3 Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Lucu dan Menghibur Namun Tetap Mendidik
Membacakan dongeng bisa menjadi salah satu kegiatan yang bisa dilakukan orang tua untuk menghabiskan waktu bersama anak sebelum tidur.
Mengutip Raising Children, membaca dan mendengar cerita dapat membantu anak mengenal bunyi, kata, dan bahasa, serta mengembangkan keterampilan literasi dini.
Tidak hanya itu, membacakan dongeng anak sebelum tidur untuk anak juga dapat merangsang imajinasi, meningkatkan kreativitas, serta mempererat hubungan antara orang tua dan anak.
Jika bingung, orang tua bisa memilih dongeng yang penuh humor namun tetap sarat pesan moral agar anak merasa terhibur dan rileks sebelum masuk ke dalam dunia mimpi.
Berikut di bawah ini beberapa dongeng anak sebelum tidur yang lucu dan menghibur yang bisa dijadikan pilihan.
Dongeng Anak Sebelum Tidur yang Lucu
Berikut ini tiga dongeng lucu dan menghibur yang bisa dibacakan sebagai pengantar tidur anak.
1. Si Beruang dan Lebah
Suatu hari, seekor beruang tengah menjelajahi hutan untuk mencari buah-buahan. Di tengah pencarian, ia menemukan pohon tumbang di mana terdapat sarang tempat lebah menyimpan madu.
Beruang itu mulai mengendus-endus dengan hati-hati di sekitar pohon tumbang tersebut untuk mencari tahu apakah lebah-lebah sedang berada dalam sarang tersebut.
Tepat pada saat itu, sekumpulan kecil lebah terbang pulang dengan membawa banyak madu. Lebah-lebah yang pulang tersebut, tahu akan maksud sang Beruang dan mulai terbang mendekati sang Beruang, menyengatnya dengan tajam lalu lari bersembunyi ke dalam lubang batang pohon.
Seketika Beruang tersebut menjadi sangat marah, loncat ke atas batang yang tumbang tersebut dan dengan cakarnya menghancurkan sarang lebah. Tetapi hal ini malah membuat seluruh kawanan lebah yg berada dalam sarang, keluar dan menyerang sang Beruang.
Beruang yang malang itu akhirnya lari terbirit-birit dan hanya dapat menyelamatkan dirinya dengan cara menyelam ke dalam air sungai.
Si Monyet Ceroboh dan Bunga Mawar Sihir
Di suatu hutan yang subur, tinggalah seekor monyet bernama Momo yang selalu ceria dan penuh kecerdikan. Momo adalah monyet yang paling nakal di hutan itu, dan dia selalu mencari petualangan baru. Suatu hari, saat menjelajahi hutan, Momo menemukan sebuah bunga mawar yang bersinar-sinar di balik semak-semak.
Tidak bisa menahan rasa penasarannya, Momo mendekati bunga mawar itu dengan hati-hati. Ternyata, bunga mawar itu adalah bunga mawar sihir yang dapat mengabulkan keinginan siapa pun yang menciumnya.
Dengan gembira, Momo mencium bunga mawar itu dan segera mengucapkan keinginannya, "Aku ingin bisa terbang seperti burung!"
Tiba-tiba, sayap muncul di punggung Momo, dan dia pun bisa terbang ke langit dengan gembira. Namun, ketika Momo sedang terbang tinggi-tinggi, dia tidak sengaja menabrak pohon besar dan jatuh ke tanah dengan gempar.
Momo menggosok-gosokkan kepala yang pusing dan berkata pada dirinya sendiri, "Aduh, aku pikir terbang itu menyenangkan, tapi ternyata sangat menegangkan!"
Tetapi, Momo tidak menyerah begitu saja. Dia memutuskan untuk mencoba lagi. Kali ini, dia menginginkan kekuatan super seperti pahlawan dalam buku cerita yang sering dia dengar dari kakeknya.
Ketika Momo mencium bunga mawar itu untuk kedua kalinya dan mengucapkan keinginannya, tiba-tiba saja dia merasa sangat kuat dan tangguh. Dia merasa seperti pahlawan super! Namun, ketika dia mencoba mengangkat batu besar, dia malah terjatuh ke belakang karena batunya terlalu berat.
Dengan tertawa kecil pada dirinya sendiri, Momo menyadari bahwa kekuatan sejati sebenarnya adalah keberanian dan kebaikan hati. Dan dari saat itu, Momo tidak lagi mencari keajaiban dari bunga mawar sihir, tapi dia tetap menjadi monyet yang ceria dan penuh semangat, siap untuk menjalani petualangan baru di hutan yang indah itu.
Tuah, Tupai Si Pantang Menyerah
(sumber: buku 5 Dongeng Anak Dunia karya Dedik Dwi Prihatmoko)
Di daerah perbukitan Pulau Jawa, terdapat kumpulan tupai pemakan buah kelapa. Para tupai jantan memiliki kegemaran unik yaitu meloncat dari ranting pohon ke ranting pohon lainnya. Sementara para tupai betina lebih suka merayap. Mereka tidak berani untuk meloncat.
Tetapi berbeda dengan Tuah, tupai betina si pantang menyerah. Dia ingin sekali dapat meloncat. Oleh karena itu, Tuah mendatangi Eyang Tupai. Beliau adalah pelatih yang selama ini mengajari para tupai jantan meloncat.
"Eyang, jadikanlah aku muridmu seperti para tupai jantan itu," pinta Tuah. "Kamu perempuan, sudahlah tidak perlu kamu susah payah berlatih loncat padaku," jawab Eyang Tupai. "Tolonglah Eyang, aku ingin seperti para tupai jantan yang dengan mudah meloncat dari satu pohon ke pohon lain," ucap Tuah dengan nada memohon.
Eyang Tupai akhirnya merasa kasihan melihat Tuah yang begitu ingin berlatih melompat padanya. Eyang pun melatih Tuah sama seperti melatih tupai jantan lainnya.
Hari pertama latihan menjadi hari yang cukup buruk. Tuah jatuh berkali-kali. Begitupun di hari kedua, ketiga, keempat, dan kelima.
Sepekan sudah lamanya Tuah berlatih. Ia berusaha keras untuk menjadi peloncat seperti tupai jantan, tetapi belum ada tanda-tanda keberhasilan.
"Sudahlah Tuah, kau tidak usah menyiksa tubuhmu seperti ini. Terimalah keadaanmu seperti apa adanya."
"Tidak Eyang, aku hanya perlu berlatih lebih keras lagi, insyaallah aku akan seperti tupai jantan yang dapat melompat dengan lincahnya," ucap Tuah. Ia pun kembali berlatih sesuai apa yang diajarkan Eyang Tupai sebelumnya.
Dalam hati Eyang Tupai berkata, "Tupai betina ini sungguh pantang menyerah."
Tidak terasa, sudah dua bulan Tuah berlatih meloncat. Dan usahanya selama ini akhirnya membuahkan hasil. Kini Tuah sudah dapat meloncat layaknya tupai jantan. Dari satu pohon ke pohon lainnya ia meloncat dengan indahnya.
"MasyaAllah... Eyang kagum melihat perjuanganmu selama ini, maafkan Eyang ketika dulu pernah merendahkanmu sebagai seekor tupai betina yang lemah. Selamat atas keberhasilanmu!" ucap Eyang Tupai, si pelatih.
Berkat perjuangan Tuah, Eyang Tupai terketuk hatinya bahwa semua makhluk memiliki potensi yang sama, yang membedakan hanyalah usaha dan kerja kerasnya.
Setelah kejadian itu, Eyang Tupai mulai membuka kelas latihan lompat secara terbuka, tanpa memandang ia tupai jantan ataukah betina, karena yang menentukan adalah sikap pantang menyerah dalam dirinya.
Itulah tiga dongeng anak sebelum tidur yang lucu dan menghibur namun tetap mendidik yang bisa dibacakan untuk buah hati tercinta.

