Tahap Awal, Smartfren Bangun Data Center di Cikarang dan Ibu Kota Baru

Hingga kuartal III-2021, pendapatan Smartfren tercatat naik 12% secara tahunan menjadi Ro 7,64 triliun dari Rp 6,84 triliun.
Image title
28 Desember 2021, 16:59
Smartfren
Arief Kamaludin | Katadata
Suasana Launching Smartfren 4G LTE Advance di Jakarta, Rabu, (18/08).

PT Smartfren Telecom Tbk bekerja sama dengan perusahaan asal Abu Dhabi, G42 Investment AI Holdings RSC Ltd (G42) akan membangun pusat data atau data center pertamanya berkapasitas 1.000 Megawatt (Mw) pada 2022. Perusahaan milik Grup Sinar Mas ini juga menggandeng mitra lokal yakni, PT Amara Padma Sehati (APS). 

Pada tahap pertama, emiten telekomunikasi berkode FREN ini akan membangun data center dengan kapasitas 100-200 megawatt. Mayoritas data center klasifikasi tier II akan dibangun di beberapa lokasi, yakni di Kota Delta Mas, Cikarang, dan dekat Ibu Kota Negara (IKN) baru, di Kalimantan Timur. 

Presiden Direktur FREN Merza Fachys mengatakan ini merupakan salah satu inisiasi perseroan untuk meningkatkan arus pendapatan, selain dari bisnis telekomunikasi konvensional, yakni suara dan pesan singkat. 

"Ada banyak hal yang sedang kami kembangkan untuk layanan dan bisnis baru agar Smartfren tidak hanya mengandalkan pendapatan dari (bisnis) telekomunikasi tradisional. Kami berharap semua revenue stream baru bisa mendorong peningkatan revenue Smartfren lebih besar," kata Merza dalam paparan publik, Selasa (28/12). 

Advertisement

Hingga kuartal III-2021, pendapatan FREN tercatat naik 12% secara tahunan menjadi Ro 7,64 triliun dari Rp 6,84 triliun. Alhasil, rugi bersih perseroan membaik hingga 75% menjadi Rp 442 miliar. 

Perseroan menyatakan akan mengembangkan saluran bisnis lain. Salah satu strategi yang digunakan adalah berkolaborasi dengan mitra strategis dari dalam dan luar negeri. 

Belum lama ini, perseroan telah meneken perjanjian JV dengan Grup Alibaba. Adapun, nama usaha patungan itu adalah PT Nuri Gaya Citra (NGC).

Smartfren menciptakan NGC melalui cucu usahanya atau PT SF Digital Commerce (SFDC). Sementara itu, kepemilikan Alibaa dalam JV ini diwakilkan perusahaan afiliasi salah satu anak usahanya, yakni Fonixtree Digital Singapore Ltd (FDSL).

Setoran modal awal untuk JV itu adalah Rp 7,25 miliar. 

Secara rinci, pemegang saham utama SFDC adalah PT SF Digital Terdepan  (SFDT) yang merupakan anak usaha langsung Smartfren. SFDT memiliki saham SFDC hingga 99,99%.

Sementara itu, FDSL memiliki afiliasi dengan Whale Cloud Technology Co Ltd yang merupakan again dari ekosistem Grup Alibaba. Fokus Whale Cloud adalah teknologi intelejen data dan transformasi digital. 

Tujuan pendirian NGC adalah memberikan nilai tambah digital pada pelanggan perseroan. Selain itu, perusahaan anyar ini diharapkan dapat meningkatkan engagement pelanggan. 

Antony menjelaskan tidak terdapat dampak material pada kegiatan operasional, hukum keuangan, maupun keberlangsungan perseroan. Di samping itu, SFDC dan FDSL tidak memiliki hubungan afiliasi. 

Berdasarkan dokumen resmi FREN, perseroan telah memiliki 32,5 juta pelanggan hingga akhir kuartal III-2021 dengan jangkauan sinyal di lebih dari 200 kota. Jumlah Base Transceiver Station (BTS) yang dimiliki perseroan mencapai 40 ribu unit dengan kualitas jaringan 4G hingga 100%. 

Untuk mendukung teknologi 5G, perseroan telah meningkatkan pemilikan di PT Mora Telematika Indonesia hingga 20,5%. Dengan demikian, perseroan memiliki akses pada jaringan fiber optik sepanjang 48.515 kilometer yang dilengkapi dengan 6 data center. Selain itu, Mora memiliki kapasitas data hingga 18.360 Gigabit dan leih dari 5.000 pelanggan institusi.

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait