Guru Besar Unpad Dinonaktifkan Usai Diduga Lecehkan Mahasiswi
Dugaan kasus kekerasan seksual terhadap mahasiswi asing program pertukaran pelajar di Universitas Padjadjaran (Unpad) menjadi sorotan di media sosial. Kasus tersebut diduga melibatkan oknum guru besar di lingkungan kampus.
Saat ini, kampus telah menonaktifkan Guru Besar Unpad Fakultas Keperawatan (FKep), inisial IY setelah diduga terlibat pelecehan seksual terhadap mahasiswinya. Dalam keterangan resminya, Rektor Unpad Arief Sjamsulaksan Kartasasmita akan mengambil langkah tegas dalam kasus ini.
"Unpad segera mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dosen yang bersangkutan dari seluruh kegiatan akademik," ujat Arief Sjamsulaksan.
Unpad juga akan membentuk tim investigasi untuk mengusut kasus tersebut dengan melibatkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Unpad dan unsur senat fakultas. Apabila dalam proses investigasi IY terbukti tindakan kekerasan seksual, Unpad akan menjatuhkan sanksi sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ia berjanji, Unpad akan konsisten melakukan proses pembuktian dan penindakan kekerasan sesuai dengan perundang-undangan. Ia memprioritaskan kepentingan dan keselamatan pihak yang menjadi korban.
Arief menekankan kasus tindakan kekerasan seksual perlu ditangani dengan penuh kehati-hatian.
"Unpad akan selalu memperhatikan prosedur pembuktian dengan seksama melalui perangkat yang ada agar tidak menimbulkan keputusan yang keliru, walaupun titik keberpihakan Unpad adalah kepada korban," kata dia.
Tunai Kecaman dari BEM Unpad
Dalam kasus ini, oknum guru besar itu meminta foto mahasiswinya yang sedang mengenakan bikini melalui aplikasi WhatsApp. Mahasiswi yang jadi korban guru besar mesum itu merupakan mahasiswi exchange atau warga negara asing (WNA).
Bukti obrolan antara mahasiswi dan oknum guru besar itu tersebar di media sosial X. Aksi mesum yang dilakukan oknum guru besar itu mendapatkan kecaman dari BEM Kema Unpad dan BEM Kema FKep Unpad.
Postingan yang diunggah di akun @bem.unpad, pada Kamis (16/4/2026), BEM Kema Unpad mengetahui adanya dugaan kekerasan seksual dari media sosial X atau Twitter. Dalam pernyataan sikap tersebut disebutkan pula bahwa dugaan kekerasan seksual ini melibatkan salah satu Profesor di lingkungan Unpad.
Dalam lanjutan kalimat di atas, postingan itu menyebut bahwa BEM Kema Unpad maupun BEM Kema Fakultas Keperawatan (FKep) Unpad saat ini telah melakukan koordinasi dengan pihak kampus. Dituliskan juga BEM Kema Unpad menyampaikan keprihatinan atas adanya dugaan kekerasan seksual tersebut.
"Saat ini, BEM Kema Unpad dan BEM Kema FKep Unpad telah dan akan terus berkoordinasi dengan Satgas PPKS Unpad, Dekanat Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, dan Rektorat Universitas Padjadjaran. Menanggapi laporan tersebut kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam serta empati dan solidaritas kepada korban yang terdampak," tulis pernyataan dari BEM Kema Unpad.
Mereka menyebut menegaskan bahwa tidak ada bentuk kekerasan seksual yang dapat dibenarkan dalam kondisi pa pun, dan tindakan tersebut tidak memiliki tempat dalam lingkungan kampus. BEM Kema Unpad dan BEM Kema Fkep Unpad menyatakan keberpihakan pada korban serta mendukung penuh seluruh upaya perlindungan, pendampingan, dan pemulihan korban.
BEM Kema Unpad dan BEM Kema Fkep Unpad juga menolak setiap bentuk pembiaran dan pelanggengan kekerasan seksual di lingkungan akademik.
"Tidak ada toleransi bagi institusi, organisasi, atau individu yang memilih diam, melindungi pelaku, atau menempatkan nama baik di atas keselamatan korban," lanjutnya.
