10 Tips dari Konselor Anak Agar Buah Hati Terhindar dari Pelecehan Seksual
Kasus kekerasan seksual terhadap anak masih menjadi persoalan serius yang kerap terjadi di berbagai lingkungan. Anak-anak sejak dini diajarkan untuk menjauhi kompor panas atau berhati-hati saat menyeberang jalan. Namun, edukasi mengenai keselamatan tubuh justru sering terlambat diperkenalkan.
Padahal, edukasi yang tepat punya fungsi penting dalam mencegah kekerasan seksual Berbagai riset internasional menunjukkan bahwa pelecehan seksual pada anak kerap terjadi sebelum korban memasuki usia dewasa. Kondisi ini menegaskan pentingnya edukasi sejak dini agar anak berani bersuara ketika mengalami hal yang tidak semestinya.
Pelaku Kekerasan Seksual Justru Didominasi Orang Terdekat
Data penelitian Centers for Disease Control and Prevention menunjukkan bahwa sebagian besar korban kekerasan seksual mengenal pelakunya. Fakta ini mematahkan anggapan bahwa ancaman hanya datang dari orang asing. Sayangnya, banyak orang tua merasa anak sudah aman selama berada di lingkungan yang dikenal.
Kasus pelecehan sendiri sangat mungkin terjadi saat anak bermain, bersekolah, atau berinteraksi dengan orang terdekat. Situasi ini menunjukkan bahwa pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan pengawasan, tetapi juga edukasi yang tepat.
Tips dari Konselor Anak Agar Terhindar dari Pelecehan Seksual
Sebagian orang dewasa menganggap pembicaraan tentang anggota tubuh terlalu menakutkan bagi anak. Padahal, edukasi keselamatan tubuh dapat disampaikan dengan bahasa sederhana dan tidak menimbulkan ketakutan.
Menurut Natasha Daniels, konselor Anak yang menangani kasus Anxiety pada anak di Arizona, buah hati perlu diajari 10 hal ini sejak dini supaya ia bisa terhindar dari kasus pelecehan, serta bisa ‘speak up’ andaikan hal tersebut sudah terlanjur terjadi.
1. Ajarkan Anak Tentang Bagian Tubuh Sejak Dini
Anak perlu dikenalkan pada bagian tubuhnya sejak usia dini. Penyebutan nama bagian tubuh sebaiknya menggunakan istilah yang benar agar anak memahami maknanya.
Kemampuan menyebutkan bagian tubuh secara jelas membantu anak bercerita apabila mengalami perlakuan yang tidak pantas.
2. Ajarkan Anak Bahwa Sebagian Bagian Tubuh Bersifat Pribadi
Anak perlu memahami bahwa ada bagian tubuh yang bersifat pribadi. Bagian ini tidak boleh dilihat atau disentuh oleh sembarang orang. Penjelasan sederhana seperti ini justru membantu anak mengenali batasan tubuhnya.
3. Ajarkan Anak untuk Tidak Menyentuh Tubuh Orang Lain Sembarangan
Anak perlu diberi pemahaman bahwa tidak seorang pun boleh menyentuh bagian tubuh pribadinya. Selain itu, anak juga tidak boleh diminta menyentuh tubuh orang lain.
Banyak kasus pelecehan seksual bermula dari permintaan semacam ini. Oleh karena itu, batasan tubuh harus dijelaskan secara tegas.
4. Ajarkan Anak Bahwa Rahasia Tentang Anggota Tubuh Tidak Dibenarkan
Pelaku pelecehan seksual sering meminta korban menyimpan rahasia. Permintaan ini bisa disampaikan dengan bujuk rayu atau ancaman. Anak perlu memahami bahwa rahasia yang berkaitan dengan tubuh tidak boleh disimpan.
5. Ajarkan Anak Bahwa Tidak Seorang Pun Boleh Mengambil Foto Pribadi Tanpa Izin
Perkembangan teknologi membuat risiko pelecehan seksual juga muncul di ruang digital. Anak perlu mengetahui bahwa bagian tubuh pribadinya tidak boleh difoto sembarangan orang.
Edukasi ini penting untuk mencegah eksploitasi seksual berbasis gambar yang semakin marak.
6. Ajarkan Anak Cara Keluar dari Situasi yang Menakutkan atau Tidak Nyaman
Tidak semua anak terbiasa mengatakan tidak kepada orang yang lebih tua. Anak perlu diajarkan cara meninggalkan situasi yang membuatnya takut.
Memberikan contoh kalimat sederhana membantu anak melindungi diri dari potensi pelecehan.
7. Buat Kata Sandi yang Bisa Digunakan Anak Saat Merasa Tidak Aman
Kata sandi dapat menjadi alat komunikasi ketika anak merasa terancam. Cara ini membantu anak meminta bantuan tanpa harus menjelaskan situasi secara terang-terangan. Misalnya, dengan bilang “kereta api” atau “jalan kaki” saat sedang meminta tolong orang tua agar bisa kabur, dan saat bersamaan sedang bersama pelaku.
8. Tegaskan Bahwa Anak Tidak Akan Pernah Dimarahi Jika Menceritakan Rahasia
Banyak korban Kekerasan Seksual memilih diam karena takut dimarahi. Ketakutan ini sering dimanfaatkan oleh pelaku. Anak perlu diyakinkan bahwa bercerita tentang rahasia yang disembunyikan, apalagi terkait keselamatan tubuh tidak akan berujung pada hukuman.
9. Ajarkan Anak Bahwa Sentuhan Bisa Terasa Biasa atau Menyenangkan
Tidak semua sentuhan yang tidak pantas terasa menyakitkan. Sebagian justru terasa biasa atau menyenangkan sehingga membingungkan anak. Cobalah untuk memberitahu si kecil bahwa sentuhan pada area tertentu berarti sinyal bahaya. Misalnya, dengan meminta anak segera lari apabila ada orang asing yang ingin menyentuh area intimnya.
10. Tegaskan Aturan Berlaku untuk Orang yang Dikenal, Termasuk Saudara Sendiri
Anak sering membayangkan pelaku sebagai orang asing yang jahat. Padahal, pelaku kekerasan seksual kerap berasal dari orang yang dikenal. Penegasan bahwa aturan keselamatan tubuh berlaku untuk siapa pun membantu anak lebih waspada.

