Kenapa Virus Nipah Berbahaya? Ini Cara Mencegah dan Faktor Risikonya

Anggi Mardiana
2 Februari 2026, 12:24
Kenapa virus Nipah Berbahaya?
Pilar.id
Kenapa virus Nipah Berbahaya?
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kenapa virus Nipah berbahaya? Virus Nipah merupakan virus zoonosis yang dapat berpindah dari hewan ke manusia dan memiliki tingkat fatalitas yang sangat tinggi, yaitu sekitar 40 hingga 75 persen.

Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1999 di Malaysia dan Singapura. Penularan virus Nipah terjadi melalui kontak langsung dengan hewan inang, khususnya kelelawar pemakan buah dari keluarga Pteropodidae, atau melalui konsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi.

Kenapa Virus Nipah Berbahaya?

Apa itu Virus Nipah
Virus Nipah (Katadata)

Virus Nipah (NiV) tergolong sangat berbahaya karena sifatnya yang agresif dan dapat bermutasi. Infeksi virus ini dapat memicu peradangan otak yang serius (ensefalitis), disertai gejala gangguan pernapasan akut. Masa inkubasinya antara 4 hingga 14 hari, namun dalam beberapa kasus dapat mencapai 45 hari, sehingga orang yang terinfeksi mungkin tidak menyadarinya.

Perbedaan utama virus Nipah dengan flu biasa atau Covid-19 yaitu tingkat kematian kasusnya yang jauh lebih tinggi. Selain itu, NiV dapat menimbulkan gangguan saraf berat seperti kejang, perubahan kepribadian, hingga koma. Penularan antar manusia juga mungkin terjadi, terutama melalui kontak dekat dengan cairan tubuh pasien atau di lingkungan fasilitas kesehatan.

Keberadaan virus Nipah menjadi ancaman serius bagi kesehatan global karena hingga kini belum tersedia vaksin maupun terapi khusus. Virus Nipah memiliki potensi besar memicu pandemi sehingga masuk dalam daftar prioritas pengawasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Faktor Risiko Penularan

Beberapa faktor dan kegiatan yang dapat meningkatkan risiko terinfeksi virus Nipah antara lain:

1. Kontak dengan hewan pembawa virus, terutama kelelawar pemakan buah. Peternak babi di wilayah wabah awal, seperti Malaysia, juga berisiko tinggi karena babi dapat menjadi perantara infeksi.
2. Minum nira mentah atau mengonsumsi buah yang terkena air liur maupun kotoran kelelawar pembawa virus.
3. Tenaga medis maupun anggota keluarga yang merawat pasien tanpa alat pelindung diri (APD) berisiko tertular melalui percikan atau cairan tubuh pasien.
4. Tinggal atau bepergian di kawasan endemic. Daerah dengan laporan wabah sebelumnya, seperti beberapa wilayah di India (Kerala), Bangladesh, Malaysia, dan Singapura, memiliki risiko lebih tinggi.
Cara Mencegah Virus Nipah
Karena belum ada pengobatan spesifik, langkah pencegahan menjadi kunci utama melawan virus Nipah:
1. Hindari kontak dengan hewan pembawa
• Jangan memasuki gua atau area yang dihuni kelelawar.
• Hindari memetik atau mengonsumsi buah yang jatuh atau tampak tergigit hewan.
• Cuci buah dan sayuran secara menyeluruh sebelum dimakan.
2. Hentikan konsumsi nira mentah atau produk belum dipasteurisasi
• Virus Nipah dapat bertahan dalam cairan yang terkontaminasi.
• Konsumsi nira kurma atau produk sejenis yang sudah dimasak atau dipasteurisasi.
3. Terapkan kebersihan dan keamanan pangan yang ketat
• Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara rutin.
• Gunakan alat pelindung diri (sarung tangan, masker) saat berurusan dengan hewan sakit atau di peternakan berisiko.
4. Lindungi diri saat merawat pasien
• Tenaga kesehatan dan pengasuh wajib mengenakan APD lengkap (masker N95, faceshield, gaun, sarung tangan).
• Ikuti prosedur pengendalian infeksi secara ketat.
5. Tingkatkan kewaspadaan dan edukasi
• Pantau informasi wabah dari otoritas kesehatan resmi.
• Edukasi komunitas mengenai sumber penularan dan cara pencegahannya.

Kenapa virus Nipah berbahaya karena memiliki tingkat kematian yang tinggi dan menular. Hingga kini belum tersedia vaksin atau pengobatan khusus, sehingga langkah pencegahan menjadi kunci utama untuk melindungi diri.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan