE Bank juga menawarkan suku bunga simpanan di atas LPS. Berdasarkan penelusuran di website-nya, LINE Bank menawarkan keuntungan lebih besar dari tabungan karena memiliki suku bunga yang lebih tinggi dari tabungan. Bunga deposito yang ditawarkan 4,5%, sementara bunga tabungan 1%.

Untuk membuka deposito, nasabah hanya membutuhkan minimal setoran Rp 1 juta dan maksimal Rp 1 miliar dengan pilihan pencairan saat jatuh tempo yang fleksibel. Terdapat pula perpanjang otomatis saat jatuh tempo. Jangka waktu penempatan antara 1-12 bulan.

Bank Central Asia melalui anak usahanya meluncurkan aplikasi bank digital Blu. berdasarkan penelusuran di aplikasi tersebut, suku bunga tabungan yang ditawarkan Blu mencapai 3% per tahun. Fitur lain yaitu bisa membuka kantong tabungan bersama 25 orang dengan suku bunga tabungan.

Sementara itu, untuk deposito berjangka, Blu menawarkan suku bunga 3,5% hingga 4,00% per tahun dengan minimal penempatan Rp 1 juta. Tenor minimalnya 1 bulan dan maksimal 12 bulan. pencarian sebelum jatuh tempo tidak dikenakan penalti.

Bank UOB Indonesia melayani nasabah melalui aplikasi digitalnya TMRW. Berdasarkan halaman websitenya, nasabah bisa mendapatkan bunga tabungan TMRW Everyday Account sebesar 0,5% per tahun. Tidak ada biaya bulanan atau biaya saldo minimum.

Untuk penempatan pada deposito TMRW Savings Account bunganya 4% per tahun. TMRW menawarkan tabungan savings account tanpa minimum deposit. Terdapat enam pilihan jangka waktu penempatan yaitu 1, 3, 4, 5, 9, atau 12 bulan.

Bank Jago menawarkan fitur membuat berbagai kantong, salah satunya untuk menabung. Melalui penelusuran di aplikasinya, kantong Nabung bisa dipakai juga untuk mengembangkan uang dengan bunga tahunan hingga 3,5%.

Bank DBS Indonesia juga memiliki aplikasi digital melalui Digibank. Berdasarkan halaman website resminya, deposito yang ditawarkan oleh Digibank punya tingkat suku bunga antara 3,0% hingga 3,5% per tahun. Tingkat suku bunga yang ditawarkan tergantung dengan nominal penempatan dan tenor. Paling cepat, tenor depositonya 1 bulan.

SEA Group melalui bank Seabank yang baru diakuisisi, menawarkan suku bunga deposito sebesar 2,75% hingga 3,25%, tergantung nominal dan tenornya. Berdasarkan penelusuran di halaman websitenya, bunga deposito paling tinggi untuk deposito bernominal di atas Rp 100 juta bertenor 1 bulan. Paling rendah adalah nominal di bawah Rp 100 juta dengan tenor 12 bulan.

Seabank menawarkan fasilitas perpanjangan otomatis (automatic roll over). Jangka waktu penempatan deposito ini antara 1, 3, 6, dan 12 bulan. Adapun minimal penempatan pada deposito ini Rp 1 juta.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama mengatakan pemberian suku bunga simpanan yang tinggi memang sejalan dengan fokus bank digital pada tahap awal, yaitu menaikkan pendanaan (funding). Ia menilai hal tersebut bagian dari strategi menarik nasabah agar menyimpan dananya di bank tersebut.

Dengan tingginya biaya dana (cost of fund), bank tersebut harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kredit. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga pendapatan bunga bersih tetap positif dan kualitas kredit yang bagus.

"Guna menjaga pendapatan bunga bersih, distribusi perlu menerapkan prinsip kehati-hatian. Sehingga kualitas dari aset juga dapat terjaga," kata Okie kepada Katadata.co.id.

Okie menilai, tingginya suku bunga deposito yang ditawarkan oleh bank digital tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, tingginya bunga dapat menaikkan cost of fund. "Sehingga apabila tidak terkendali dengan baik hal tersebut dapat menjadikan tekanan pada marjin bersih," katanya.

Direktur Riset CORE Piter Abdullah menilai pemberian bunga simpanan yang tinggi merupakan fenomena yang sudah biasa di Indonesia karena banyak bank yang mengalami kesulitan likuiditas. Dengan demikian, tak ada larangan untuk menawarkan bunga simpanan yang tinggi.

"Ini fenomena biasa di Indonesia. Nasabah yang memang mengutamakan bunga boleh menempatkan dananya di bank tersebut tetapi dengan risiko tidak dijamin oleh LPS," kata Piter kepada Katadata.co.id.

Piter mengatakan, bank berani menjanjikan suku bunga tinggi pada simpanan, karena bank masih bisa menyalurkan kredit dengan suku bunga yang jauh lebih tinggi. Salah satunya, pemberian kredit melalui perusahaan teknologi finansial (fintech) yang kemudian disalurkan dalam bentuk peer to peer lending.

"Bunga kreditnya tinggi karena memang bunga P2P-nya tinggi," kata Piter.

Ia mengatakan, risiko dari pemberian bunga simpanan dan bunga kredit yang tinggi ini sudah diperhitungkan sebelumnya. Targetnya pasarnya memang sektor atau nasabah yang memiliki risiko tinggi. Sehingga biasanya tingkat kredit seret (non-performing loan) akan lebih besar.

Tapak Tilas Bank Digital di Indonesia

Bank Indonesia dalam Kajian Stabilitas Keuangan September 2021, menjelaskan, kehadiran bank digital dalam ekosistem keuangan Indonesia ditandai dengan peluncuran platform perbankan digital Jenius oleh Bank BTPN pada 2016.

Pada 2017, langkah BTPN diikuti oleh sejumlah bank umum lainnya di Indonesia, seperti Digibank oleh DBS, Wokee oleh Bukopin, PermataMobileX oleh Bank Permata, Nyala oleh OCBC NISP, D-Bank oleh Danamon, dan TMRW oleh Bank UOB.

Seiring berjalannya waktu, perkembangan bank digital semakin pesat, di antaranya dengan adanya akuisisi bank untuk dijadikan stand alone digital bank, baik oleh bank yang lebih besar maupun dari perusahaan teknologi. Seperti BCA mengakuisisi Bank Royal untuk dijadikan bank digital, yakni BCA Digital.

Pada 2020 dan 2021 terdapat beberapa bank umum, yang diakuisisi oleh perusahaan teknologi dan bertransformasi menjadi bank digital, yaitu Bank Neo Commerce (sebelumnya Bank Yudha Bhakti) oleh Akulaku, Bank Jago (sebelumnya Bank Artos) oleh Gojek, dan Bank SeaBank Indonesia (sebelumnya Bank BKE) oleh Sea Ltd.

Kehadiran bank digital ini direspons oleh regulator, Otoritas Jasa Keuangan, dengan mengeluarkan POJK No.12/2021 tentang Bank Umum dan POJK No. 13/2021 tentang Penyelenggaraan Produk Bank Umum. Kedua peraturan itu mempertegas eksistensi bank digital di Indonesia.

BI menilai, salah satu tujuan penerbitan POJK ini adalah untuk mendorong percepatan transformasi dan akselerasi digital. Sebagaimana disampaikan sebelumnya, peluncuran bank digital yang marak di 2021 terutama berupa transformasi bank yang sudah ada, khususnya BUKU 2 menjadi bank digital, yang didorong akuisisi dari grup-grup besar.

"Bank-bank tersebut berpotensi untuk meningkatkan scalability-nya dengan mengandalkan pada model bisnis yang berbasis connectivity tanpa diikuti dengan penambahan jumlah jaringan fisik kantor cabang," seperti dikutip dari Kajian Stabilitas Keuangan.

Potensi ini tercermin antara lain dari meningkatnya pangsa market capitalization sejumlah bank BUKU 2 yang telah atau sedang bertransformasi menjadi bank digital. Dengan kemampuan scalability tersebut, kehadiran bank digital memiliki potensi untuk mengubah struktur perbankan Indonesia ke depan.

Reporter: Ihya Ulum Aldin
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait