5 Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri Karya Joko Anwar

Anggi Mardiana
25 April 2025, 10:22
Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri
Tix.id
Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Apa saja fakta menarik film Pengepungan di Bukit Duri? Munculnya easter egg, membuat para penonton mengaitkannya dengan karya Joko Anwar sebelumnya. Film ini, sudah tayang di bioskop sejak 17 April 2025 di bioskop. Mengangkat isu soal yang kerap terjadi di lingkungan sekolah.

Joko Anwar mengungkapkan bahwa film Pengepungan di Bukit Duri tidak memiliki hubungan dengan film lain yang pernah digarapnya. Meski begitu, sejumlah penonton yang menelusuri lebih dalam, justru menemukan beberapa fakta menarik film pengepungan di Bukit Duri yang terkait karya Joko Anwar sebelumnya.

Fakta Menarik Film Pengepungan di Bukit Duri

Film Pengepungan di Bukit Duri
Film Pengepungan di Bukit Duri (Tix.id)

Film Pengepungan di Bukit Duri berhasil menarik 500 ribu penonton dalam waktu satu minggu, setelah tayang di bioskop. Berikut fakta menarik film Pengepungan di Bukit Duri:

1. Menggunakan Latar Waktu Tahun 2027

Film Pengepungan di Bukit Duri, karya Joko Anwar, menggunakan latar waktu tahun 2027 untuk menciptakan kedekatan emosional dengan penonton. Menurut Joko Anwar, pemilihan tahun tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, apabila ia menggunakan latar tahun 2045, jarak waktunya terlalu jauh dan bisa mengurangi rasa keterhubungan penonton terhadap cerita yang disampaikan.

2. Mengangkat Isu Sosial Masa Kini di Kalangan Remaja

Film Pengepungan di Bukit Duri tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga menyelipkan kritik sosial yang tajam. Salah satu tema besar yang diangkat yaitu anti-kekerasan, khususnya di kalangan remaja. Film ini, memperlihatkan bagaimana generasi muda berusaha menemukan identitas mereka di tengah kekerasan yang kerap kali menjadi bagian dari kehidupannya.

3. Mengangkat Kerusuhan Mei 1998

Selain isu kekerasan remaja, film ini mengangkat tragedi sejarah yaitu kerusuhan Mei 1998. Joko Anwar menambahkan elemen yang merujuk pada peristiwa tersebut, memberikan dampak signifikan terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia. 

Referensi terhadap tragedi ini, dapat ditemukan melalui karakter-karakter dalam film, namun juga disisipkan secara halus melalui elemen simbolis, seperti frekuensi radio 98.05 FM yang menjadi tanda dari peristiwa Mei 1998. Dengan cara ini, Joko Anwar tidak hanya menceritakan kisah pribadi para karakter, tetapi juga menghubungkan mereka dengan tragedi masa lalu.

4. Tayang di Bioskop Tanggal 17 April

Film Pengepungan di Bukit Duri mulai diputar pada 17 April 2025, tanggal tersebut erat kaitannya dengan Pengabdi Setan, yang pertama kali mengangkat latar waktu pada 17 April 1955.  Bahkan dalam Pengabdi Setan 2, tanggal-tanggal seperti 17 April 1897, 17 April 1955, dan 17 April 1984 tercantum dalam sebuah lukisan yang menjadi bagian dari cerita. Pemilihan tanggal tersebut, bisa menjadi cara menciptakan benang merah antara film-filmnya, mengikat cerita dalam rangkaian waktu yang signifikan.

5. Butuh Waktu 17 Tahun untuk Menyelesaikan Skenario

Joko Anwar telah menulis skenario film Pengepungan di Bukit Duri sejak tahun 2007. Ia baru merasa  benar-benar siap merealisasikannya pada tahun 2024, setelah bertahun-tahun proses pengembangan dan pematangan ide. Keputusan memulai produksi setelah 17 tahun, merupakan hasil refleksi mendalam, serta keyakinan bahwa kini merupakan waktu yang tepat untuk menyampaikan cerita tersebut kepada penonton.

Sinopsis Film Pengepungan di Bukit Duri

Dalam situasi negara yang kacau dan nyaris runtuh, seorang guru pengganti bernama Edwin (Morgan Oey) ditugaskan mengajar di SMA Duri, sekolah bermasalah yang kerap dihantui kekerasan. Namun, di balik tugasnya, Edwin menyimpan misi pribadi, yaitu mencari keponakannya yang hilang, sesuai pesan terakhir kakaknya. 

Kedatangan Edwin yang berasal dari kelompok minoritas pun memicu kecurigaan dan konflik, terutama karena identitasnya menjadi sasaran kebencian. Ketika kerusuhan meluas hingga mengepung kota, SMA Duri terisolasi dan berubah menjadi benteng pertahanan terakhir bagi Edwin, para siswa, Diana dan guru lain yang turut berjuang menyelamatkan diri. 

Dalam tekanan dan bahaya yang terus mengintai, mereka berusaha bertahan hidup sambil menghadapi kenyataan pahit sistem sosial yang timpang. Film ini tak hanya menyuguhkan ketegangan, tetapi juga menjadi refleksi atas isu-isu sosial yang selama ini kerap diabaikan yaitu rasisme, kekerasan dalam dunia pendidikan, dan ketidaksetaraan akses bagi generasi muda.

Fakta menarik film Pengepungan di Bukit Duri menjadi salah satu daya tarik utama yang membuat film ini begitu ramai diperbincangkan. Selain berhasil mencatat jumlah penonton yang tinggi dalam waktu singkat, film Pengepungan di Bukit Duri juga menyuguhkan cerita dengan latar konflik sosial yang relevan dengan kondisi saat ini.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan