Contoh Susunan Acara 17 Agustus untuk Upacara Perayaan HUT Ke 80
Setiap tanggal 17 Agustus, seluruh lapisan masyarakat Indonesia—mulai dari sekolah, kantor pemerintahan, hingga desa dan lingkup RT/RW—menggelar upacara bendera sebagai bentuk penghormatan atas kemerdekaan Republik Indonesia.
Upacara ini bukan sekadar rutinitas, melainkan sarana penguat nilai-nilai nasionalisme, semangat gotong royong, serta wujud penghargaan kepada para pahlawan yang telah gugur.
Untuk memastikan pelaksanaannya berjalan tertib, khidmat, dan terstruktur, pedoman dari Kemendikbudristek menyarankan agar susunan acara mencakup beberapa rangkaian pokok. Susunan acara 17 Agustus dalam upacara hari kemerdekaan perlu dipersiapkan dengan baik.
Contoh Susunan Acara Upacara 17 Agustus yang Sesuai Protokoler
1. Persiapan dan Pembukaan
Kegiatan dimulai saat seluruh peserta sudah berkumpul di lapangan sesuai formasi yang ditetapkan. Komandan upacara memeriksa kesiapan barisan, memastikan seluruh peserta berdiri rapi dan siap mengikuti acara. Setelah itu, pemimpin upacara memasuki lapangan, dilanjutkan dengan laporan resmi kepada pembina upacara bahwa rangkaian sudah siap untuk dimulai .
2. Penghormatan dan Pengibaran Bendera
Pada sesi ini, penghormatan kepada pembina upacara dilakukan sebelum bendera dikibarkan. Prosesi pengibaran Bendera Merah Putih menjadi inti upacara, diiringi dengan tepuk tangan khidmat saat seluruh peserta menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Jika tidak ada paduan suara, suara rekaman tetap dapat digunakan. Seluruh peserta diwajibkan berdiri tegap dan memberikan penghormatan penuh .
3. Mengheningkan Cipta
Setelah bendera berkibar sempurna, suasana upacara beralih ke penghormatan terdalam: mengheningkan cipta. Di bawah pimpinan pembina upacara, semua peserta diminta hening sejenak mengenang jasa para pahlawan. Momen ini diyakini mampu menumbuhkan rasa hormat dan ucapan syukur atas kemerdekaan yang diperoleh.
4. Pembacaan Teks Resmi
Rangkaian dilanjutkan dengan pembacaan teks kenegaraan: berikut susunannya menurut pedoman resmi:
Teks Pancasila, dibacakan penuh semangat oleh pembina upacara, lalu diikuti barisan peserta .
Pembukaan UUD 1945, adalah bagian berikutnya, sebagai pengingat landasan konstitusi negara.
Teks Proklamasi Kemerdekaan, dibacakan oleh tokoh terpilih—bisa siswa, guru, atau pejabat—sebagai bentuk penghormatan terhadap momen bersejarah.
5. Amanat dan Doa
Usai rangkaian teks resmi, pembina menyampaikan amanat yang memuat pesan nasionalisme, refleksi perjuangan, dan harapan masa depan. Amanat hendaknya disesuaikan dengan audiens—apakah siswa, pegawai, atau masyarakat umum. Kemudian acara dilanjutkan dengan doa bersama, dipimpin oleh petugas yang telah ditunjuk, agar negara diberi keselamatan, kedamaian, dan kemakmuran.
6. Lagu Kebangsaan dan Penutupan
Untuk memperkuat nuansa kebangsaan, rangkaian diselingi dengan lagu-lagu nasional seperti “Hari Merdeka”, “Bagimu Negeri”, atau “Syukur”, dibawakan oleh paduan suara atau lewat rekaman. Setelah semua sesi selesai, komandan upacara memberikan laporan akhir, pembina meninggalkan lapangan diiringi penghormatan, dan barulah pasukan dibubarkan secara tertib.
Dengan susunan acara yang terstruktur dan pelaksanaan yang tertib, makna upacara akan terasa lebih dalam bagi setiap peserta, baik di lingkungan sekolah, instansi, maupun masyarakat umum.
