Kronologi 9 WNI Global Sumud Flotilla Pulang ke Tanah Air, Bagaimana Prosesnya?

Izzul Millati
25 Mei 2026, 15:34
wni global sumud flotilla
ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./nym.
Aktivis Asad Aras Muhammad (kiri) bertemu dengan keluarganya saat keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, Minggu (24/5/2026). Pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak berhasil memulangkan sembilan WNI yang sempat ditahan oleh militer Israel saat melakukan misi kemanusian Global Sumud Flotilla 2.0.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla akhirnya kembali ke Indonesia setelah sempat ditahan militer Israel saat berlayar menuju Gaza, melansir laporan Jurnalis BBC News, 24 Mei 2026. Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan blokade berkepanjangan terhadap Gaza yang memicu krisis kemanusiaan.

Kasus WNI Global Sumud Flotilla bermula pada 18 Mei 2026 ketika armada kapal bantuan internasional dicegat militer Israel di perairan internasional Mediterania Timur. Armada tersebut membawa relawan kemanusiaan, jurnalis, dan aktivis dari berbagai negara yang bertujuan menyalurkan bantuan serta menarik perhatian dunia terhadap kondisi warga Palestina di Gaza.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri langsung melakukan langkah diplomasi intensif bersama sejumlah negara sahabat untuk membebaskan para relawan. Setelah beberapa hari menjalani penahanan dan pemeriksaan, sembilan WNI akhirnya dipulangkan melalui Turkiye dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu, 24 Mei 2026.

Kronologi Penangkapan WNI Global Sumud Flotilla oleh Israel

Sembilan WNI kembali ke Indonesia
Sembilan WNI kembali ke Indonesia (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./nym.)

 

Perjalanan WNI Global Sumud Flotilla dimulai ketika para relawan Indonesia bergabung dalam armada kemanusiaan internasional menuju Gaza. Misi tersebut membawa bantuan sipil sekaligus menjadi bentuk solidaritas terhadap warga Palestina yang terdampak konflik dan blokade berkepanjangan.

Pada Senin, 18 Mei 2026, beredar video yang memperlihatkan dua jurnalis Indonesia dari Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, ditahan tentara Israel. Penangkapan terjadi setelah kapal rombongan Global Sumud Flotilla diintersepsi di perairan internasional sekitar 250 mil dari Gaza. Dalam operasi itu, sedikitnya 10 kapal dilaporkan dicegat militer Israel, termasuk kapal Amanda, Barbaros, Josef, Blue Toys, Ozgurluk, dan BoraLize. 

Melansir laporan Jurnalis Katadata, Andi M Arief pada 20 Mei 2026, Kementerian Luar Negeri RI Sugiono membenarkan penangkapan tersebut dan mengecam keras tindakan militer Israel. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang menilai intersepsi terhadap armada sipil kemanusiaan merupakan tindakan yang melanggar hukum internasional.

Awalnya, pemerintah menyebut lima WNI ditahan dan empat lainnya masih berlayar di kapal berbeda. Namun pada Selasa malam, 19 Mei 2026, jumlah WNI yang ditangkap bertambah menjadi tujuh orang. Sehari kemudian, Kementerian Luar Negeri memastikan seluruh sembilan WNI yang tergabung dalam misi kemanusiaan tersebut telah ditahan Israel.

Berdasarkan data Global Peace Convoy Indonesia atau GPCI, sembilan WNI tersebut terdiri dari relawan kemanusiaan dan jurnalis dari berbagai organisasi. Mereka adalah Herman Budianto Sudarsono dan Ronggo Wirasanu dari Dompet Dhuafa, Andi Angga Prasadewa dari Rumah Zakat, Asad Aras Muhammad dari Spirit of Aqsa, Hendro Prasetyo dari SMART 171, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, Andre Prasetyo Nugroho dari Tempo, serta Rahendro Herubowo dari iNews.

Selama penahanan, para relawan sempat mengirimkan pesan darurat atau SOS dalam bentuk video yang menyatakan mereka telah ditangkap aparat Israel. Beberapa relawan juga mengaku mengalami perlakuan tidak manusiawi selama berada dalam tahanan.

Herman Budianto Sudarsono mengatakan sejumlah relawan internasional mengalami cedera serius, mulai dari patah tulang hingga luka akibat kekerasan fisik. Ia juga menyebut terdapat dugaan pelecehan seksual terhadap beberapa tahanan laki-laki maupun perempuan.

Kesaksian serupa disampaikan Rahendro Herubowo yang mengaku dipukul di bagian kepala dan tubuh, diinjak, hingga disetrum aparat Israel saat proses pemindahan tahanan. Menurutnya, tindakan kekerasan terjadi ketika para relawan dibawa dari kapal menuju daratan.

Diplomasi Pemerintah dan Proses Pemulangan WNI Global Sumud Flotilla

Setelah penangkapan terjadi, pemerintah Indonesia segera melakukan langkah diplomasi bersama sejumlah negara untuk membebaskan para relawan. Menteri Luar Negeri RI bersama menteri luar negeri dari sembilan negara lain mengeluarkan pernyataan bersama yang mengecam tindakan Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa intersepsi terhadap kapal sipil dan penahanan relawan kemanusiaan merupakan pelanggaran hukum internasional dan hukum humaniter internasional. Negara-negara tersebut juga mendesak Israel segera membebaskan seluruh aktivis dan menjamin keselamatan mereka.

Dalam proses diplomasi itu, Turki, Yordania, dan Mesir turut membantu proses pembebasan dan evakuasi relawan Indonesia. Pemerintah Turki bahkan menyiapkan pesawat untuk membawa para relawan dari Ashdod menuju Istanbul setelah mereka dibebaskan.

Melansir dari Detiknews, Koordinator Media GPCI Harfin Naqsyabandy pada Jumat, 22 Mei 2026, mengumumkan bahwa sembilan WNI akan segera dipulangkan ke Indonesia. Sebelum kembali, mereka menjalani pemeriksaan kesehatan dan proses dokumentasi kesaksian terkait dugaan kekerasan selama penahanan.

Konsul Jenderal RI di Istanbul Darianto Harsono mengatakan seluruh WNI tiba di Turki dalam kondisi selamat meski mengalami trauma fisik. Ia menyebut beberapa relawan mengaku dipukul, ditendang, hingga disetrum selama masa penahanan.

Para relawan kemudian terbang dari Istanbul menuju Dubai menggunakan maskapai Emirates pada Sabtu malam, 23 Mei 2026, sebelum melanjutkan penerbangan ke Jakarta. Pesawat yang membawa mereka akhirnya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pada Minggu sore, 24 Mei 2026.

Kedatangan WNI Global Sumud Flotilla disambut Menteri Luar Negeri Sugiono, Duta Besar Palestina untuk Indonesia Abdalfatah A.K. Alsattari, Dirjen Imigrasi Hendarsam Marantoko, serta keluarga para relawan. Suasana haru terlihat ketika para relawan keluar dari Terminal 3 sambil mengenakan keffiyeh atau syal khas Palestina.

Menlu Sugiono menegaskan pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi sejak para WNI diintersepsi pada 18 Mei 2026 hingga akhirnya berhasil dipulangkan. Ia juga kembali mengecam tindakan Israel yang dinilai melanggar hukum internasional karena menahan warga sipil yang menjalankan misi kemanusiaan.

Menurut Sugiono, Indonesia telah menyampaikan kecaman resmi dalam forum Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 21 Mei 2026. Pemerintah juga memastikan akan terus mendukung perjuangan kemanusiaan bagi rakyat Palestina melalui jalur diplomasi internasional.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan