Inovasi Digital, Laba Bank Mandiri Tumbuh 37% Jadi Rp 19,2 T Kuartal 3

Dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri meningkat 18% dari Rp 1.024 triliun pada September 2020 menjadi Rp 1.214 triliun di akhir September 2021.
Image title
Oleh Lavinda
28 Oktober 2021, 17:19
Bank Mandiri
Dokumentasi Bank Mandiri
Bank Mandiri

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan laba bersih Rp 19,23 triliun sampai kuartal III 2021, atau tumbuh 37% dari raihan untung bersih periode yang sama tahun sebelumnya Rp 14 triliun. Pencapaian ini dianggap merupakan hasil dari realisasi strategi bisnis perusahaan yang mengedepankan peran teknologi. 

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan capaian kinerja ini selaras dengan pemulihan kondisi perekonomian secara nasional, serta terus menurunnya kasus positif Covid-19.

"Pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh optimalisasi fungsi intermediasi perseroan yang selaras dengan pertumbuhan ekonomi yang terus membaik," kata Darmawan dalam paparan kinerja Bank Mandiri kuartal III 2021, Kamis (28/10).

Hingga kuartal III 2021, laju kredit perseroan secara konsolidasi tercatat tumbuh positif 16,93% secara tahunan atau year on year (YoY) menjadi Rp 1.021,6 triliun. Capaian ini juga diimbangi dengan rasio dana murah atau CASA ratio Bank Mandiri (bank saja) yang meningkat 7,15% year on year (YoY), yakni di level 74,57%.

Advertisement

Segmen Wholesale masih menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan kredit dengan peningkatan 7,93% secara YoY menjadi Rp 533 triliun dari semula Rp 501 triliun. Ini terutama didorong oleh kinerja divisi komersial dan korporasi perbankan.

Selanjutnya, kredit konsumen tumbuh dari Rp 86 triliun menjadi Rp 88 triliun. Kemudian, kredit anak perusahaan naik dari Rp 129 triliun menjadi Rp 213 triliun. Terakhir, kredit usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) meningkat 6,25% menjadi Rp 187 triliun dari sebelumnya Rp 176 . 

Secara kumulatif, kredit UMKM meningkat 20,3% menjadi Rp 100,1 triliun. Pertumbuhan ini didukung oleh upaya pemerintah dan regulator lewat optimalisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Hasilnya, realisasi penyaluran KUR Bank Mandiri dalam sembilan bulan pertama 2021 telah mencapai Rp 28,46 Triliun kepada lebih dari 291 Ribu Debitur.

KUR utamanya disalurkan ke sektor produktif seperti pertanian, perburuan dan perikanan sebesar Rp 8,69 triliun, serta industri pengolahan dan pertambangan senilai Rp 2,3 triliun.

Pertumbuhan ini diimbangi dengan perbaikan dari sisi kualitas kredit. Per 30 September 2021, posisi rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) gross Bank Mandiri secara konsolidasi menyusut 37 basis poin (bps) YoY ke level 2,96%.

Meski demikian, perusahaan tetap meningkatkan rasio pencadangan atau coverage ratio sebesar 2.486 bps secara tahunan menjadi 230,01%.

"Hal ini untuk memastikan relevansi kualitas kredit dengan kondisi eksisting. Per September 2021, Bank Mandiri telah membukukan biaya CKPN secara konsolidasi sebesar Rp 16,4 triliun dengan rasio NPL coverage berada di level yang memadai," kata Darmawan.

Dari sisi likuiditas, dana pihak ketiga (DPK) Bank Mandiri meningkat dari Rp 1.024 triliun pada September 2020 menjadi Rp 1.214 triliun di akhir September 2021 secara konsolidasi, atau tumbuh 18,5%.

Darmawan menambahkan, pertumbuhan DPK ini utamanya disumbang oleh dana murah yang turut berkontribusi menjaga biaya dana atau cost of fund Bank Mandiri (bank only) di angka 1,62%.

Pertumbuhan CASA dan penyaluran kredit yang positif sampai 30 September 2021 menghasilkan peningkatan aset perseroan secara konsolidasi yang mencapai Rp 1.637,95 triliun, meningkat 16,44%.

Restrukturisasi Kredit

Darmawan mengatakan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 juga terus menunjukan tren yang melandai, seiring dengan percepatan pemulihan ekonomi. Per 30 September 2021, total restrukturisasi kredit terdampak Covid-19 (bank only) tercatat menurun menjadi Rp 90,1 triliun dari periode akhir tahun 2020 lalu, yakni Rp 93,3 triliun.

“Pencapaian kinerja positif Bank Mandiri menunjukkan bahwa geliat pertumbuhan mulai terjadi. Kami tentunya secara berkala akan memantau kondisi perekonomian, termasuk menggali potensi-potensi bisnis untuk menunjang pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan," katanya.

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait