Ancaman Resesi 2023, OJK Janji Perpanjang Relaksasi Industri Asuransi

Kebijakan relaksasi industri asuransi yang bersifat substantif ialah pelonggaran batas waktu pembayaran premi, sementara relaksasi penyampaian laporan tidak diperpanjang.
 Zahwa Madjid
23 November 2022, 14:33
Asuransi
ANTARA FOTO/Galih Pradipta/foc.
Petugas membersihkan logo asuransi jiwa di Kantor Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen memperpanjang kebijakan relaksasi kepada industri asuransi, di tengah ancaman resesi ekonomi global yang berpotensi terjadi dalam waktu dekat dan berdampak pada sektor keuangan. 

Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2A OJK, Ahmad Nasrullah mengatakan, relaksasi tersebut dilakukan untuk mendukung pertumbuhan industri asuransi.

"Kami akan menerapkan kebijakan yang sifatnya mendukung pertumbuhan industri asuransi dengan tetap menyeimbangkan kepentingan konsumen," kata Ahmad dalam acara Insurance Outlook 2023, dikutip Rabu (23/11).

Kebijakan perpanjangan relaksasi tersebut diputuskan setelah berdiskusi dengan berbagai pihak di industri asuransi.

Advertisement

Adapun relaksasi yang akan dilakukan bersifat substantif, seperti pelonggaran batas waktu pembayaran premi. Sementara itu, relaksasi penyampaian laporan tidak diperpanjang karena saat ini mobilitas sudah kembali normal.

“Relaksasi yang akan kami perpanjang lebih kepada yang bersifat substansif, kalau yang administratif tidak akan kami berikan lagi," tegasnya.

Selain di industri asuransi, ia mengungkapkan kebijakan relaksasi di industri pembiayaan berupa restrukturisasi juga akan diperpanjang pada tahun depan, khususnya untuk mendukung sektor Usaha Menengah, Kecil, dan Mikro (UMKM) agar tetap tumbuh. 

Sebelumnya, OJK pernah menetapkan kebijakan relaksasi kepada industri asuransi karena sulitnya mobilitas ekonomi di tengah masa pandemi Covid-19 beberapa tahun terakhir.

Kebijakan relaksasi pada masa pandemi Covid-19 antara lain berupa perpanjangan masa piutang premi yang diperhitungkan sebagai aset dari sebelumnya dua bulan menjadi empat bulan.

 

Reporter: Zahwa Madjid
Editor: Lavinda
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait