Tren Restrukturisasi Kredit Bank Menurun, Dana di Pasar Modal Melonjak

Di sisi lain, OJK menyebut penghimpunan dana di pasar modal terus meningkat mencapai Rp 363,3 triliun sepanjang 2021, atau naik 206 % dari 2020.
Image title
28 Januari 2022, 10:52
OJK
ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah/hp.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memberikan pemaparan saat acara Sarasehan Pemulihan Ekonomi Yogyakarta di Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (05/6/2021).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan tren restrukturisasi kredit perbankan terus mengalami penurunan seiring pandemi Covid-19 yang terus melandai dan terjadi perbaikan ekonomi nasional.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso menyebutkan, restrukturisasi kredit akibat pandemi Covid-19 turun menjadi Rp 663,49 triliun terhadap 4 juta debitur Per Desember 2021. Tren ini terus membaik dari total restrukturisasi kredit yang pernah mencapai Rp 830,5 triliun pada 2020.

"Dari jumlah tersebut telah dibentuk pencadangan sebesar 16% atau senilai Rp 106,2 triliun," kata Wimboh dalam sebuah webinar, Kamis (27/1).

Di sisi lain, pertumbuhan kredit sepanjang 2021 tercatat positif, meskipun masih dalam masa pandemi Covid-19. OJK mencatat, kredit perbankan tumbuh sebesar 5,2 4% secara tahunan pada 2021, setelah mengalami kontraksi -2,41% pada 2020.

Advertisement

Sementara itu, ia menyebut bahwa risiko kredit juga terkendali. Hal itu terlihat dari rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL)  ratio pada level 3% dan cenderung turun ke level 3,06% pada 2020.

Sedangkan, dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perbankan berada jauh di atas acuan minimum, yaitu sebesar 25,67% dengan likuiditas yang baik, didukung juga dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 12,21%.

Sebagai informasi, OJK telah memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit perbankan, dari yang sebelumnya berakhir 31 Maret 2022 menjadi berakhir 31 Maret 2023.

Kebijakan itu diambil untuk terus menjaga momentum percepatan pemulihan ekonomi nasional. Selain itu, keputusan diambil atas dasar stabilitas perbankan dan kinerja debitur restrukturisasi Covid-19 yang sudah mulai mengalami perbaikan.

Perpanjangan relaksasi restrukturisasi kredit ini juga merupakan bagian dari kebijakan countercyclical dan menjadi salah satu faktor pendorong yang diperlukan untuk menopang kinerja debitur, perbankan, dan perekonomian secara umum.

Di samping itu, OJK mencatat jumlah investor di pasar modal meningkat cukup signifikan menjadi 7,5 juta pada akhir 2021. Angka ini meningkat 93 % dari tahun 2020, di mana lebih dari 80% merupakan investor milenial.

Adapun, penghimpunan dana di pasar modal juga terus meningkat mencapai Rp 363,3 triliun, atau naik 206 % dari 2020. Wimboh menyebut, pertumbuhan penghimpunan dana di pasar saham ini bahkan menjadi yang terbaik di kawasan Asia Pasifik yang rata-rata hanya 171%.

Ia juga menyampaikan, kinerja pasar modal telah pulih kembali seperti pada level pra-pandemi, dimana per 26 Januari 2022, IHSG telah mencapai 6.600. capaian IHSG tersebut merupakan peringkat ke-3 terbaik di kawasan Asia.

"Sedangkan, nilai kapitalisasi pasar di akhir tahun 2021 yang mencapai Rp 8.252 triliun, merupakan yang terbaik kedua di lingkup ASEAN, setelah bursa saham Thailand," kata dia.

Di sisi lain, stabilitas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) juga terjaga dengan baik, didukung oleh permodalan yang cukup kuat. Hal ini ditandai dengan risk based capital (RBC) industri asuransi jiwa sebesar 539,8% dan asuransi umum sebesar 327,3%. Angka tersebut jauh di atas ambang batas ketentuan sebesar 120%.

Adapun, risiko kredit di perusahaan pembiayaan juga terpantau stabil dengan non-performing financing (NPF) di level 3,53%, setelah sebelumnya sempat mencapai level di atas 5% di tahun 2020.

"Hal ini ditopang oleh kebijakan restrukturisasi pembiayaan. Hingga 17 Januari 2022, restrukturisasi perusahaan pembiayaan mencapai Rp 220,38 triliun dari 5,23 juta kontrak," ujarnya.

Reporter: Cahya Puteri Abdi Rabbi
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait