3 Kelompok di Indonesia dengan Kasus HIV Terbanyak Menurut Kemenkes

Izzul Millati
2 Desember 2025, 09:48
provinsi hiv tertinggi di indonesia
https://unsplash.com/id/foto/orang-yang-memegang-ornamen-bulat-putih-Yw9Vgr6i_-0
provinsi hiv tertinggi
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempublikasikan data terbaru mengenai kelompok dengan tingkat kasus HIV tertinggi di Indonesia pada tahun 2025. Data ini menunjukkan bahwa penyebaran HIV tidak hanya terpusat pada kelompok dengan perilaku berisiko, tetapi juga terjadi dalam lingkup keluarga dan relasi rumah tangga. Temuan ini menegaskan pentingnya deteksi dini, edukasi kesehatan dan akses layanan yang lebih luas bagi kelompok rentan.

Laporan tersebut menunjukkan adanya pola penyebaran yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Tiga kelompok utama ini tercatat sebagai penyumbang terbesar infeksi HIV dan menjadi fokus nasional. 

Pemetaan kelompok kasus HIV terbanyak ini membantu pemerintah dalam merancang strategi pencegahan yang lebih efektif, termasuk perluasan pemeriksaan laboratorium, konseling, dan terapi antiretroviral bagi individu berisiko.

Kelompok dengan Kasus HIV Terbanyak Menurut Kemenkes

Data kelompok dengan kasus HIV terbanyak ini berasal dari hasil pemantauan positivity rate nasional. Kelompok dengan angka tinggi seringkali memiliki hambatan dalam akses pemeriksaan, keterbatasan edukasi kesehatan, serta rendahnya deteksi dini. Oleh karena itu, kelompok berikut secara resmi dikategorikan sebagai kelompok kasus hiv terbanyak yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

1. Pasangan ODHIV

Pasangan dari orang dengan HIV menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak pada tahun 2025. Faktor risiko ini muncul dari ketidaktahuan status pasangan serta ketidakrutinan dalam pencegahan. Kemenkes menekankan pentingnya konseling bersama, pemeriksaan rutin dan penggunaan metode pencegahan yang terbukti menurunkan potensi transmisi antar pasangan.

2. Pelanggan Pekerja Seks

Kelompok pelanggan pekerja seks tercatat sebagai kelompok kedua dengan peningkatan kasus yang sangat signifikan. Interaksi seksual yang tidak terlindungi menjadi pemicu utama penyebaran HIV. Data Kemenkes menyoroti bahwa kelompok ini memiliki tingkat positivity rate tinggi dan termasuk dalam kelompok kasus hiv terbanyak yang perlu dijangkau dengan pelayanan kesehatan serta edukasi pencegahan.

3. Anak dari ODHIV

Anak yang lahir dari orang tua dengan HIV berada pada kelompok ketiga dengan kasus tertinggi. Penularan dapat terjadi selama kehamilan, proses persalinan, atau melalui pemberian ASI. Kemenkes menekankan pentingnya pemeriksaan HIV pada bayi, terapi pencegahan sejak dini, serta pendampingan medis untuk mengurangi risiko penularan dari orang tua ke anak.

10 Langkah Pencegahan HIV yang Bisa Dilakukan Mandiri

Berbagai langkah pencegahan dapat dilakukan secara mandiri untuk menekan penyebaran HIV di masyarakat. Langkah-langkah sederhana berikut merupakan rekomendasi dari lembaga kesehatan nasional dan internasional:

  1. Pemeriksaan HIV secara berkala untuk memastikan status kesehatan tetap terpantau. Pemeriksaan ini membantu mencegah penularan melalui deteksi dini.

  2. Konsultasi kesehatan seksual rutin sebagai upaya memahami risiko individual. Konsultasi membantu menentukan langkah pencegahan yang paling sesuai.

  3. Menggunakan kondom saat berhubungan seksual pada setiap aktivitas berisiko. Penggunaan kondom menjadi perlindungan dasar terhadap potensi infeksi.

  4. Menghindari penggunaan jarum suntik bergantian dalam kondisi apapun. Tindakan ini penting untuk mencegah penularan melalui kontak darah.

  5. Mengikuti terapi pre-exposure prophylaxis (PrEP) bila berada dalam kelompok risiko tinggi. PrEP direkomendasikan bagi individu dengan kemungkinan paparan berulang.

  6. Melakukan post-exposure prophylaxis (PEP) sesaat setelah kemungkinan paparan. PEP bekerja efektif bila diberikan dalam jangka waktu yang direkomendasikan.

  7. Tidak berbagi alat pribadi yang berpotensi terkontaminasi darah atau cairan tubuh. Alat seperti pisau cukur dan gunting kuku harus digunakan secara pribadi.

  8. Memastikan alat medis maupun tato selalu menggunakan jarum steril sekali pakai. Tindakan ini mengurangi risiko penularan melalui peralatan yang tidak higienis.

  9. Menjaga kebersihan luka serta memastikan peralatan perawatan tetap steril. Kebersihan membantu mencegah infeksi yang dapat memperburuk kondisi kesehatan.

  10. Mengikuti edukasi kesehatan seksual yang benar dari sumber terpercaya.
    Pemahaman yang tepat membantu meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan HIV.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan