Harga Minyak Naik Turun, Apa Saja Saham Minyak dan Gas di BEI?

Izzul Millati
8 Mei 2026, 10:58
saham minyak di Indonesia
unsplash.com
saham minyak di Indonesia
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia kembali bergerak fluktuatif sepanjang Mei 2026 akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian pasokan energi global. Pada Jumat, 8 Mei 2026, harga minyak Brent kembali naik di atas US$103 per barel setelah bentrokan antara Amerika Serikat dan Iran terjadi di sekitar Selat Hormuz. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dan LNG dunia.

Kenaikan harga minyak langsung membuat saham sektor energi dan minyak-gas bumi (migas) kembali menjadi perhatian investor di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, ketika harga minyak global meningkat, pendapatan dan laba perusahaan energi biasanya ikut terdorong sehingga saham-saham migas cenderung mengalami penguatan.

Di tengah transisi menuju energi terbarukan, industri energi minyak dan gas masih memegang peran vital dalam perekonomian Indonesia. Sektor migas tetap menjadi tulang punggung pasokan energi nasional sekaligus salah satu sektor strategis di pasar modal. Bahkan, investor masih menganggap saham minyak di Indonesia masih sangat potensial karena prospeknya yang dinilai masih besar. 

Mengapa Harga Minyak Dunia Naik Turun?

Harga minyak dunia sangat dipengaruhi kondisi geopolitik internasional, terutama konflik di kawasan Timur Tengah yang menjadi pusat produksi energi global. 

  • Konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga minyak pada Mei 2026.
  • Selain geopolitik, harga minyak juga dipengaruhi kebijakan produksi negara-negara OPEC, permintaan energi global, kondisi ekonomi dunia, hingga nilai tukar dolar AS. Ketika pasokan minyak diperkirakan terganggu atau permintaan energi meningkat, harga minyak biasanya ikut naik.
  • Sebaliknya, jika ekonomi global melambat atau produksi minyak meningkat, harga energi dapat mengalami tekanan penurunan.

Apa Itu Saham Minyak dan Gas?

saham minyak di Indonesia
saham minyak di Indonesia (unsplash.com)

 

Saham energi minyak dan gas adalah saham perusahaan yang bergerak di sektor energi, khususnya minyak bumi dan gas alam.

Perusahaan dalam sektor ini tidak hanya bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak mentah, tetapi juga mencakup distribusi gas bumi, logistik energi, jasa pengeboran migas, transportasi energi laut, hingga perdagangan bahan bakar.

Karena berbasis komoditas, saham migas biasanya sangat sensitif terhadap perubahan harga minyak dunia. Ketika harga energi naik, laba perusahaan energi biasanya ikut meningkat sehingga saham sektor ini sering mendapat sentimen positif dari pasar.

Industri migas masih menjadi salah satu sektor penting dalam perekonomian Indonesia karena berperan besar dalam memenuhi kebutuhan energi nasional.

Selain sebagai penyedia energi, sektor ini juga menjadi sumber pendapatan negara, pembuka lapangan kerja, dan penggerak industri lainnya seperti manufaktur, transportasi, dan logistik.

Di pasar modal, saham energi minyak dan gas juga memiliki karakter unik karena mencakup berbagai model bisnis, mulai dari perusahaan hulu migas, distribusi energi, jasa offshore, hingga pelayaran tanker minyak.

Daftar Saham Minyak dan Gas di BEI

Kinerja saham migas umumnya dipengaruhi oleh harga minyak dan gas global, kebijakan energi pemerintah, nilai tukar rupiah, dan efisiensi operasional masing-masing emiten. Berikut ini daftar saham minyak dan gas yang terdaftar di BEI. 

1. PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS)

PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGAS merupakan perusahaan distribusi dan transmisi gas bumi terbesar di Indonesia sekaligus bagian dari holding migas Pertamina.

PGAS memiliki jaringan pipa gas nasional yang melayani industri, pembangkit listrik, dan rumah tangga. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp38 triliun, PGAS sering dianggap sebagai saham energi defensif karena memiliki pendapatan berulang dari distribusi gas.

Kinerja perusahaan relatif stabil dibanding perusahaan eksplorasi migas karena lebih bergantung pada volume distribusi gas dan proyek jaringan energi nasional.

2. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

MEDC merupakan salah satu perusahaan migas terbesar di Indonesia yang bergerak di bidang eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi.

Perusahaan ini memiliki aset energi di Indonesia dan luar negeri sehingga sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia. Kapitalisasi pasar MEDC mencapai sekitar Rp27 triliun.

Ketika harga minyak dunia naik, laba MEDC biasanya ikut terdorong karena pendapatan perusahaan bergantung pada harga jual energi internasional.

3. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)

ENRG bergerak di sektor eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi dengan sejumlah aset migas di Indonesia.

Perusahaan ini cukup aktif mengembangkan blok migas dan meningkatkan efisiensi operasional dalam beberapa tahun terakhir. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp5,7 triliun, ENRG dikenal sebagai saham energi bertumbuh yang cukup sensitif terhadap harga minyak dunia.

4. PT Rukun Raharja Tbk (RAJA)

RAJA bergerak di sektor infrastruktur dan distribusi gas bumi atau midstream gas. Perusahaan ini mencatat pertumbuhan laba cukup agresif sejak 2022 seiring ekspansi jaringan distribusi energi nasional. 

Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp11 triliun, RAJA cukup diperhatikan investor karena prospek bisnis gas bumi masih besar di Indonesia.

5. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)

AKRA bukan perusahaan eksplorasi migas murni, tetapi memiliki peran besar dalam distribusi bahan bakar minyak dan logistik energi nasional.

Selain distribusi energi, perusahaan ini juga memiliki bisnis kawasan industri dan perdagangan bahan kimia. Kapitalisasi pasar AKRA mencapai sekitar Rp22 triliun.

Karena model bisnisnya lebih stabil, saham AKRA sering dianggap sebagai saham energi dengan risiko lebih rendah dibanding perusahaan eksplorasi migas.

6. PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU)

RATU merupakan emiten energi yang memiliki keterkaitan dengan proyek migas strategis di Indonesia.

Perusahaan ini mampu mencatat margin laba tinggi pada periode tertentu, tetapi karena bisnisnya berbasis proyek energi, kinerja laba RATU juga cukup fluktuatif.

Pada periode perdagangan awal 2026, kapitalisasi pasar RATU diperkirakan berada di kisaran Rp3 triliun–Rp4 triliun. Investor biasanya memperhatikan pertumbuhan kontrak proyek, margin laba bersih, dan perkembangan blok migas yang berkaitan dengan perusahaan untuk membaca prospek saham ini. 

7. PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP)

SHIP bergerak di bidang jasa kapal pendukung migas offshore atau lepas pantai. Pada awal 2026, kapitalisasi pasar SHIP berada di kisaran Rp2,7 triliun. Perusahaan juga dikenal memiliki margin laba bersih dua digit dalam beberapa periode terakhir, yang menunjukkan efisiensi operasional cukup baik di sektor offshore support. 

Perusahaan ini menyediakan kapal pendukung untuk eksplorasi dan produksi migas di laut. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp2,7 triliun, SHIP biasanya mendapat sentimen positif ketika aktivitas pengeboran migas offshore meningkat.

8. PT Soechi Lines Tbk (SOCI)

SOCI merupakan perusahaan pelayaran energi yang bergerak di bidang transportasi laut minyak dan gas. Perusahaan ini memiliki armada tanker untuk distribusi energi nasional maupun internasional. Kinerja SOCI mulai membaik seiring meningkatnya aktivitas distribusi energi global.

Pada perdagangan awal 2026, kapitalisasi pasar SOCI diperkirakan berada di kisaran Rp1,8 triliun–Rp2 triliun. Investor biasanya memperhatikan tarif sewa kapal tanker, utilisasi armada, dan perkembangan distribusi energi global sebagai faktor utama yang memengaruhi saham ini.

SOCI juga cukup sensitif terhadap kenaikan harga minyak karena meningkatnya aktivitas perdagangan energi biasanya berdampak positif terhadap permintaan transportasi laut migas.

9. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL)

BULL bergerak di bidang pengangkutan energi melalui kapal tanker dan layanan floating storage. Kapitalisasi pasarnya mencapai ± Rp1,6 triliun.

Perusahaan ini sempat mengalami tekanan keuangan sebelum mulai menunjukkan pemulihan profitabilitas sehingga sering dianggap sebagai saham turnaround sektor energi.

Selain emiten besar dan menengah, terdapat pula saham energi berkapitalisasi kecil seperti CGAS, LEAD, GTSI, hingga KOPI.

Emiten-emiten ini biasanya memiliki likuiditas saham yang lebih terbatas, laba yang fluktuatif, dan ketergantungan tinggi terhadap proyek tertentu.

Meski potensi kenaikan harga sahamnya bisa sangat tinggi ketika sektor energi sedang naik, risiko investasinya juga jauh lebih besar dibanding saham energi berkapitalisasi besar.

Bagaimana Memanfaatkan Saham Energi untuk Investasi?

Strategi investasi di sektor migas biasanya bergantung pada profil risiko masing-masing investor.

Investor jangka panjang umumnya memilih emiten besar dengan pendapatan stabil seperti PGAS atau AKRA karena dianggap lebih defensif.

Sementara itu, investor yang mencari pertumbuhan agresif biasanya melirik saham yang sensitif terhadap harga minyak seperti MEDC dan ENRG.

Diversifikasi antar sub sektor energi seperti distribusi gas, eksplorasi migas, jasa offshore, dan pelayaran energi juga sering digunakan untuk membantu mengurangi risiko investasi.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan