Fenomena MJO Sebabkan Cuaca Buruk, Apa Itu?

Tifani
Oleh Tifani
21 Agustus 2025, 20:25
Fenomena MJO
ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU
Warga melintasi banjir akibat hujan deras di Perumahan Magnolia Residence, Kota Tangerang, Banten, Selasa (12/8/2025). Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk waspada menghadapi potensi cuaca ekstrem seiring meningkatnya curah hujan yang dipicu oleh kombinasi fenomena atmosfer di berbagai wilayah Indonesia sejak awal Agustus 2025.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca buruk yang masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 22–25 Agustus 2025. Pada waktu tersebut, sebagian besar wilayah di Indonesia dapat diguyur hujan lebat disertai angin kencang.

Melalui laman Instagram @infobmkg, BMKG menyebut hujan lebat yang mengguyur sebagian besar wilayah disebabkan fenomena Madden Julian Oscillation (MJO). Tentunya, hal ini membuat masyarakat bertanya-tanya apa itu fenomena Madden Julian Oscillation, mengingat Agustus adalah puncak musim kemarau bagi sebagian wilayah.

Lantas, apa itu fenomena MJO yang sebabkan hujan lebar di Indonesia?

Fenomena MJO, Apa Itu?

Banjir rob pesisir utara Jakarta
Banjir rob pesisir utara Jakarta (ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh/app/foc.)

 

Fenomena Madden Julian Oscillation atau MJO adalah fluktuasi musiman atau gelombang atmosfer yang terjadi di kawasan tropis. Dikutip dari laman resmi National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), MJO merupakan gangguan awan, curah hujan, angin, dan tekanan yang bergerak ke arah timur.

Gangguan ini melintasi daerah-daerah tropis dan kembali ke titik awal dalam rentang waktu 30 sampai 60 hari. Bureau of Meteorology (BOM) dari Australian Government mendefinisikan MJO sebagai fluktuasi utama cuaca tropis dalam skala mingguan sampai bulanan.

MJO bergerak ke arah timur dekat khatulistiwa setiap 30 sampai 60 hari untuk satu siklusnya. Dalam satu siklus yang berlangsung selama 30-60 hari tersebut, MJO melewati total 8 fase.

Klasifikasi 8 fase MJO ini banyak digunakan oleh berbagai lembaga, seperti BMKG dan NOAA. Penentuan kedelapan fase MJO tersebut didasarkan lokasi pusat konveksi alias awan dan hujan.

Berikut delapan fase fenomena MJO:

  • Fase 1 di Afrika (21° Bujur Barat-60° Bujur Timur)
  • Fase 2 di Samudra Hindia Barat (60°-80° Bujur Timur)
  • Fase 3 di Samudra Hindia Timur (80°-100° Bujur Timur)
  • Fase 4 di Indonesia bagian barat (100°-120° Bujur Timur)
  • Fase 5 di Indonesia bagian timur (120°-140° Bujur Timur)
  • Fase 6 di wilayah Pasifik Barat (140°-160° Bujur Timur)
  • Fase 7 di wilayah Pasifik Timur (160°-180° Bujur Timur)
  • Fase 8 di zona konveksi Pasifik Timur(180°-160° Bujur Barat)

Dampak Fenomena MJO di Indonesia

Fenomena MJO menyebabkan uap air dari lautan menguat, sehingga meningkatkan potensi terjadinya hujan lebat di beberapa wilayah. Fenomena MJO juga membawa gelombang konveksi atau naik-turunnya massa udara dalam jumlah besar.

Gelombang ini menstimulasi pembentukan awan cumulonimbus yang identik dengan hujan deras, angin kencang, hingga petir. Akibatnya, wilayah yang dilintasi MJO sering kali mengalami peningkatan curah hujan ekstrem.

Selain itu, MJO dapat berinteraksi dengan sistem atmosfer lain yang sedang berkembang di wilayah Indonesia. Misalnya, pertemuan angin dari dua arah (konvergensi) atau adanya gelombang atmosfer lain seperti Kelvin dan Rossby.

Kombinasi ini memperbesar potensi terbentuknya cuaca ekstrem, termasuk banjir, tanah longsor, maupun gelombang tinggi di laut. Fenomena MJO juga memperkuat kondisi kelembapan di lapisan udara menengah hingga atas.

Ketika lapisan udara semakin lembap, pertumbuhan awan hujan berlangsung lebih masif. Kondisi ini yang menjelaskan mengapa saat MJO aktif, hujan bisa terjadi dengan intensitas tinggi dan durasi lebih lama dibanding kondisi normal.

BMKG menghimbau masyarakat untuk waspada terhadap potensi genangan air, banjir bandang, dan pohon tumbang. Nelayan serta pengguna transportasi laut juga diminta berhati-hati terhadap kemungkinan gelombang tinggi di perairan selatan Jawa.

BMKG juga mengingatkan, fenomena MJO bersifat sementara namun dampaknya cukup signifikan. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi terbaru cuaca dari kanal resmi.

Daftar Wilayah Waspada Cuaca Buruk

Berikut ini prakiraan cuaca ekstrem pada hari ini sampai periode 20-21 Agustus 2025

Hujan ringan-sedang:

  • Aceh
  • Sumatera Utara
  • Riau
  • Sumatera Selatan
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Bengkulu
  • Lampung
  • Banten
  • Jakarta
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
  • Kalimantan Selatan
  • Gorontalo
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tenggara
  • Papua Barat Daya
  • Papua Barat
  • Papua Pegunungan
  • Papua
  • Papua Selatan.

Hujan lebat:

  • Kepulauan Riau
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • DI Yogyakarta
  • Jawa Timur
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Sulawesi Utara
  • Sulawesi Barat
  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Tengah.

Angin Kencang:

  • Kepulauan Riau
  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Gorontalo
  • Sulawesi Utara
  • Maluku
  • Papua Barat
  • Papua Selatan.

Prakiraan Cuaca Ekstrem pada 22-25 Agustus 2025

Hujan ringan-sedang:

  • Jambi
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Jawa Barat
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
  • Sulawesi Utara
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Tenggara
  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Barat Daya
  • Papua Barat
  • Papua Tengah
  • Papua.

Hujan lebat:

  • Sumatera Selatan
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan.

Angin Kencang:

  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Utara
  • Maluku Utara
  • Maluku
  • Papua Barat
  • Papua Selatan.

Itulah ulasan lengkap mengenai fenomena MJO yang sebabkan cuaca buruk di berbagai daerah di Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan