El Nino Makin Dekat, Waspada 7 Penyakit Akibat El Nino Ini

Izzul Millati
2 Juni 2026, 18:50
penyakit akibat El Nino
pexels.com
penyakit akibat El Nino
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi Indonesia berpotensi menghadapi fenomena El Nino berkekuatan tinggi atau yang populer disebut El Nino Godzilla pada 2026, melansir dari tulisan Public Relations BMKG, Dwi Herlambang. Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur mengalami peningkatan signifikan sehingga mempengaruhi pola cuaca global.

Mengutip berbagai laporan internasional, termasuk The Independent, El Nino Godzilla dapat menyebabkan penurunan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Dampaknya adalah musim kemarau yang datang lebih cepat, berlangsung lebih lama, serta disertai suhu udara yang lebih panas dan kondisi lingkungan yang lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Fenomena tersebut tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan risiko kebakaran hutan. Dari sisi kesehatan, suhu panas ekstrem dan udara yang semakin kering juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit dan gangguan kesehatan.

Tubuh manusia harus bekerja lebih keras untuk menjaga suhu tetap stabil saat cuaca panas berlangsung dalam waktu lama. Pada saat yang sama, kualitas udara cenderung memburuk akibat meningkatnya debu, polusi, dan potensi kebakaran lahan. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit akibat El Nino yang berpotensi meningkat selama musim kemarau panjang.

Apa Itu El Nino Godzilla dan Mengapa Berbahaya?

El Nino merupakan fenomena iklim yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik. Pemanasan ini mengubah sirkulasi atmosfer sehingga mempengaruhi pola cuaca di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dalam kondisi yang lebih kuat, fenomena ini sering disebut El Nino Godzilla karena dampaknya yang luas dan lebih ekstrem. Indonesia umumnya mengalami penurunan curah hujan, musim kemarau yang lebih panjang, serta peningkatan suhu udara selama fenomena ini berlangsung.

Dari sisi kesehatan, cuaca panas berkepanjangan dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat melalui keringat. Selain itu, udara yang kering dan kualitas udara yang memburuk dapat memperbesar risiko gangguan pernapasan maupun penyakit kronis lainnya.

Karena itu, memahami penyakit akibat El Nino menjadi penting agar masyarakat dapat melakukan langkah pencegahan sejak dini.

Penyakit Akibat El Nino yang Perlu Diwaspadai

Penyakit akibat El Nino
Penyakit akibat El Nino (pexels.com)

 

Cuaca panas ekstrem yang berlangsung dalam waktu lama dapat mengganggu kemampuan tubuh dalam mengatur suhu internal. Saat suhu lingkungan meningkat, tubuh akan mengeluarkan lebih banyak keringat untuk mendinginkan diri.

Proses ini menyebabkan cairan dan elektrolit tubuh berkurang lebih cepat. Jika tidak segera digantikan, risiko dehidrasi hingga gangguan organ dapat meningkat.

Di sisi lain, musim kemarau yang panjang sering kali diikuti meningkatnya debu, asap, dan polusi udara. Kondisi tersebut dapat memperburuk kesehatan saluran pernapasan serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada kelompok rentan.

Kombinasi berbagai faktor inilah yang membuat penyakit akibat El Nino menjadi salah satu dampak yang perlu diwaspadai selain masalah lingkungan dan ekonomi.

Berikut tujuh penyakit dan gangguan kesehatan yang berpotensi meningkat selama fenomena El Nino terjadi.

1. Heat Stroke atau Sengatan Panas

Heat stroke merupakan kondisi darurat medis yang terjadi ketika suhu tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celcius dan tubuh kehilangan kemampuan untuk mendinginkan diri secara alami.

Gejalanya meliputi tubuh terasa sangat panas, kulit memerah, sakit kepala, pusing, mual, muntah, kebingungan, hingga kehilangan kesadaran. Pada kondisi yang lebih berat, heat stroke dapat menyebabkan kerusakan organ dan mengancam nyawa.

Risiko kondisi ini meningkat selama El Nino karena paparan suhu tinggi berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.

2. Gangguan Pernapasan

Musim kemarau yang lebih panjang membuat udara menjadi lebih kering dan kualitas udara cenderung menurun. Debu, asap kendaraan, serta potensi kebakaran hutan dan lahan dapat memperburuk kondisi tersebut.

Saluran pernapasan menjadi lebih mudah mengalami iritasi karena lendir pelindung pada hidung dan tenggorokan mengering. Akibatnya, risiko batuk, sesak napas, asma, bronkitis, dan penyakit paru kronis lainnya dapat meningkat.

Kelompok yang memiliki riwayat gangguan pernapasan menjadi pihak yang paling rentan mengalami dampak ini.

3. Migrain dan Sakit Kepala

Dehidrasi akibat suhu panas menjadi salah satu penyebab utama migrain dan sakit kepala selama musim kemarau ekstrim.

Ketika tubuh kehilangan cairan dalam jumlah besar, keseimbangan elektrolit terganggu dan mempengaruhi fungsi pembuluh darah di otak. Kondisi tersebut dapat memicu nyeri kepala yang muncul secara berulang.

Meski terlihat ringan, migrain yang tidak ditangani dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan produktivitas.

4. Tekanan Darah Tidak Stabil

Suhu udara yang tinggi dapat mempengaruhi sistem peredaran darah. Pada sebagian orang, tekanan darah dapat turun akibat kehilangan cairan yang berlebihan melalui keringat.

Namun dalam kondisi tertentu, tubuh justru harus bekerja lebih keras untuk mengatur suhu internal sehingga tekanan darah dapat meningkat. Situasi ini berbahaya bagi penderita hipertensi maupun penyakit jantung.

Karena itu, pemantauan tekanan darah secara rutin menjadi penting selama musim kemarau panjang.

5. Serangan Jantung dan Stroke

Salah satu penyakit akibat El Nino yang paling serius adalah meningkatnya risiko serangan jantung dan stroke.

Ketika suhu udara meningkat, jantung harus memompa darah lebih cepat untuk membantu tubuh membuang panas melalui keringat. Beban kerja jantung yang meningkat dapat memicu gangguan kardiovaskuler, terutama pada individu yang memiliki riwayat penyakit jantung atau pembuluh darah.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Circulation pada 2023 menunjukkan bahwa kematian akibat penyakit kardiovaskular yang berkaitan dengan paparan panas dapat meningkat hingga 162 persen.

6. Kulit Kering dan Iritasi

Kelembaban udara yang rendah selama musim kemarau membuat lapisan pelindung kulit lebih mudah kehilangan kandungan air alaminya.

Akibatnya, kulit menjadi kering, terasa kencang, bersisik, gatal, hingga mengalami iritasi. Pada sebagian orang, kondisi ini juga dapat memperburuk eksim maupun alergi kulit yang sudah ada sebelumnya.

Penggunaan pelembab dan menjaga kecukupan cairan tubuh dapat membantu mengurangi risiko gangguan ini.

7. Mata Merah dan Iritasi

Selain mempengaruhi kulit, udara yang kering juga berdampak pada kesehatan mata. Berkurangnya kelembaban alami pada permukaan mata dapat menyebabkan mata terasa perih, panas, gatal, dan tampak kemerahan.

Orang yang sering beraktivitas di luar ruangan atau terpapar debu dalam waktu lama memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini.

Penggunaan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan dapat membantu mengurangi risiko iritasi mata.

Siapa yang Paling Berisiko Terdampak?

Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama terhadap dampak kesehatan akibat El Nino. Kelompok yang paling rentan antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, serta penderita penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.

Pada kelompok tersebut, paparan suhu panas berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kesehatan yang sudah ada dan meningkatkan risiko komplikasi yang lebih serius.

Karena itu, pengawasan kesehatan pada kelompok rentan perlu ditingkatkan selama musim kemarau berlangsung.

Cara Mencegah Dampak Kesehatan Akibat El Nino

Meski risiko kesehatan meningkat, sebagian besar penyakit akibat El Nino dapat dicegah melalui langkah sederhana.

Masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi air putih untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang akibat keringat. Aktivitas fisik berat sebaiknya dibatasi saat suhu udara sedang tinggi, terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00.

Penggunaan pakaian yang ringan dan mudah menyerap keringat juga dapat membantu tubuh beradaptasi dengan cuaca panas. Selain itu, menjaga kualitas udara di dalam rumah, menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, serta mencukupi waktu istirahat menjadi langkah penting untuk menjaga daya tahan tubuh.

Bagi penderita penyakit kronis, pemeriksaan kesehatan secara berkala sangat disarankan selama periode El Nino berlangsung agar kondisi kesehatan tetap terpantau.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan