Ganti LPG ke CNG, Apakah Perlu Ganti Kompor?
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai menyiapkan pengembangan compressed natural gas (CNG) dalam tabung 3 kilogram (kg) sebagai alternatif pengganti LPG subsidi 3 kg. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi energi nasional.
Langkah ini juga untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor elpiji serta kebutuhan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Sebelumnya, penggunaan CNG saat ini sudah diterapkan di sejumlah hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kini, pemerintah mulai mengarahkannya untuk kebutuhan rumah tangga. Menjelang transisi LPG ke CNG, apakah masyarak perlu ganti kompor?
Apakah Perlu Ganti Kompor saat Ganti LPG ke CNG?
CNG atau compressed natural gas adalah gas alam yang dipadatkan dalam sebuah tabung, sehingga memiliki tekanan yang sangat tinggi hingga 250 bar. Berbeda dengan LNG yang berbentuk cair, CNG masih berbentuk gas.
Saat ini, pemerintah tengah mengkaji aspek keselamatan CNG. Hal ini merupakan ranah Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi Lemigas, yang kajiannya akan selesai dalam 3 bulan mendatang.
Nantinya, pemerintah akan memperhatikan kesesuaian tabung dsn kompor CNG dengan kompor yang saat ini menggunakan LPG. Dengan begitu, masyarakat tidak perlu mengganti kompor untuk bisa memakai CNG.
Nantinya setelah kajian selesai, CNG tabung 3 kg akan diproduksi secara masif dengan skema bisnis yang masih digodok. Teknologi dan implementasi tabung CNG sudah dikembangkan sejak tahun 1920.
Pada tabung tipe 1, komponen yang digunakan adalah logam murni, kemudian berkembang menjadi tipe 2 hingga tipe 4 dengan berbagai campuran sehingga tabung menjadi lebih ringan.
Apa Itu CNG?
Mengacu pada definisi dari Peraturan Presiden No. 64 Tahun 2012 tentang Penyediaan, Pendistribusian, dan Penetapan Harga Bahan Bakar Gas Untuk Transportasi Jalan, CNG adalah bahan bakar yang berasal dari gas alam, terutama yang mengandung metana (C1). Gas jenis ini dipadatkan hingga bertekanan tinggi agar lebih mudah disimpan dan digunakan.
Melansir laman resmi PT PGN (PGAS), gas alam terdiri dari campuran unsur seperti hidrokarbon yang terdiri dari metana (C1), etana (C2), propana (C3), dan butana (C4). CNG sendiri terdiri dari 95 persen kadar metana.
Saking beragamnya unsur gas alam, pengolahan dan pemanfaatannya pun berbeda-beda. Gas alam bisa diolah menjadi LPG, jadi Liquefied Natural Gas (LNG), termasuk pula menjadi CNG.
Perbedaan utama antara CNG, LPG, dan LNG terletak pada keadaan fisiknya dan tekanan penyimpanannya. CNG disimpan dalam bentuk gas pada tekanan tinggi, sementara LPG dalam bentuk cair pada tekanan dan suhu moderat.
Sementara LNG diangkut dalam bentuk cair pada suhu sangat rendah. Melansir laman resmi PT PGN, CNG memiliki beberapa kelebihan dalam pemanfaatannya.
CNG menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar konvensional, sehingga membantu mengurangi polusi udara. Harga CNG juga cenderung lebih stabil dibandingkan dengan bahan bakar fosil lainnya karena gas alam kurang tunduk pada fluktuasi pasar minyak.
CNG juga menjadi salah satu sumber energi berkelanjutan karena diperoleh dari sumber gas alam yang melimpah, sehingga menjadikannya opsi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Namun dari berbagai kelebihan CNG yang telah dijabarkan, gas jenis itu juga tak luput dari kekurangan.
Menurut laman PT PGN gas jenis CNG memiliki beberapa kekurangan seperti infrastruktur pengisian CNG masih terbatas di beberapa wilayah, membatasi aksesibilitasnya. Selain itu CNG memerlukan ruang penyimpanan yang cukup besar, terutama untuk kendaraan bermotor, karena gas alam perlu dikompresi pada tekanan tinggi.
CNG Diklaim Lebih Hemat dan Murah dari Gas LPG
Gas CNG memang diklaim lebih hemat 30 hingga 40 persen dibandingkan LPG. Pemerintah juga memproyeksikan harga CNG per tabung (untuk volume setara LPG 3 kg) berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000.
Secara harga, gas CNG akan lebih murah daripada harga eceran LPG saat ini. Berbeda dengan LPG yang sekitar 75 hingga 80 persen kebutuhannya masih harus diimpor, CNG berasal dari gas alam murni yang melimpah di dalam negeri.
Hal ini membuat harganya cenderung lebih stabil dan tidak terlalu terpengaruh oleh fluktuasi harga minyak mentah dunia.

