10 Puisi Terbaik Karya Penyair Indonesia, Chairil Anwar hingga Aan Mansyur

Ghina Aulia
8 Mei 2025, 09:28
Puisi Terbaik Karya Penyair Indonesia
ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj.
Seorang pengunjung mengambil gambar saat pameran mengenang 100 tahun Chairil Anwar di Galeri Salihara, Pasar Minggu, Jakarta, Jumat (4/11/2022). Komunitas Salihara menggelar pameran dalam rangka mengenang 100 tahun Chairil Anwar bertajuk Aku Berkisar Antara Mereka yang merupakan salah satu rangkaian dari program Seratus Tahun Chairil Anwar, berlangsung Oktober hingga 4 Desember 2022.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Puisi Indonesia tumbuh lewat generasi penyair yang membawa pembaruan. Dari gaya lama yang kaku, lahir ekspresi bebas lewat tokoh seperti Chairil Anwar.

Tema puisi makin luas, dari cinta sampai kritik sosial. Kini, puisi tak hanya dibaca, tapi juga dinyanyikan dan ditampilkan di banyak media dengan sebutan musikalisasi puisi.

Puisi menyampaikan makna lewat kata-kata sederhana tapi kuat. Karya sastra ini membuka ruang untuk perasaan dan pemikiran mendalam.

Berikut ini sejumlah puisi terbaik karya penyair Indonesia. Termasuk di antaranya Chairil Anwar Dan Sapardi Djoko Damono. Simak tulisan di bawah ini untuk lengkapnya.

Puisi Terbaik Karya Penyair Indonesia

1. Tak Sepadan

Karya: Chairil Anwar

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasvéros.

Dikutuk sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak 'kan apa apa

Aku terpanggang tinggal rangka.

2. Yang Fana Adalah Waktu

Karya: Sapardi Djoko Damono

Yang fana adalah waktu. Kita abadi memungut detik demi detik,
merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari
kita lupa untuk apa
“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.

3. Kekasih

Karya: WS Rendra

Kekasihku seperti burung murai.
Suaranya merdu.
Matanya kaca.
Hatinya biru.
Kekasihku seperti burung murai.
Bersarang indah di dalam hati.
Muraiku,
hati kita berdua adalah pelangi selusin warna.

4. Lukisan Berwarna

Karya: Joko Pinurbo

untuk Andreas dan Dorothea

Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.

Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.

Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.

Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.

Air mata beratus warna kau tumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.

5. Herman

Karya: Sutardji Calzoum Bachri

herman tak bisa pijak di bumi tak bisa malam di bulan
tak bisa hangat di matari tak bisa teduh di tubuh
tak bisa biru di lazuardi tak bisa tunggu di tanah
tak bisa sayap di angin tak bisa diam di awan
tak bisa sampai di kata tak bisa diam di diam tak bisa paut di mulut
tak bisa pegang di tangan takbisatakbisatakbisatakbisatakbisatakbisa

di mana herman? kau tahu?
tolong herman tolong tolong tolong tolongtolongtolongtolongngngngngng!

6. Kembalikan Indonesia Padaku

Karya: Taufiq Ismail

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga
Hari depan Indonesia adalah bola-bola lampu 15 watt
sebagian berwarna putih dan sebagian hitam, yang menyala bergantian
Hari depan Indonesia adalah pertandingan pingpong siang malam
dengan bola yang bentuknya seperti telur angsa
Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang tenggelam
karena seratus juta penduduknya

Kembalikan Indonesia padaku

Hari depan Indonesia adalah satu juta orang main pingpong
Siang malam dengan bola telur angsa di bawah sinar lampu 15 watt

Hari depan Indonesia adalah pulau Jawa yang pelan-pelan
tenggelam lantaran berat bebannya
kemudian angsa-angsa berenang di atasnya

Hari depan Indonesia adalah dua ratus juta mulut yang menganga
dan di dalam mulut itu ada bola-bola lampu 15 watt
sebagian putih dan sebagian hitam yang menyala bergantian

Hari depan Indonesia adalah angsa-angsa putih
yang berenang-renang sambil main pingpong
di atas pulau Jawa yang tenggelam
dan membawa seratus juta bola lampu 15 watt ke dasar lautan

Kembalikan Indonesiaku

7. Dalam Kemah

Karya: Goenawan Mohamad

Sudah sejak awal kita berterus terang dengan sebuah teori: cinta adalah potongan- potongan pendek interupsi-lima menit, tujuh menit, empat.... Dan aku akan menatapmu dalam tidur.

Apakah yang bisa bikin kau lelap setelah percakapan? Mungkin sebenarnya kita terlena oleh suara hujan di terpal kemah. Di ruang yang melindungi kita untuk sementara ini aku, optimis, selalu menyangka grimis sebenarnya ingin menghibur, hanya nyala tak ada lagi: kini petromaks seakan-akan terbenam. Jam jadi terasa kecil. Dan ketika hujan berhenti, malam memanjang karena pohon-pohon berbunyi.

Kemudian kau mimpi. Kulihat seorang lelaki keluar dari dingin dan asap nafasmu: kulihat sosok tubuhku, berjalan ke arah hutan. Aku tak bisa memanggilnya.

Aku dekap kamu.

Setelah itu bau kecut rumput, harum marijuana, pelan-pelan meninggalkan kita.

8. Dia dan Aku

Karya: Sitor Situmorang

Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
- Bukankah udara penuh hampa ingin harga? -
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali

Akankah kita utamakan percakapan begini?
- Bukankah bumi penuh suara inginkan isi? -
Mari, Dik, dekatkan bibirmu pada bisikan hati
Tapi jangan sampai megap napas bernyanyi

Bukankah dada hamparkan warna
Di pelaminan musim silih berganti
Padamu jua kelupaan dan janji

Akan ke permainan rahasia
Permainan cumbu-dendam silih berganti
Kemasygulan tangkap dan lari

9. Ujung-ujung Hujan

Karya: Aan Mansyur

dulu dalam dingin kita berpelukan
sambil membayangkan ujung-ujung hujan
sebagai kembang api yang merayakan
cinta yang tak akan pernah dijarakkan

sampai tibalah hari hari itu
kau berlalu, aku menutup pintu
dan ujung-ujung hujan yang jatuh
tumbuh jadi rerumputan dan perdu

hari ini, tiba-tiba aku ingat kau,
di dada jalan yang membawamu jauh
setiap ujung hujan yang menyentuh
adalah mekaran bunga-bunga beribu

10. Aku

Karya: Chairil Anwar

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih perih
Dan akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi.

Itulah sederet puisi terbaik karya penyair Indonesia yang mengandung makna mendalam. Dari puisi-puisi tersebut, kita bisa menangkap nuansa emosional, keindahan dalam pilihan kata, serta cerminan kehidupan yang disuguhkan secara memikat dan bermakna.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan