Hindari Kesalahan Ini Saat Menggunakan THR

Tim Publikasi Katadata
16 Maret 2026, 15:00
THR
Freepik.com
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Tunjangan Hari Raya (THR) selalu menjadi momen yang dinantikan menjelang Ramadan dan Idulfitri. Dana tambahan ini sering dianggap sebagai “bonus tahunan” yang bisa langsung dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan Lebaran. 

Namun tanpa perencanaan yang jelas, uang THR justru bisa habis dalam waktu singkat. Survei GoodStats menunjukkan, sebagian besar masyarakat Indonesia menyiapkan anggaran Lebaran di kisaran Rp1 juta hingga Rp3 juta.

Dana tersebut dialokasikan untuk berbagai kebutuhan seperti THR atau parsel untuk keluarga, biaya mudik, hingga membeli pakaian dan makanan Lebaran.
Di tengah peningkatan pengeluaran selama Ramadan dan Idulfitri, penggunaan THR yang kurang bijak dapat membuat kondisi keuangan terasa lebih berat setelah hari raya.

Berikut ini beberapa kesalahan yang sering terjadi saat menggunakan THR.

1. Menganggap THR sebagai uang tambahan yang bebas dibelanjakan

Banyak orang memperlakukan THR sebagai dana tambahan di luar penghasilan utama sehingga tidak diatur secara khusus. Akibatnya, keputusan pengeluaran sering diambil secara spontan tanpa membuat perencanaan.

Padahal, THR tetap merupakan bagian dari pemasukan yang seharusnya dikelola dengan prinsip yang sama seperti gaji bulanan.

2. Pengeluaran impulsif karena euforia Ramadan

Ramadan sering diiringi dengan berbagai promo belanja, diskon marketplace, hingga tren konsumsi yang meningkat. Situasi ini membuat seseorang lebih mudah membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Jika tidak disadari, pengeluaran kecil yang berulang dapat menggerus THR lebih cepat dari perkiraan.

3. Menghabiskan THR untuk konsumsi Lebaran

Tradisi membeli baju baru, menyiapkan hidangan khas, hingga mempercantik rumah menjelang Lebaran sering membuat pengeluaran meningkat dalam waktu singkat.

Namun, ketika seluruh THR digunakan untuk kebutuhan konsumsi, tidak ada dana yang tersisa untuk kebutuhan setelah hari raya.

Padahal setelah hari raya selesai, berbagai pengeluaran rutin seperti cicilan, kebutuhan rumah tangga, hingga biaya sekolah tetap berjalan.

4. Mengelola THR dengan Lebih Bijak

Sejumlah perencana keuangan menyarankan agar THR tidak dianggap sebagai uang bebas pakai, tetapi sebagai kesempatan untuk memperkuat kondisi finansial.

Perencana keuangan Andy Nugroho menyarankan alokasi sederhana, misalnya sekitar 80 persen untuk kebutuhan Lebaran, 10 persen untuk tabungan, dan 10 persen untuk dana cadangan setelah hari raya.

Sementara itu, perencana keuangan Rista Zwestika membagi fungsi THR ke dalam tiga pos utama: kebutuhan ibadah dan sosial seperti zakat atau sedekah, kebutuhan hari raya, serta kebutuhan masa depan seperti tabungan atau investasi.

Dengan pembagian yang sederhana, THR tidak hanya habis untuk merayakan Lebaran, tetapi juga membantu menjaga kondisi keuangan setelah hari raya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan