Sejarah Perjuangan Ali Khamenei: Ulama Anti Barat, Dicitrakan Diktator oleh AS
Nama Ali Khamenei selama lebih dari tiga dekade menjadi simbol kekuasaan tertinggi di Republik Islam Iran. Sejak 1989, Ali Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Agung atau Supreme Leader, posisi yang berada di atas presiden dan parlemen dalam struktur politik Iran. Jabatan tersebut memiliki kewenangan luas atas militer, peradilan, media, hingga kebijakan strategis seperti program nuklir dan hubungan luar negeri.
Kematian Ali Khamenei pada Sabtu, 28 Februari 2026, menandai berakhirnya satu era panjang dalam sejarah Iran modern. Media pemerintah Iran pada Minggu dini hari mengonfirmasi bahwa Ali Khamenei tewas akibat serangan rudal gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam sejumlah target strategis di Teheran. Konfirmasi itu muncul beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump lebih dulu mengumumkan kematian Ali Khamenei.
Laporan menyebutkan bahwa Ali Khamenei kehilangan kontak sejak gelombang serangan awal. Dalam serangan yang sama, Ali Shamkhani serta Mayor Jenderal Mohammad Pakpour, Panglima Tertinggi Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), juga dilaporkan gugur.
Siapa Ali Khamenei?

Ali Khamenei lahir pada 17 Juli 1939 di Mashhad, kota suci Syiah di timur laut Iran. Ia tumbuh dalam keluarga ulama sederhana dengan kondisi ekonomi terbatas. Sejak kecil, Ali Khamenei dibesarkan dalam lingkungan religius ketat dan menempuh pendidikan di seminari Islam di Najaf dan Qom, dua pusat utama teologi Syiah dunia.
Pada usia remaja, Ali Khamenei mulai tertarik pada gagasan Islam revolusioner. Ia terpengaruh pemikiran Navab Safavi yang menyerukan perlawanan terhadap rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi. Bagi Ali Khamenei, agama bukan sekadar ajaran spiritual, melainkan instrumen perubahan politik untuk melawan sistem monarki yang dianggap pro-Barat dan represif.
Pertemuan Ali Khamenei dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada 1958 menjadi titik balik. Ia mengadopsi gagasan yang kemudian dikenal sebagai “Khomeinisme”, yang memadukan teologi Syiah dengan sentimen anti-kolonial. Inti dari gagasan tersebut adalah konsep velayat-e faqih, yakni legitimasi negara bersumber dari otoritas ilahi yang dipegang ulama.
Sejak 1962, Ali Khamenei aktif dalam jaringan revolusioner bawah tanah. Pada 1971, ia ditangkap oleh SAVAK dan mengalami penyiksaan. Pengalaman tersebut memperkuat reputasi Ali Khamenei sebagai aktivis garis keras yang setia kepada Khomeini.
Dari Presiden ke Pemimpin Agung
Setelah Revolusi Islam 1979 menggulingkan Shah, Ali Khamenei naik ke lingkaran kekuasaan. Ia menjadi anggota Dewan Revolusi, menjabat wakil menteri pertahanan, dan berperan dalam pembentukan IRGC, institusi militer yang kemudian menjadi tulang punggung kekuasaannya.
Pada 1981, Ali Khamenei terpilih sebagai Presiden Iran dan menjabat hingga 1989. Masa kepresidenannya berlangsung di tengah Perang Iran–Irak dan konsolidasi sistem revolusioner.
Wafatnya Khomeini pada Juni 1989 memunculkan kekosongan kepemimpinan. Nama Ali Khamenei muncul sebagai kandidat. Meski belum menyandang gelar Grand Ayatollah, referendum konstitusi menghapus syarat tersebut dan membuka jalan bagi Ali Khamenei menjadi Pemimpin Agung.
Peran Ali Khamenei Sebagai Ayatollah

Dalam sistem politik Republik Islam Iran, kewenangan Pemimpin Tertinggi tidak hanya bersifat simbolik atau religius, tetapi juga mencakup kendali luas terhadap berbagai institusi strategis negara.
Posisi ini menempatkan Pemimpin Tertinggi sebagai figur paling berpengaruh dalam struktur kekuasaan Iran, bahkan melampaui presiden maupun parlemen. Sejumlah sektor utama yang berada di bawah otoritas langsung Pemimpin Tertinggi meliputi militer, lembaga peradilan, lembaga pengawas politik, media nasional, hingga kebijakan strategis negara seperti program nuklir dan hubungan luar negeri.
Salah satu kewenangan terpenting Pemimpin Tertinggi adalah kendali penuh terhadap angkatan bersenjata Iran, termasuk Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). IRGC merupakan institusi militer elite yang dibentuk setelah Revolusi Islam 1979 dengan tugas utama menjaga ideologi dan stabilitas sistem republik Islam. Selain memiliki kekuatan militer yang besar, IRGC juga berperan dalam berbagai sektor strategis, mulai dari keamanan nasional hingga ekonomi.

Selain sektor militer, Ali Khamenei juga memiliki peran besar dalam struktur peradilan Iran. Ia berwenang menunjuk kepala lembaga peradilan yang bertanggung jawab atas sistem hukum nasional. Kepala peradilan memiliki wewenang untuk mengawasi pengadilan di seluruh Iran serta menunjuk jaksa agung dan kepala Mahkamah Agung. Karena proses penunjukan ini berada di tangan Pemimpin Tertinggi, sistem peradilan Iran memiliki hubungan yang sangat erat dengan struktur kepemimpinan politik dan keagamaan negara

Kewenangan lain yang tidak kalah penting adalah pengaruh terhadap Dewan Garda atau Guardian Council. Lembaga ini memiliki peran strategis dalam sistem politik Iran karena bertugas meninjau undang-undang yang disahkan parlemen serta memastikan seluruh regulasi sesuai dengan konstitusi dan prinsip syariat Islam.

Di bidang informasi dan komunikasi publik, seorang Ayatollah seperti Ali Khamenei juga memiliki pengaruh besar terhadap media nasional. Iran memiliki lembaga penyiaran negara yang mengelola televisi dan radio nasional. Kepala lembaga penyiaran ini ditunjuk langsung oleh Ayatollah sehingga arah pemberitaan dan kebijakan komunikasi negara berada dalam pengawasan otoritas tertinggi tersebut. Bagi media barat, kendali Ayatollah dalam bidang media seperti ini dianggap sebagai praktik diktarorisme.
Kewenangan Pemimpin Tertinggi juga mencakup penentuan kebijakan strategis negara, khususnya yang berkaitan dengan program nuklir dan hubungan luar negeri. Dalam berbagai isu internasional yang sensitif, seperti negosiasi nuklir dengan negara Barat, keputusan akhir sering kali berada di tangan Ayatollahi. Meski pemerintah dan presiden memiliki peran dalam diplomasi dan hubungan internasional, arah utama kebijakan luar negeri Iran tetap ditentukan oleh otoritas tertinggi tersebut.
Poros Perlawanan dan Strategi Pertahanan Iran
Di bawah Ali Khamenei, kebijakan luar negeri Iran menggunakan strategi “pertahanan ke depan” (forward defence). Strategi ini melahirkan apa yang disebut sebagai “Poros Perlawanan”, mencakup Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, Houthi di Yaman, dan rezim Bashar al-Assad di Suriah.
Arsitek utama jaringan tersebut adalah Qassem Soleimani, komandan Pasukan Quds IRGC yang tewas dalam serangan udara AS pada 2020. Kehilangan Soleimani menjadi pukulan besar bagi Ali Khamenei, tetapi strategi poros perlawanan tetap dilanjutkan.
Namun sejak 2023, jaringan tersebut mulai melemah akibat perang Gaza, serangan Israel terhadap Hizbullah, serta runtuhnya rezim Assad pada Desember 2024.
Protes dan Represi 2025–2026
Kepemimpinan Ali Khamenei juga diwarnai gelombang protes dalam negeri. Selain Green Movement 2009 dan demonstrasi 2022, protes besar kembali meletus pada akhir 2025 akibat krisis ekonomi, inflasi, dan anjloknya nilai tukar rial.
Gelombang protes 28 Desember 2025 berubah menjadi gerakan politik nasional. Pada 3 Januari 2026, Ali Khamenei melabeli demonstran sebagai “perusuh”, yang diikuti tindakan represif aparat. Akses internet diputus total sejak 8 Januari.
Pasukan keamanan menggunakan peluru tajam untuk menembaki massa. Pemerintah mengakui 3.117 korban jiwa, sementara media internasional memperkirakan hingga 30.000 korban. Presiden Trump bahkan menyebut angka 32.000 korban tewas.
Negosiasi Nuklir dan Operasi Epic Fury

Ketegangan memuncak ketika pemerintahan Trump yang kembali berkuasa pada 2025 mengajukan empat tuntutan utama kepada Iran: penghentian program nuklir, pembatasan misil balistik, penghentian pendanaan proksi, dan penghentian represi.
Negosiasi berjalan buntu. Pejabat AS menyatakan Iran menolak membahas program rudal dan uranium. Trump kemudian mengumumkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer.
Pada 27 Februari 2026, Trump menyatakan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sehari kemudian, AS dan Israel meluncurkan operasi udara gabungan yang disebut sebagai Operasi Epic Fury, menghantam fasilitas nuklir dan kediaman Ali Khamenei.
Kematian Ali Khamenei
Serangan 28 Februari 2026 menghancurkan kediaman Ali Khamenei dan menewaskannya pada usia 86 tahun. Pemerintah Iran menyebut Ali Khamenei sebagai “penerus sah Ruhullah” yang memimpin umat melawan tirani hingga akhir hayat.
Sebaliknya, Presiden Trump menyebut Ali Khamenei sebagai sosok yang bertanggung jawab atas kematian banyak warga Amerika dan menyatakan kematiannya sebagai bentuk keadilan.
Pasca-kematian Ali Khamenei, Iran memasuki masa transisi. Pejabat Presiden Mohammad Mokhber menyatakan fase transisi dikelola oleh Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni-Ejei, dan perwakilan Dewan Garda.
IRGC menegaskan akan melancarkan operasi ofensif paling brutal dalam sejarah angkatan bersenjata Iran terhadap Israel dan pangkalan AS.


