Hantavirus Sudah Masuk ke Indonesia? Seberapa Bahaya Hantavirus?

Izzul Millati
13 Mei 2026, 10:04
Hantavirus sudah masuk ke Indonesia?
unsplash.com
Hantavirus sudah masuk ke Indonesia?
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Kesehatan memastikan kasus hantavirus telah ditemukan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya pemberitaan kasus infeksi hantavirus pada penumpang kapal pesiar MV Hondius di Eropa.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus yang terjadi di kapal pesiar tersebut. Pemerintah juga menegaskan hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia pada kasus yang ditemukan di Indonesia. Seiring dengan hal tersebut, banyak yang bertanya-tanya, apakah Hantavirus sudah masuk ke Indonesia?

Hantavirus Sudah Masuk ke Indonesia?

gejala virus Hantavirus
gejala virus Hantavirus (unsplash.com)

 

Pertanyaan mengenai Hantavirus sudah masuk ke Indonesia atau belum dijawab langsung oleh Kementerian Kesehatan melalui konferensi pers pada Mei 2026.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Saguni mengatakan Indonesia memang telah menemukan kasus hantavirus. Menurut data Kementerian Kesehatan, terdapat 23 kasus Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS yang tercatat sepanjang 2024 hingga 2026.

Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut total temuan kasus sejak 2023 juga mencapai 23 kasus.

“Di Indonesia sudah ditemukan 23 kasus sejak tahun 2023, tetapi semuanya merupakan HFRS yang ringan. Tidak terlalu berbahaya. Angka fatalitasnya sekitar 15 persen,” ujar Dante saat ditemui di UPTD Pelatihan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat di Bandung, Selasa, 12 Mei 2026.

Menurut pemerintah, jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia merupakan tipe yang telah lama ada dan pertama kali terdeteksi sejak 1991 dengan strain Seoul virus.

Apa Itu Hantavirus?

Setelah muncul pertanyaan Hantavirus sudah masuk ke Indonesia?, perhatian masyarakat kemudian tertuju pada jenis penyakit tersebut dan dampaknya terhadap kesehatan.

Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Virus ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui kontak dengan urine, air liur, feses, atau debu yang telah terkontaminasi virus.

Saat ini, hantavirus telah tersebar di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika. Penyakit ini memiliki dua jenis varian utama yang paling dikenal.

  • Jenis pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS yang umumnya menyerang ginjal. Gejala yang muncul dapat berupa demam tinggi, nyeri otot, gangguan ginjal, hingga kondisi kulit atau mata menguning.
  • Jenis kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau HPS yang menyerang paru-paru dan sistem pernapasan. Jenis ini dianggap jauh lebih berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut dan memiliki tingkat kematian tinggi. Menurut Dante, tingkat fatalitas HPS dapat mencapai 60 hingga 80 persen.

Kenapa Hantavirus di Indonesia Berbeda dengan Kasus Kapal Pesiar MV Hondius

Apa Itu HantaVirus
Apa Itu HantaVirus (unsplash.com)

 

Kekhawatiran publik meningkat setelah kasus hantavirus ditemukan pada penumpang kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Eropa. Kasus tersebut menjadi perhatian internasional karena diduga berkaitan dengan tipe HPS yang lebih berbahaya.

Namun, Kementerian Kesehatan menegaskan virus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan kasus di kapal pesiar tersebut.

Andi Saguni menjelaskan kasus pada MV Hondius merupakan tipe HPS yang disebabkan Andes virus. Jenis virus ini banyak ditemukan di Amerika Selatan dan dalam sejumlah penelitian disebut berpotensi menular antar manusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.

Sementara itu, kasus hantavirus di Indonesia merupakan tipe HFRS dengan strain Seoul virus yang hingga kini belum terbukti menular antar manusia.

“HPS banyak ditemukan di Amerika Selatan dan belum pernah dilaporkan di Indonesia, baik pada manusia maupun tikus,” kata Andi Saguni dalam konferensi pers pada Senin, 11 Mei 2026.

Pemerintah juga memastikan belum ada temuan tipe HPS pada manusia maupun tikus di Indonesia.

Bagaimana Penularan Hantavirus?

Menurut Kementerian Kesehatan, penularan hantavirus di Indonesia terutama terjadi melalui kontak dengan tikus atau celurut yang terinfeksi.

Virus dapat menyebar melalui gigitan tikus, urine, feses, maupun debu yang telah terkontaminasi partikel virus. Risiko infeksi meningkat di lingkungan yang kotor, lembap, atau dipenuhi hewan pengerat.

Andi Saguni mengatakan kelompok pekerjaan yang banyak bersentuhan dengan lingkungan berisiko seperti petani, petugas kebersihan, dan pekerja di area tergenang banjir memiliki risiko lebih tinggi terpapar hantavirus.

Aktivitas di ruang bawah tanah, gedung lama, atau ruangan yang lama tidak digunakan juga dapat meningkatkan risiko karena area tersebut sering menjadi sarang tikus.

Dante menjelaskan pola penularan hantavirus memiliki kemiripan dengan leptospirosis yang juga berkaitan dengan paparan kotoran dan air kencing tikus.

“Bedanya, leptospirosis disebabkan bakteri, sedangkan hantavirus disebabkan virus,” ujar Dante.

Apakah Hantavirus Bisa Menular Antar Manusia?

Selain penularan dari hewan pengerat, masyarakat juga mempertanyakan kemungkinan penyebaran antarmanusia setelah muncul kasus pada kapal pesiar MV Hondius.

Menurut Andi Saguni, hingga kini belum ada bukti penularan antar manusia pada kasus HFRS yang ditemukan di Indonesia maupun di kawasan Asia dan Eropa. Namun, kemungkinan penularan antar manusia masih diteliti pada tipe HPS yang menyerang paru-paru.

Dante mengatakan kasus kematian pada kapal pesiar MV Hondius masih dalam penyelidikan untuk memastikan apakah benar terjadi penularan antar manusia atau tidak. Karena itu, pemerintah menegaskan masyarakat tidak perlu panik menghadapi temuan kasus hantavirus di Indonesia.

Seberapa Bahaya Hantavirus?

Secara umum, hantavirus memang perlu diwaspadai karena dapat menyerang organ penting seperti ginjal dan paru-paru.

Pada tahap awal, gejalanya sering menyerupai flu biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, dan tubuh lemas. Pada kondisi lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi gangguan ginjal serius atau gangguan pernapasan akut.

Jenis HPS menjadi bentuk paling berbahaya karena dapat menyebabkan paru-paru dipenuhi cairan hingga memicu sesak napas berat. Meski demikian, pemerintah menilai kondisi di Indonesia masih relatif terkendali karena seluruh kasus yang ditemukan merupakan tipe HFRS ringan.

Dante juga memastikan hantavirus yang ditemukan di Indonesia tidak akan berkembang menjadi pandemi seperti COVID-19.

Kementerian Kesehatan menghimbau masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi populasi tikus di sekitar tempat tinggal.

Ruangan tertutup yang lama tidak digunakan sebaiknya dibersihkan menggunakan masker dan sarung tangan untuk mengurangi resiko menghirup debu yang telah terkontaminasi virus. Makanan juga perlu disimpan di tempat tertutup agar tidak menarik tikus masuk ke rumah.

Selain itu, masyarakat dianjurkan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi, nyeri otot, gangguan ginjal, atau sesak napas setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan