10 Kota Terpadat Di Dunia Versi World Urbanization Prospect 2025, Jakarta Masuk?

Image title
27 November 2025, 08:16
kota terpadat di dunia
https://unsplash.com/id/foto/taman-dengan-air-mancur-di-dekat-gedung-mAxA2OmTmKA
kota terpadat di dunia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Urbanisasi global menunjukkan kecenderungan peningkatan dalam dua dekade terakhir. Kondisi tersebut menjadikan beberapa wilayah dikategorikan sebagai Kota Terpadat Di Dunia berdasarkan proyeksi World Urbanization Prospect 2025. 

Kajian mengenai kota terpadat di dunia diperlukan untuk memahami kompleksitas perkembangan kawasan metropolitan. Selain itu, analisis ini dapat memperlihatkan tantangan, peluang, dan konsekuensi ekonomi yang muncul akibat konsentrasi populasi.

Proyeksi Urbanisasi Menurut World Urbanization Prospect

Urbanisasi diproyeksikan meningkat seiring perkembangan ekonomi di berbagai negara. Data World Urbanization Prospect 2025 memberikan gambaran mengenai bagaimana kota-kota besar mengalami pertumbuhan penduduk secara signifikan.

Situasi ini menjadikan beberapa kota masuk dalam klasifikasi kota terpadat di dunia.  Konsentrasi penduduk dalam skala besar menimbulkan berbagai implikasi pada sektor transportasi, lingkungan, dan ruang tinggal.

Kota yang masuk daftar kota terpadat di dunia umumnya menghadapi tantangan yang serupa, seperti tekanan terhadap layanan publik dan meningkatnya kebutuhan hunian. 

Daftar Kota Terpadat Di Dunia Tahun 2025

Berikut daftar kota yang termasuk dalam kategori kota Ttrpadat di dunia berdasarkan proyeksi World Urbanization Prospect 2025. Setiap kota memiliki dinamika pertumbuhan penduduk yang dipengaruhi faktor ekonomi, migrasi, hingga ekspansi wilayah.

1. Jakarta, Indonesia

Dengan jumlah penduduk melampaui 42 juta, jakarta jadi salah satu kota terpadat di dunia di tahun 2025. Kepadatan ini adalah hasil dari ketidakpemerataan lowongan pekerjaan yang membuat banyak warga daerah beramai-ramai berurbanisasi ke Jakarta. 

Jakarta juga mengalami tantangan berat terkait kemacetan, banjir dan berbagai masalah tata ruang. Jika tidak ada penanganan lebih lanjut, warga Jakarta akan semakin susah untuk bermobilitas. 

2. Tokyo, Jepang

Tokyo diproyeksikan memiliki populasi lebih dari 37 juta jiwa pada 2025. Sebagai pusat ekonomi terbesar di Jepang, kota ini menjadi magnet bagi sektor keuangan dan teknologi. Keterbatasan lahan membuat pengembangan hunian vertikal menjadi strategi utama dalam mengelola tata kota. 

Pertumbuhan populasi tokyo juga dipengaruhi oleh efisiensi sistem transportasi massal. Untungnya, Infrastruktur memadai seperti metro berkontribusi mengurangi kepadatan mobilitas harian. Meskipun demikian, tekanan terhadap biaya hidup tetap menjadi salah satu tantangan utama bagi keberlanjutan kota.

3. Delhi, India

Delhi diproyeksikan menampung lebih dari 33 juta penduduk. Pertumbuhan penduduk yang tinggi didorong oleh urbanisasi masif di India Utara. Kota ini mengalami peningkatan kebutuhan hunian, transportasi, serta layanan publik karena tingginya migrasi dari wilayah sekitarnya.

Kepadatan penduduk memberikan tekanan signifikan pada kualitas lingkungan. Polusi udara menjadi isu besar sehingga pemerintah berupaya meningkatkan penggunaan energi bersih. 

3. Shanghai, Tiongkok

Shanghai memiliki populasi sekitar 29 juta jiwa pada 2025. Kota ini berkembang sebagai pusat perdagangan global dan menarik jutaan pekerja dari sektor manufaktur, keuangan, serta teknologi. Struktur urban modern menjadikan Shanghai sebagai kota dengan integrasi ekonomi yang kuat.

Namun, ekspansi tersebut turut memicu kenaikan harga properti. Kota ini menghadapi tantangan dalam menjaga kualitas udara dan konsumsi energi.

4. Guangzhou, Tiongkok

Masih di China, Guangzhou adalah pusat manufaktur dan perdagangan di wilayah Pearl River Delta. Wilayah ini berkembang bersama Shenzhen, Hong Kong, dan Macau, membentuk salah satu megaregion ekonomi paling kuat di dunia. Urbanisasi besar-besaran mendorong populasi Guangzhou mencapai angka tinggi.

Berbagai kemudahan dan kesempatan yang ditawarkan kota ini membuat banyak orang bermigrasi ke Guangzhou. Total ada sekitar 28 juta warga yang berada di kota ini. 

5. Mexico City, Meksiko

Mexico City memiliki populasi lebih dari 22 juta jiwa di tahun 2025. Posisi strategis sebagai pusat budaya dan ekonomi menjadikannya kota yang penuh aktivitas. Perekonomian kota didorong oleh sektor service, manufaktur, serta industri kreatif yang berkembang pesat.

Kepadatan penduduk menyebabkan tantangan berupa mobilitas yang kompleks. Pemerintah berupaya meningkatkan sistem public transit untuk mengurangi kemacetan. Kota ini juga menghadapi isu ruang terbuka yang terbatas akibat laju pembangunan yang tinggi

6. Dhaka, Bangladesh

Dhaka diproyeksikan memiliki penduduk lebih dari 22 juta jiwa. Urbanisasi cepat dipicu oleh pertumbuhan industri tekstil dan sektor jasa. Kota ini menarik banyak tenaga kerja dari seluruh wilayah Bangladesh yang membuat lonjakan populasi dalam waktu singkat.

Kepadatan ekstrem menciptakan tantangan serius dalam penyediaan infrastruktur. Polusi udara, banjir musiman, dan keterbatasan ruang hunian menjadi isu besar.

7. Kairo, Mesir

Kairo memiliki penduduk lebih dari 20 juta jiwa dan menjadi pusat peradaban serta perekonomian Mesir. Pertumbuhan kota didorong oleh peran Kairo sebagai pusat administrasi, pendidikan, dan perdagangan domestik. Aktivitas ini menciptakan arus migrasi yang stabil.

Tantangan utama adalah pengelolaan sumber daya air dan transportasi. Kepadatan membuat kebutuhan infrastruktur meningkat cepat. Meski demikian, pemerintah mengembangkan kawasan baru sebagai strategi desentralisasi populasi.

8. Beijing, Tiongkok

Beijing memiliki populasi lebih dari 20 juta jiwa. Kota ini menjadi pusat pemerintahan, inovasi teknologi, dan penelitian ilmiah. Investasi digital dan high-tech menjadikan Beijing salah satu kota paling berpengaruh secara global.

Kendati demikian, kepadatan penduduk memicu tekanan terhadap lingkungan. Pemerintah berupaya menekan polusi melalui inovasi energi bersih dan kendaraan listrik. 

7. Kolkata, India

Kolkata memiliki lebih dari 21 juta penduduk dan menjadi pusat industri film, keuangan, serta perdagangan India. Kondisi geografis yang terbatas menjadikan kota ini mengalami kepadatan sangat tinggi, terutama pada kawasan pemukiman.

Kesenjangan ruang hunian menjadi isu besar akibat harga properti yang terus meningkat. Meskipun demikian, Kolkata tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi India karena peran penting sektor financial dan industri kreatif.

8. Osaka, Jepang

Osaka memiliki populasi sekitar 19 juta jiwa dan berperan sebagai pusat perdagangan serta manufaktur Jepang. Kota ini memiliki sistem transportasi yang terintegrasi dengan wilayah Kansai sehingga mendukung mobilitas penduduk dalam skala besar.

Pertumbuhan Osaka ditopang oleh sektor ekonomi yang stabil. Modernisasi infrastruktur dilakukan untuk menjaga daya saing kota. Keberhasilan dalam pengelolaan transportasi menjadikan Osaka salah satu kawasan metropolitan paling efisien.

9. Manila, Filiphina

Filipina adalah negara kepulauan dengan pertumbuhan populasi yang sangat tinggi. Manila dan kawasan Metro Manila adalah pusat pemerintahan, pendidikan, dan bisnis. Keterbatasan lahan, urbanisasi yang tinggi, serta tingginya angka kelahiran membuat Manila menjadi salah satu kota paling padat di Asia Tenggara. Total saat ini ada sekitar 25 juta warga manila yang menghunki kota ini. 

10.  Seoul, Korea Selatan

Korea Selatan adalah negara maju dengan ekonomi kuat di bidang teknologi dan industri kreatif. Seoul menjadi pusat inovasi global, rumah bagi perusahaan raksasa seperti Samsung, LG, dan Hyundai. Urbanisasi sejak 1970-an menjadikan Seoul metropolis superpadat, meskipun Korea Selatan kini menghadapi penurunan angka kelahiran.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan