Saham DCI Indonesia Naik 100 Kali Lipat, Analis Minta Investor Waspada

Analis mengkhawatirkan ada 'gelembung' atau bubble dari peningkatan harga DCI Indonesia yang tidak wajar ini.
Image title
26 November 2021, 15:41
DCI Indonesia, DCII, Saham
DCI
DCI meresmikan pusat data keempat di Cibitung pada Kamis (27/5/2021).

PT DCI Indonesia Tbk diperkirakan sebagai emiten dengan kinerja pergerakan saham terbaik di pasar modal dalam negeri sepanjang tahun ini. Terbukti, dalam perhitungan tahun berjalan, harga saham DCII tercatat melesat hampir 100 kali lipat atau 10.852% ke posisi Rp 46.000 per saham dari harga penawaran perdana Rp 420.

Saat pertama kali melantai di bursa saham, emiten berkode DCII ini menetapkan harga saham perdana Rp 420. Berdasarkan data Stockbit, Pada penutupan hari penawaran perdana, harga DCII telah naik 25% atau mencapai batas maksimum kenaikan saham pada satu hari menjadi Rp 525.

Selang sepekan, harga DCII telah menembus level Rp 1.015 pada 11 Januari 2021. Dalam sebulan, harga DCII naik lebih dari 24 kali lipat menjadi Rp10.200 per 9 Februari 2021. Harga DCII mulai menanjak tajam pada bulan Juni 2021.

Pada akhir semester pertama 2021, harga DCII menembus level Rp 23.750 pada 4 Juni 2021. Hanya dalam 10 hari, harga DCII menyentuh level Rp50.250 pada 14 Juni 2021.

Advertisement

Hanya lewat dua hari, harga DCII hampir menembus level Rp 59.000 per saham pada 16 Juni 2021. Angka ini merupakan harga saham dengan kenaikan tertinggi sepanjang masa di pasar modal dalam negeri.

Perdagangan DCII dihentikan pada 16 Juni 2021 karena peningkatan harga yang tidak wajar per 16 Juni 2021 hingga 10 Agustus 2021. Alhasil, harga DCII turun ke posisi 35.550 pada 23 Agustus 2021 sebelum akhirnya kembali naik ke level 50.675.

Pada 7 September 2021, harga DCII kembali susut ke titik posisi Rp 40.400 per saham. Namun demikian, harga DCII tidak pernah turun ke bawah level 40.000 lagi pada kuartal IV-2021.

Dalam perhitungan tahun berjalan, harga saham DCII tercatat melesat 10.852% dari harga penawaran ke posisi Rp 46.000 per saham. Market cap DCII kini mencapai Rp 109,6 triliun.

Dalam riset Bloomberg diketahui, pertumbuhan harga DCII merupakan salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan IHSG secara perhitungan tahun berjalan sebesar 12% ke level 6.688.

Menanggapi hal itu, Analis Senior CSA Research Institue Reza Priyambada mengkhawatirkan ada 'gelembung' atau bubble dari peningkatan harga DCII yang tidak wajar ini. Gelembung yang dimaksud adalah harga saham yang jauh lebih tinggi dari performa perusahaan yang bersangkutan.

"Kalau pertumbuhannya biasa-biasa saja, (misalnya) pendapatan naik 15%-20%, (sedangkan) haga sahamnya mengalami kenaikan yang signifikan, itu bisa juga bubble," kata Reza kepada Katadata, Jumat (26/11).

Berdasarkan laporan keuangan DCII, pendapatan hingga kuartal III 2021 naik 3,23% menjadi Rp 606 miliar dari realisasi periode yang sama tahun lalu senilai Rp 587. Adapun, laba bersih tumbuh 24,63% menjadi Rp 172 miliar.

Dilansir dari Bloomberg, Head of Research JP Morgan Sekuritas Henry Wibowo mengatakan, kinerja DCII yang cukup memuaskan merupakan contoh dari hiruk pikuk perdagangan saham teknologi Indonesia tahun ini. Pasalnya, ukuran utama sektor ini telah melonjak hampir empat kali lipat sejak diluncurkan pada akhir Januari.

Namun, ada kekhawatiran ttentang seberapa banyak investor harus membacanya, mengingat perdagangan saham yang sedikit dan kurangnya cakupan penelitian terkait sektor teknologi informasi oleh pialang. 

Menurut dia industri pusat data atau data center merupakan salah satu sektor yang menikmati dampak positif dari pertumbuhan ekonomi digital di dalam negeri. Namun, tidak menutup kemungkinan saham DCII berpotensi tidak likuid.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengatakan tajamnya pertumbuhan harga DCII didorong oleh spekulasi pertumbuhan laba per saham atau earning per share (EPS) DCII. 

Berdasarkan data RTI Infokom, EPS DCII hingga kuartal II-2021 mencapai Rp 72 per saham. Hingga akhir tahun, angka itu diproyeksi naik menjadi Rp 96 per saham atau tumbuh 24,67% dari realisasi akhir 2020 senilai Rp 77 per saham. 

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait