Apa itu TB Ginjal? Ketahui 7 Penyebabnya yang Sering Tidak Disadari
Kabar duka datang dari dunia musik Tanah Air. Vokalis Band Element, Lucky Widja, meninggal dunia pada 25 Januari 2026 setelah mengalami komplikasi ginjal akibat TB ginjal yang dideritanya sejak 2022. Kondisi tersebut menyebabkan gangguan fungsi ginjal berat hingga almarhum harus menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan selama satu tahun terakhir.
Peristiwa ini membuka kembali perhatian publik terhadap TB ginjal, salah satu bentuk tuberkulosis yang jarang dikenal. Padahal, penyakit ini dapat menimbulkan dampak serius apabila tidak terdeteksi sejak dini. Lalu, Apa itu TB Ginjal dan mengapa penyakit ini sering tidak disadari?
Apa itu TB Ginjal?
Secara medis, Apa itu TB Ginjal merujuk pada penyakit tuberkulosis ekstra paru yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyerang jaringan ginjal. Bakteri ini umumnya menginfeksi paru-paru, namun dapat menyebar ke organ tubuh lain melalui aliran darah.
TB ginjal merupakan bagian dari tuberkulosis genitourinaria, yakni infeksi TB yang menyerang sistem perkemihan. Selain ginjal, organ yang dapat terdampak meliputi kandung kemih, ureter, kelenjar prostat, kantong testis, serta panggul pada perempuan.
Infeksi dapat menyerang satu atau kedua ginjal. Umumnya, bakteri mulai menginfeksi korteks atau bagian terluar ginjal, kemudian menyebar ke medula. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat memicu pembengkakan, kerusakan jaringan ginjal, hingga gagal ginjal stadium akhir.
Seberapa Sering TB Ginjal Terjadi?
TB ginjal tergolong penyakit langka. Dalam literatur medis, kasus ini hanya mencakup sebagian kecil dari TB ekstra paru. Angka kejadiannya bervariasi menurut laporan medis, tergantung wilayah dan metode diagnosis.
Meski jarang, TB ginjal kerap terabaikan karena gejalanya menyerupai penyakit saluran kemih lain. Akibatnya, banyak kasus baru terdiagnosis saat kondisi sudah lanjut.
Bagaimana TBC Bisa Menyerang Ginjal?
Untuk memahami Apa itu TB Ginjal, penting untuk mengetahui mekanisme penyebarannya. TB ginjal umumnya berawal dari infeksi TB paru atau TB laten. Bakteri Mycobacterium tuberculosis kemudian menyebar melalui aliran darah dan menetap di ginjal.
Dalam sejumlah laporan medis, penyebaran ke ginjal dapat terjadi bertahun-tahun setelah infeksi awal, bahkan mencapai lebih dari satu dekade. Selain itu, TB ginjal juga dapat terjadi akibat terapi Bacillus Calmette-Guérin (BCG) yang disuntikkan langsung ke kandung kemih sebagai metode pengobatan kanker kandung kemih. Meski jarang, prosedur ini diketahui dapat memicu infeksi TB pada ginjal.
Siapa yang Berisiko Mengalami TB Ginjal?
TB ginjal dapat menyerang siapa saja. Namun, resikonya meningkat pada individu dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun. Kelompok yang lebih rentan meliputi pengidap HIV, penderita diabetes, serta individu yang mengkonsumsi obat imunosupresan, termasuk pasien transplantasi organ.
Kondisi daya tahan tubuh yang rendah mempermudah bakteri TB berkembang dan menyerang jaringan ginjal tanpa disadari.
Ciri-ciri dan Gejala TB Ginjal
TB ginjal sering kali tidak menunjukkan gejala spesifik pada tahap awal. Namun, ketika infeksi memburuk, beberapa keluhan dapat muncul, antara lain:
- Nyeri panggul atau nyeri pinggang
- Urine bercampur darah atau hematuria
- Frekuensi buang air kecil meningkat
- Nyeri atau sensasi terbakar saat buang air kecil
- Penurunan jumlah urine atau oliguria
- Adanya darah, protein, atau sel darah putih dalam urine
- Gejala umum seperti demam ringan berkepanjangan, penurunan berat badan, keringat malam, batuk, dan tubuh terasa lemas
Karena menyerupai infeksi saluran kemih, TB ginjal kerap sulit dideteksi. Pada banyak kasus, kecurigaan muncul ketika keluhan tidak membaik meski telah diberikan antibiotik.
7 Penyebab TB Ginjal yang Sering Tidak Disadari
TB ginjal tidak terjadi secara tiba-tiba. Berikut tujuh faktor yang sering berperan dalam munculnya penyakit ini.
- Riwayat TB Paru atau TB Laten
Infeksi TB sebelumnya dapat menjadi sumber penyebaran bakteri ke ginjal. - Penyebaran Bakteri Melalui Aliran Darah
Bakteri TB dapat bertahan lama dan menyebar ke ginjal dalam jangka panjang. - Sistem Kekebalan Tubuh yang Melemah
Daya tahan tubuh yang rendah mempermudah infeksi berkembang. - Infeksi TB Ekstra Paru
TB pada organ lain meningkatkan risiko keterlibatan ginjal. - Paparan Lingkungan dengan Prevalensi TB Tinggi
Lingkungan dengan angka TB tinggi meningkatkan risiko infeksi. - Penyakit Kronis dan Terapi Imunosupresan
Diabetes, HIV, dan penggunaan obat penekan imun menjadi faktor risiko utama. - Terapi BCG pada Kandung Kemih
Terapi kanker kandung kemih dengan BCG dapat memicu TB ginjal pada sebagian kecil kasus.
Bagaimana Mendeteksi TB Ginjal?
Diagnosis TB ginjal memerlukan pemeriksaan khusus. Evaluasi dapat dilakukan melalui tes polymerase chain reaction (PCR) urine, pemeriksaan Lipoarabinomannan (LAM) pada urine, serta pemeriksaan basil tahan asam dengan metode smear microscopy menggunakan pewarnaan Ziehl–Neelsen.
Pemeriksaan pencitraan dan tes fungsi ginjal juga diperlukan untuk menilai tingkat keparahan infeksi.
Pengobatan TB Ginjal
Penanganan TB ginjal dilakukan dengan pemberian Obat Anti Tuberkulosis (OAT) sesuai pedoman medis. Terapi lini pertama meliputi kombinasi isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, dan ethambutol selama dua bulan, dilanjutkan dengan isoniazid dan rifampisin selama empat bulan berikutnya.
Pada kasus resistensi obat, diperlukan terapi lini kedua dengan durasi lebih panjang. Sementara itu, pada penderita TB ginjal dengan HIV, rifampisin diganti dengan rifabutin dan masa pengobatan diperpanjang. Jika terjadi komplikasi berat, tindakan operasi dapat menjadi pilihan lanjutan.
Kasus TB ginjal yang dialami tokoh publik menunjukkan bahwa penyakit ini dapat berdampak serius apabila terlambat ditangani. Pemahaman mengenai Apa itu TB Ginjal menjadi kunci untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Meski terdengar serius, TB ginjal dapat disembuhkan apabila dikenali sejak awal dan diobati sesuai anjuran medis. Penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting dalam mencegah penyakit ini.

