Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain? Ini Penjelasannya

Anggi Mardiana
5 Januari 2026, 21:46
Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain
Instagram
Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertanyaan apakah Trump dapat menangkap Presiden negara lain menjadi perbincangan hangat. Penangkapan Presiden Venezuela oleh Presiden Trump menimbulkan kecaman dari para pengamat politik dan komunitas internasional.

Dalam wawancaranya dengan majalah The Atlantic pada Minggu (04/01), Donald Trump menyatakan bahwa bagi Venezuela, “pergantian rezim apa pun istilahnya akan jauh lebih baik dibandingkan kondisi saat ini. Situasinya tidak mungkin menjadi lebih buruk.”

Pernyataan tersebut disampaikan Trump setelah Presiden Venezuela yang telah digulingkan, Nicolás Maduro, bersama istrinya, Cilia Flores, ditangkap pada Sabtu (03/01). Maduro mengadakan sidang di pengadilan New York pada Senin (05/01).

Presiden Amerika Serikat Tangkap Presiden Venezuela

Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain
Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain (Reuters)

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menangkap dan menahan Presiden Venezuela Nicolas Maduro bersama istrinya, Cilia Flores, di Brooklyn, New York, pada Sabtu (3/1). Keduanya diagendakan menjalani sidang dakwaan pada hari ini, Senin.

Penangkapan tersebut, terjadi setelah Trump melancarkan serangan besar-besaran ke Caracas, ibu kota Venezuela. Menggunakan operasi itu, Maduro dan sang istri dibawa ke Amerika Serikat. Langkah ini memicu kecaman dari para pengamat politik dan komunitas internasional yang menilai penangkapan paksa itu melanggar hukum internasional, serta mencederai kedaulatan negara lain.

Amerika Serikat menuding Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba dan pelanggaran senjata, serta menilai pemerintahannya sebagai rezim “narko-teroris”, tuduhan yang secara tegas dibantah oleh Maduro. Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Washington tidak sedang berperang dengan Venezuela, meskipun Maduro dan rekannya telah ditangkap dan dibawa ke AS.

Dalam sejumlah wawancara televisi pada Minggu pagi (04/01), Rubio membela operasi militer AS di Venezuela dan tekanan bahwa langkah tersebut tidak dapat diartikan sebagai perang terhadap negara Amerika Selatan itu. “Kami sedang memberantas jaringan perdagangan narkoba. Ini bukan melawan perang Venezuela,” ujar Rubio dalam wawancara dengan program Meet the Press di NBC.

Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain?

Apakah Trump Dapat Menangkap Presiden Negara Lain? Aksi terhadap Maduro bukan kali pertama Amerika Serikat melakukan operasi serupa terhadap pemimpin negara asing. Kongres memiliki kewenangan mengizinkan perang sebagaimana diatur dalam Pasal 1 Konstitusi AS, yang juga mewajibkan presiden meminta persetujuan Kongres sebelum menjalankan operasi militer di luar negeri.

Selain itu, Amerika Serikat juga memiliki Resolusi Kekuasaan Perang 1973 yang mengharuskan presiden melaporkan kepada Kongres dalam waktu 48 jam setelah diperintahkan tindakan militer. Undang-undang ini juga membatasi pengerahan pasukan lebih dari 90 hari tanpa adanya deklarasi resmi, seperti dikutip USA Today.

Meski demikian, presiden selaku panglima tertinggi tetap memiliki kewenangan untuk secara sepihak memerintahkan militer melakukan operasi skala kecil dalam jangka waktu singkat atau terbatas.
Di sisi lain, ketentuan hukum internasional melarang penggunaan kekuatan dalam hubungan antarnegara, kecuali dalam kondisi tertentu, seperti mendapat persetujuan Dewan Keamanan PBB atau dilakukan untuk tujuan pembelaan diri.

Profesor hukum Universitas Columbia, Matthew Waxman, menilai tuduhan peredaran narkoba dan kekerasan geng yang selama ini ditujukan kepada Nicolas Maduro tidak dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas militer maupun konflik bersenjata menurut standar internasional.

“Dakwaan pidana semata-mata tidak memberikan dasar hukum untuk menggunakan kekuatan militer guna menjatuhkan pemerintahan asing, dan pemerintah kemungkinan akan berupaya membenarkan langkah-langkah tersebut dengan dalih pembelaan diri,” ujar Waxman seperti dikutip Reuters.

Sejumlah kalangan juga berpandangan bahwa tindakan membawa Maduro dari Venezuela ke Amerika Serikat merupakan penangkapan yang tidak sah.

Kendati menuai kecaman, otoritas AS kemungkinan akan membela operasi tersebut dengan merujuk pada memo tahun 1989 dari Kantor Penasihat Hukum Departemen Kehakiman. Dalam memo itu disebutkan bahwa presiden memiliki kewenangan konstitusional yang melekat untuk memerintahkan FBI, mengecualikan individu di luar negeri, meskipun tindakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional.

Kepala Negara Asing yang Pernah Ditangkap AS

Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengingatkan masyarakat global pada berbagai peristiwa bersejarah ketika Amerika Serikat secara langsung menangkap, menahan, atau menjatuhkan pemimpin negara lain. Sepanjang sejarah, tercatat beberapa tokoh yang mengalami nasib serupa akibat intervensi AS, antara lain:

1. Manuel Noriega: Invasi AS ke Panama

Salah satu contoh preseden yang paling sering dibicarakan terjadi pada tahun 1989, ketika Amerika Serikat melancarkan invasi ke Panama untuk menghormati Manuel Noriega, pemimpin militer sekaligus penguasa de facto negara tersebut. Pemerintah AS saat itu beralasan tindakan militer dilakukan guna melindungi warga negaranya, mengembalikan demokrasi, serta memberantas praktik korupsi dan peredaran narkotika.

Setahun sebelum invasi, Noriega telah lebih dulu berdakwah di Miami atas kasus penyelundupan narkoba, sebuah pola yang kini kerap dibandingkan dengan tuduhan Washington terhadap Nicolas Maduro.
Noriega juga dikenal membatalkan hasil pemilu Panama pada tahun 1989, memaksa Presiden Nicolas Ardito Barletta lengser, serta memicu meningkatnya sentimen anti-Amerika di dalam negeri. Operasi militer AS di Panama tercatat sebagai yang terbesar sejak berakhirnya Perang Vietnam.

Usai ditangkap, Noriega dibawa ke Amerika Serikat untuk diadili di Miami dan dipenjara hingga tahun 2010, sebelum kemudian diekstradisi ke Prancis dan akhirnya dipulangkan ke Panama. Ia meninggal dunia pada tahun 2017 saat masih menjalani hukuman penjara di negaranya.

2. Saddam Hussein Ditangkap 9 Bulan Usai Invasi Irak

Nama lain yang sering disebut sebagai pembanding yaitu Saddam Hussein, Presiden Irak yang ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat pada 13 Desember 2003, sekitar sembilan bulan setelah invasi AS ke negara tersebut.

Invasi ke Irak kala itu dilandasi tuduhan bahwa rezim Saddam menyimpan senjata pemusnah massal (senjata pemusnah massal/WMD), yang pada akhirnya tidak pernah berhasil dibuktikan keberadaannya. Washington juga menuding Saddam memiliki keterkaitan dengan kelompok teroris seperti al-Qaeda, meski klaim tersebut tidak didukung bukti yang kuat.

Pada dekade 1980-an, Saddam sempat menjadi sekutu Amerika Serikat selama Perang Iran–Irak. Ia akhirnya ditemukan bersembunyi di sebuah lubang bawah tanah di dekat kampung halamannya di Tikrit. Saddam kemudian diadili oleh pengadilan Irak dan dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Vonis hukuman mati mendarat, dan ia dieksekusi dengan cara digantung pada 30 Desember 2006.

3. Nicolas Maduro

Penangkapan Nicolas Maduro kali ini menambah deretan pemimpin dunia yang mengalami nasib serupa akibat campur tangan langsung Amerika Serikat. Donald Trump menyebut operasi tersebut sebagai klimaks dari upaya panjang AS untuk menanggulangi ancaman narkoba, migrasi ilegal, dan narko-terorisme. Ia menyatakan bahwa salah satu alasan utama tindakan AS yaitu krisis migrasi, dengan menjadikan Venezuela sebagai sumber utama arus migran yang membanjiri perbatasan.

Sejak Venezuela dilanda krisis ekonomi pada tahun 2013, sekitar 8 juta warganya melaporkan meninggalkan negara itu, sebagian besar menuju negara-negara Amerika Latin di sekitarnya. Trump juga mengeklaim tanpa disertai bukti bahwa pemerintah Maduro sengaja membebaskan pemenang dan pasien rumah sakit jiwa untuk dikirim ke AS sebagai bagian dari strategi migrasi massal. Tuduhan tersebut dibantah keras oleh pemerintah Venezuela, yang menyebut pernyataan

Selain isu migrasi, Trump menuduh Venezuela menjadi jalur utama penyelundupan kokain dan berkontribusi terhadap krisis fentanil yang telah menghina ribuan warga Amerika Serikat. Washington kemudian menetapkan dua kelompok kriminal asal Venezuela, Tren de Aragua dan Cartel de los Soles, sebagai organisasi teroris asing. Trump bahkan menunjuk Maduro sebagai pemimpin langsung Cartel de los Soles, klaim yang kembali dibantah oleh pemerintah di Caracas.

Apakah Trump dapat menangkap presiden negara lain, hal ini menyoroti kompleksitas hukum internasional dan dinamika politik global. Secara prinsip, penangkapan kepala negara asing bertentangan dengan pemantauan negara dan kekebalan komunikasi, namun sejarah menunjukkan bahwa Amerika Serikat pernah melakukan intervensi langsung dengan berbagai dalih, mulai dari keamanan nasional hingga pemberantasan narkoba dan terorisme.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan