Enam Tahun Rugi, Bank Jago akhirnya Cetak Laba Rp 14 Miliar

Pola kerja sama pembiayaan mendorong Bank Jago untuk ekspansif, tapi tetap dengan pengelolaan risiko yang terkendali. Terbukti, rasio NPL perusahaan kini berada di level 0,6%.
Image title
Oleh Lavinda
22 Oktober 2021, 08:40
Bank Jago, Perbankan, Bank Digital
Katadata
Bank Jago meluncurkan aplikasi keuangan bank digital

 

PT Bank Jago Tbk akhirnya membukukan laba bersih Rp 14 miliar pada kuartal III 2021, setelah enam tahun terakhir tenggelam dalam kondisi kerugian yang terus-menerus.

Direktur Utama Bank Jago Kharim Siregar mengatakan perolehan keuntungan periode ini ditopang oleh pertumbuhan kredit yang agresif, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang rendah, serta kemampuan perusahaan memperbaiki struktur biaya dana. Hal ini termasuk efisiensi biaya berkat pertumbuhan dana murah atau current account saving account (CASA).

"Meski laba tahun berjalan masih negatif, kami tetap bersyukur atas pencapaian ini. Kami optimistis kinerja di masa mendatang akan terus membaik dan Bank Jago akan menjadi bank digital yang profitable,” kata Kharim dalam keterangan tertulis, Jumat (22/10).

Sampai akhir September 2021, Bank Jago menyalurkan kredit sebesar Rp 3,73 triliun, atau melonjak 502% dari periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan kredit terutama terjadi pada kuartal ketiga, dengan kenaikan sebesar Rp1,56 triliun dari posisi kuartal sebelumnya.

Kharim menyadari persentase kenaikan penyaluran kredit terkesan tinggi karena berangkat dari garis dasar atau baseline yang rendah. "Namun, kami melihat kemajuan bisnis yang konsisten dari waktu ke waktu. Kami akan menjaga momentum ini dengan terus memperluas kolaborasi dan integrasi dengan ekosistem digital,” kata Kharim.

Pertumbuhan kredit yang signifikan berdampak pada peningkatan pendapatan bunga mencapai 478% menjadi Rp 355 miliar. Sementara itu, beban bunga hanya terkerek 104% menjadi Rp 38 miliar. Hal ini menghasilkan pendapatan bunga bersih senilai Rp 318 miliar, atau tumbuh 640%. Margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) kini berada di angka 6,1%, lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu sebesar 4,4%.

Kemampuan menekan beban bunga tak lepas dari upaya Jago memperbanyak komposisi dana murah. Hingga akhir September 2021, total dana pihak ketiga mencapai Rp 2,54 triliun, atau tumbuh 564%. Dari jumlah tersebut, dana murah sebanyak Rp 985 miliar, melonjak 1.031%. Sedangkan deposito senilai Rp1,6 triliun, meningkat 427%. Proporsi dana murah terus membaik.

Sebagai pembanding, porsi dana murah pada September 2021 mencapai 38,72%, jauh lebih tinggi dibanding posisi yang sama tahun lalu sebesar 22,74%, atau posisi akhir Juni sebesar 30,21%. Pada kurun waktu yang sama, porsi deposito terhadap DPK telah menyusut dari 77,26% menjadi 69,79% dan kini 61,3%.

Porsi dana murah yang terus membesar ini mempengaruhi struktur biaya dana, sehingga berdampak positif pada perolehan margin. "Peningkatan dana murah ini juga menunjukkan tingkat penerimaan publik yang semakin baik terhadap aplikasi Jago,” kata Kharim.

Sementara itu, aset Jago mencapai Rp 11 triliun per akhir September 2021, tumbuh 536%. Adapun permodalan mencapai Rp 8 triliun, sangat solid untuk menunjang ekspansi dan rencana bisnis Bank Jago ke depan.

Pada dasarnya, Bank Jago berfokus melayani segmen ritel dan pasar yang masif dengan menggunakan bantuan teknologi. Saat ini, aplikasi Jago telah terintegrasi dengan aplikasi reksadana daring (online) Bibit.Id dan aplikasi Gojek. Integrasi ini memungkinkan konsumen untuk mengakses produk dan layanan jasa keuangan secara cepat dan mudah. 

Selain berkolaborasi dengan Bibit dan Gojek, Bank Jago juga bekerja sama dengan sejumlah perusahaan teknologi finansial bidang pembiayaan atau fintech lending, multifinance dan institusi keuangan lain berbasis digital.

Pola kerja sama pembiayaan atau partnership lending ini mendorong Bank Jago untuk ekspansif, tapi tetap dengan pengelolaan risiko yang terkendali. Terbukti, rasio NPL perusahaan kini berada di level 0,6%.

“Pencapaian ini mengonfirmasi bahwa bisnis model kami sudah tepat. Implementasi konsep kolaborasi dengan ekosistem digital dalam melayani nasabah terbukti membuat kami tumbuh anorganik, efektif dan cepat,” kata Kharim.

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait