10 Contoh Cerita Libur Lebaran Idul Fitri 2025 dengan Berbagai Tema

Ghina Aulia
8 April 2025, 16:34
Contoh Cerita Libur Lebaran Idul Fitri 2025 dengan Berbagai Tema
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/tom.
Penumpang pesawat berjalan keluar terminal setibanya di Terminal 1 A Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (7/4/2025). PT Angkasa Pura Indonesia (API) Cabang Bandara Soekarno Hatta mencatat pada Senin (7/4) sebagai puncak arus balik Lebaran gelombang kedua dengan pergerakan kedatangan penumpang mencapai 95.966 orang.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Libur lebaran merupakan momen yang banyak dinantikan umat Islam. Meski demikian, libur tersebut diterapkan kepada seluruh masyarakat dengan aturan kalender nasional yang ditetapkan oleh pemerintah. Kegiatan paling umum yang dilaksanakan saat libur lebaran adalah mudik, khususnya bagi perantau.

Di kampung halaman, kita biasa banyak menghabiskan waktu dengan keluarga dan kerabat dekat. Di samping itu, bagi siswa sekolah, sudah umum mendapatkan tugas untuk membuat karangan bebas bertema lebaran. Tujuannya yaitu untuk tetap disiplin dan mendokumentasikan momen berarti selama liburan dalam bentuk tulisan.

Terkait dengan itu, berikut sejumlah contoh cerita libur lebaran Idul Fitri 2025 dengan berbagai tema yang bisa dijadikan referensi. Selengkapnya, simak daftarnya di bawah ini.

Contoh Cerita Libur Lebaran Idul Fitri 2025 dengan Berbagai Tema

1.      Mudik ke Jogja

Hari Raya Idul Fitri tahun ini terasa sangat istimewa untukku. Setelah 30 hari aku berpuasa, menahan lapar dan haus, kini aku bisa berlebaran bersama dengan keluarga. Tak hanya itu saja, lebaran tahun ini aku, ayah dan ibu juga bisa mudik ke rumah nenek dan kakek yang ada di Jogja.

Kami berangkat sehari setelah ayah libur dari kantornya menggunakan kereta api. Aku sangat senang karena bisa kembali berkunjung ke rumah kakek dan nenek serta bertemu saudara-saudara lain yang ada di desa. Stasiun juga tampak ramai. Usai perjalanan yang cukup lama, namun tak terasa karena aku hanya tidur, aku akhirnya sampai di Yogyakarta.

Ayah segera memesan taksi online dan kami menuju ke rumah kakek dan nenek. Kedatangan kami sudah disambut oleh bude yang selama ini menemani kakek dan nenek. Keesokan harinya, aku, ayah dan ibu pergi ke lapangan di dekat rumah kakek dan nenek untuk shalat ied. Usai shalat ied aku segera kembali ke rumah kakek dan nenek untuk menyantap opor ayam dan ketupat buatan bude. Setelah itu, ayah mengajakku untuk sungkeman ke kakek dan nenek.

Selesai sungkem, kakek memberiku angpao yang membuatku sangat senang. Seharian, tetangga dan saudara-saudara juga datang ke rumah kakek dan nenek. Tiga hari berada di rumah kakek dan nenek, aku, ayah dan ibu pun harus kembali pulang ke Jakarta. Meski singkat namun aku sangat senang masih bisa merayakan hari raya idul fitri bersama dengan keluargaku.

2.     Jalan-Jalan ke Kebun Binatang

Saat libur Lebaran kemarin, karena saya tidak mudik ke kampung halaman. Bunda dan Ayah mengajak saya menghabiskan waktu rekreasi di tempat wisata di sekitar sini saja. Kali ini, Ayah dan Bunda mengajak saya ke Kebun Binatang Ragunan. Saking senangnya, sejak pagi saya sudah bersemangat membantu Bunda menyiapkan semua keperluan. Saya juga membantu menyiapkan bekal dan camilan untuk disantap di sana.

Supaya tidak terlalu panas dan lebih sepi, kami berangkat sejak pagi. Dari rumah, kira-kira perlu waktu sekitar satu jam perjalanan karena banyak sekali menemui lampu merah. Sesampainya di depan kebun binatang, Ayah pergi ke loket untuk membeli tiket masuk. Kemudian kami pun masuk ke dalam kebun binatang.

Di dalam sana, saya melihat ada banyak sekali jenis-jenis hewan. Biasanya saya cuma melihat hewan-hewan ini dari buku saja. Selain itu, saya juga melihat akuarium berisi ikan-ikan unik berukuran besar. Ketika hari mulai siang, udara pun semakin panas dan matahari mulai terik. Bunda mengajak saya istirahat dulu sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Setelah itu, sekitar pukul 1 siang kami pun pulang. Rasanya sangat menyenangkan.

3.    Takbir Keliling

Masa takbiran adalah saat yang membahagiakan bagi semua orang terutama adik dan ayah. Setelah sore akhir Ramadhan, mereka biasanya berkumpul di mushola terdekat untuk menabuh bedug dan takbir. Kami juga takbir berjamaah di jalan raya dalam satu kendaraan. Beberapa mobil dilengkapi dengan speaker dan drum berjalan beriringan.

Di dalam kendaraan, beberapa orang mengulang takbir di tengah jalan. Takbir keliling ini dilakukan dengan berjalan kaki keliling kampung. Malam menuju Hari Raya Idul Fitri pun menjadi sangat meriah. Mulai dari Pak RT dan Pak RW hingga ibu-ibu turut memeriahkan takbiran keliling pada tahun ini. Kami beramai-ramai menyuarakan “Allahu Akbar” dan suara tersebut terdengar menyejukkan walaupun orang-orang berteriak menyebutnya.

4.    Idul Fitri dengan Keluarga

Pada hari pertama Lebaran, 1 Syawal 1446 Hijriah, saya bersama keluarga terlebih dahulu melaksanakan Salat Idul Fitri berjamaah. Kami mengikuti Salat Idul Fitri berjamaah di lapangan yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Di lapangan sudah tersedia karpet tebal. Namun, untuk mengantisipasi tidak mendapat tempat dengan karpet tersebut, saya bersama keluarga menyiapkan koran dan membawa sajadah sendiri-sendiri. Pelaksanaan Salat Idul Fitri di lapangan pada tahun ini cukup hikmat.

Selain dipenuhi oleh umat muslim, cuacanya juga cukup sejuk. Tidak terlalu panas, tapi juga tidak hujan. Seusai melaksanakan sholat, kami pun segera pulang ke rumah untuk saling bermaaf-maafan. Tidak lupa saya pun beberapa kali singgah ke rumah tetangga dan teman dekat untuk bersilaturahmi. Setibanya di rumah, barulah gantian saya yang meminta maaf kepada Ayah dan Ibu, juga kepada kakak dan adik.

Setelah kegiatan bermaaf-maafan bersama keluarga di rumah, kami pun bergegas pergi ke rumah nenek. Rencana kegiatan kami adalah bersilaturahmi ke rumah nenek, mengikuti syukuran, dan dilanjutkan dengan ziarah kubur. Rumah nenek tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami, yaitu sekitar 20 km. Bisa kami tempuh selama 30-40 menit dengan mengendarai sepeda motor. Pada pukul 10.00 WIB, saya bersama keluarga tiba di rumah nenek. Kami pun saling bersapa, bermaaf-maafan, dan saling mendoakan. Di rumah nenek, saya mendapat THR berupa beberapa lembar uang baru. Belum selesai sampai di sana, para paman dan bibi pun tidak segan-segan memberikan uang jajan tambahan untuk saya, kakak, dan adik.

Bahagia rasanya, karena pada Lebaran Idul Fitri tahun ini, kami bisa berkumpul dengan keluarga besar, saling mendoakan, dan senantiasa sehat. Sekitar pukul 11.00 WIB, saya pun diajak oleh ayah dan ibu untuk berziarah kubur. Karena lokasi TPU tidak terlalu jauh dari rumah nenek, kami mendatanginya dengan cara berjalan kaki. Sesampainya di tempat ziarah, saya pun menghampiri makam adik yang telah meninggal, dan beberapa sanak-saudara dari pihak ayah yang telah meninggal. Karena cuacanya sudah cukup terik, kami berziarah hanya sebentar saja dan setelahnya segera kembali ke rumah nenek.

5.    Liburan di Rumah Nenek

Untuk mengisi liburan panjang lebaran Idul Fitri, saya dan orangtua memilih liburan di rumah nenek. Ada banyak kegiatan yang seru dan menyenangkan selama liburan di rumah nenek. Seperti bermain umpet di petak sawah yang berlumpur. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan memancing ikan di kolam.

Selama liburan sekolah di kampung halaman itu, ada banyak kegiatan yang seru dan menyenangkan yang penulis rasakan. Salah satunya penulis berkenalan dengan teman-teman baru di kampung. Sebagian besar dari mereka berasal dari keluarga yang berada di kelas menengah ekonomi ke bawah. Orang tua mereka bermata pencaharian sebagai petani. Beberapa saat kemudian, Ayah dan ibuku mengajak aku untuk pergi ke kebun di belakang rumah nenek.

Tampak berbagai pohon buah-buahan di belakang rumah nenek yang sangat rimbun. Tampak pula buah nanas dan buah sirsak yang sudah matang. Dengan bantuan ayah, aku pun bisa memetik buah nanas dan buah sirsak. Sehabis memetik buah-buahan tersebut, aku pun mandi. Tak lama kemudian, ayah dan ibuku menyuruh aku untuk pamit kepada nenek. Nenek pun tersenyum bahagia ketika aku bersalaman dengan nenek dan meminta ijin pamit untuk pulang kembali ke kota. Tak lupa kemudian, nenek memberiku uang sebesar Rp 40.000. Aku pun sangat bahagia.

6.   Menyambut Saudara saat Lebaran

Libur Lebaran di tahun ini sama dengan Lebaran di tahun-tahun sebelumnya. Saya tidak pergi mudik, sebab saya tinggal di kampung halaman orang tua saya. Saya juga tinggal dengan nenek dan kakek saya. Momen libur Lebaran sangat menyenangkan bagi saya, karena saya dapat bertemu kembali dengan saudara sepupu saya yang tinggal jauh di kota lain.

Saya hanya bertemu sepupu-sepupu saya setahun sekali, ketika mereka mudik ke daerah ini. Ketika masa libur sekolah, setiap hari saya hanya di rumah dan bermain dengan teman-teman saya. Sesekali saya juga membantu ibu untuk mempersiapkan masakan untuk hari raya. Masakan ibu di momen Lebaran yang sangat saya sukai adalah opor ayam. Terkadang saya merasa bosan ketika tidak memiliki teman bermain karena teman-teman saya mulai pergi mudik. Hampir setiap hari saya bertanya kepada ibu, kapan sepupu-sepupu saya akan datang.

Ketika sepupu saya datang, saya sangat gembira menyambutnya. Mereka datang dari kota yang jauh dengan menaiki kereta. Saya dan ayah menjemput mereka di stasiun. Suasana stasiun sangat ramai menjelang Lebaran. Sepupu saya melambaikan tangan dari kejauhan ketika turun dari kereta. Saya membalas melambaikan tangan dan menunggunya menghampiri kami. Sepanjang perjalanan ke rumah, kami banyak bertukar cerita.

Sampai di rumah, ibu, nenek dan kakek saya turut menyambut kedatangan sepupu saya dan orang tuanya. Nenek dan ibu juga telah menyiapkan masakan untuk dihidangkan. Kami makan bersama di malam itu, dengan bersenda gurau dan bertukar cerita. Keesokan harinya merupakan Lebaran. Kami menyambut banyak tamu dan saudara-saudara lain yang baru berdatangan. Kami menyantap menu Lebaran bersama.

Setelah itu para orang tua membagikan THR bagi anak-anak kecil, termasuk saya. Malam hari pun tiba. Semua keluarga kami berkumpul dan menginap di rumahku. Aku dan sepupu-sepupuku menginap di satu kamar beramai-ramai, sambil bercerita dan menonton film bersama. Momen itu sangat membahagiakan bagi saya.

7.     Liburan Mudik ke Kampung Halaman

Setiap tahun saat libur Lebaran tiba, saya selalu bersemangat karena ini waktunya datang berkunjung ke kampung halaman kakek dan nenek. Perjalanan seru naik kereta selalu menjadi momen yang paling saya tunggu-tunggu. Kami berangkat dari rumah pagi-pagi sekali. Selama perjalanan, saya melihat perbukitan, hutan, dan sawah yang hijau.

Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata. Sambutan dan pelukan hangat selalu ada dari kakek dan nenek saat saya sampai di rumahnya. Mereka selalu punya cerita menarik dan kegiatan seru untuk saya. Setiap hari, saya bangun pagi-pagi dan bersiap untuk petualangan baru. Salah satu kegiatan yang paling saya sukai adalah jalan pagi ke sawah dan memetik buah-buahan di kebun. Bersama sepupu-sepupu saya, kami menjelajahi kebun nenek yang penuh dengan pohon buah. Kami memetik mangga dan rambutan. Setiap malam, kami berkumpul di teras rumah nenek dan kakek.

Semua saling berbagi cerita tentang kegiatan sehari-hari yang seru, sambil memakan camilan tradisional buatan nenek. Ketika liburan hampir berakhir, rasanya sulit untuk pulang karena saya masih rindu dengan suasana di desa. Saya sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama keluarga besar dan berharap waktu liburan berikutnya segera tiba.

8.    Hari Raya Idul Fitri

Dalam merayakan hari raya Idul Fitri, seluruh umat Islam larut dalam kegembiraan, kebahagiaan dan suka cita. Hari Raya Idul Fitri adalah hari yang suci dan penuh kemuliaan. Pada hari itu setiap umat muslim disunnahkan untuk saling bersilaturahmi dan berbagi kebahagiaan. Di momen Idul Fitri ini juga menjadi momen yang tepat untuk saling berbagi kebahagiaan. Pagi hari ini, aku bangun tidur lebih pagi dibanding biasanya.

Setelah bangun tidur, aku bergegas untuk sholat subuh dan mempersiapkan pakaian yang akan ku gunakan untuk melaksanakan salat hari raya Idul Fitri. Perayaan tahunan ini menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi seluruh umat muslim yang ada di penjuru dunia, termasuk aku dan keluargaku. Selepas sholat dan menyiapkan pakaian, aku bergegas untuk mandi hingga bersih agar dapat sholat Idul Fitri dengan khusyu. Setelah itu, aku langsung bergegas bersama keluarga untuk pergi ke tanah lapang yang biasa kami kunjungi untuk menunaikan sholat hari raya Idul Fitri.

Di tanah lapang, kami mengerjakan sholat sunah hari raya Idul Fitri bersama-sama dan mendengar khutbah dari khatib setelah sholat. Sepulang dari tanah lapang dan menunaikan sholat hari raya Idul Fitri, aku dan keluargaku berkumpul di ruang keluarga untuk saling bermaaf-maafan. Setelah itu, kami berfoto bersama untuk dijadikan sebagai kenangan. Kemudian kami mulai berkunjung ke rumah tetangga sekitar dan juga rumah sanak saudara untuk makan siang bersama.

9.    Membantu Ibu Membuat Kue Libur

Hari Raya Idul Fitri tahun ini saya mengisi waktu dengan membantu ibu membuat kue lebaran. Saya membantu ibu membuat kue bulan, nastar hingga lapis nanas. Ketika saya membantu ibu membuat lapis nanas, saya terlalu lama memanggang kue sehingga kuenya gosong, sehingga ibu memarahi saya dan menyuruh saya untuk mengulang membuat kue dari awal.

Saya malu karena saat kami membuat kue, sepupu saya melihatnya dan menertawai saya. Akhirnya dia pun membantu saya membuat kue. Setelah selesai membuat kue kemudian saya membersihkan rumah, mencuci piring dan menyapu halaman. Semua pekerjaanku dibantu oleh sepupu saya sehingga semuanya terasa mudah. Kegiatan itu saya lakukan untuk menyambut lebaran Idul Fitri agar orang-orang nyaman saat berkunjung.

10.           Jalan-jalan ke Kebun Binatang Saat Libur

Lebaran kemarin, karena saya tidak mudik ke kampung halaman. Bunda dan Ayah mengajak saya menghabiskan waktu rekreasi di tempat wisata di sekitar sini saja. Kali ini, Ayah dan Bunda mengajak saya ke Kebun Binatang Ragunan. Saking senangnya, sejak pagi saya sudah bersemangat membantu Bunda menyiapkan semua keperluan. Saya juga membantu menyiapkan bekal dan camilan untuk disantap di sana. Supaya tidak terlalu panas dan lebih sepi, kami berangkat sejak pagi.

Dari rumah, kira-kira perlu waktu sekitar satu jam perjalanan karena banyak sekali menemui lampu merah.  Sesampainya di depan kebun binatang, Ayah pergi ke loket untuk membeli tiket masuk. Kemudian kami pun masuk ke dalam kebun binatang. Di dalam sana, saya melihat ada banyak sekali jenis-jenis hewan. Biasanya saya cuma melihat hewan-hewan ini dari buku saja. Selain itu, saya juga melihat akuarium berisi ikan-ikan unik berukuran besar.  

Ketika hari mulai siang, udara pun semakin panas dan matahari mulai terik. Bunda mengajak saya istirahat dulu sambil menikmati bekal yang dibawa dari rumah. Setelah itu, sekitar pukul 1 siang kami pun pulang. Rasanya sangat menyenangkan. Demikian pembahasan mengenai contoh cerita libur lebaran Idul Fitri 2025 dengan berbagai tema yang patut disimak. Semoga bermanfaat.

Sumber: Sonora, Detik.com, dan lain-lain 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan