Rupiah Dibuka Menguat 14.629/US$ Jelang Rilis Neraca Dagang April

Analis memperkirakan rupiah masih akan melemah di perdagangan hari ini, seiring masih tingginya kekhawatiran pasar terhadap pengetatan moneter di AS.
Image title
17 Mei 2022, 10:08
Rupiah
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Pekerja menghitung uang dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Rabu (5/1/2022).

Nilai tukar rupiah dibuka menguat 68 poin ke level Rp 14.629 per dolar AS di pasar spot Selasa (17/5) pagi ini. Rupiah menguat jelang rilis data neraca dagang bulan April siang ini yang diperkirakan masih akan mencetak surplus besar.

Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik melemah dari posisi pembukaan menuju Rp 14.637 pada pukul 09.20 WIB. Namun, ini masih lebih baik dari posisi penutupan kemarin di Rp 14.697 per dolar AS.

Mayoritas mata uang Asia lainnya menguat terhadap dolar AS pagi ini. Won Korea Selatan menguat 0,44% disusul yuan Cina 0,19, dolar Singapura 0,17%, baht Thailand 0,15%, dolar Taiwan 0,12%, peso Filipina 0,08% dan ringgit Malaysia 0,01%. Sebaliknya, rupee India anjlok 0,49% bersama yen Jepang yang melemah tipis 0,04%, sedangkan dolar Hong Kong stagnan.

Analis pasar uang Ariston Tjendra menilai rupiah masih akan melemah di perdagangan hari ini, seiring masih tingginya kekhawatiran pasar terhadap pengetatan moneter di AS. Rupiah diramal bergerak di rentang Rp 14.550 hingga Rp 14.650 per dolar AS.

Advertisement

"Pasar kemungkinan masih mengantisipasi perubahan kebijakan pengetatan moneter AS yang lebih agresif di bulan-bulan mendatang," ujarnya, Selasa (17/5).

Seperti diketahui, The Fed mengumumkan kenaikan 50 bps pada pertemuan awal bulan ini. kenaikan tersebut merupakan kedua kalinya setelah kenaikan pertama pada pertemuan Maret sebesar 25 bps. Dalam beberapa kesempatan, The Fed menegaskan masih sesuai pada rencananya untuk menaikan bunga 50 bps pada dua pertemuan mendatang.

Indeks dolar AS juga masih bertahan tinggi di level 104,2 pada penutupan perdagangan semalam, meski turun dari level tertingginya di 105.

Namun, Ariston juga menyebut harga aset berisiko Asia terlihat positif pagi ini. Indeks saham Asia mayoritas positif, Nikkei 225 Jepang menguat 0,40% , Hang Seng Hong Kong 1,40% , Kospi Korea Selatan 0,89% dan Nifty 50 India 0,38%. 

Sebagian nilai tukar emerging market juga bergerak menguat terhadap dolar AS. Sentimen positif di aset berisiko tersebut bisa menahan pelemahan rupiah.

Dari dalam negeri, pasar kini menunggu rilis neraca dagang bulan April yang diramal masih akan tinggi. Ekspektasi pasar surplus akan mencapai US$ 3,25 miliar. "Kalau surplus lagi, menunjukkan trens surplus masih posiitf, ini mungkin bisa menahan pelemahan rupiah," ujarnya.

Analis DCFX Lukman Leong memperkirakan rupiah masih akan tertekan hari ini dan bergerak di rentang Rp 14.600-Rp 14.750 per dolar AS. Dari eksternal, kenaikan suku bunga dan kekhawatiran terhadap resesi di ekonomi AS telah memicu penguatan dolar AS.

"Dari dalam negeri, sentimen yang melemahkan rupiah belakangan ini adalah menurunnya cadangan devisa dan inflasi yang melonjak," ujar Lukman kepada Katadata.co.id

Bank Indonesia mencatat cadangan devisa RI sudah turun dalam dua bulan terakhir sejak Maret 2022. Pada periode April, cadev turun US$ 3,4 miliar, penurunan lebih besar dari bulan sebelumnya US$ 2,3 miliar.

Berkurangnya cadangan devisa tersebut disebabkan adanya pembayaran utang luar negeri pemerintah dan antisipasi kebutuhan likuiditas valas sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian.

Sementara itu, inflasi pada April tercatat sebesar 0,95% secara bulanan, rekor tertinggi sejak 2017. Sementara inflasi tahunan sebesar 3,47% merupakan yang tertinggi sejak Agustus 2019.

Reporter: Abdul Azis Said
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait