Usai Mbappe Dihina, Kejaksaan Prancis Selidiki Senator Paraguay

Izzul Millati
9 Juli 2026, 10:00
Mbappe Dihina
DetikSport
Mbappe Dihina
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kasus Mbappe dihina berkembang menjadi persoalan hukum dan diplomatik setelah Kejaksaan Paris membuka penyelidikan terhadap Senator Paraguay Celeste Amarilla atas dugaan ujaran rasis yang ditujukan kepada kapten tim nasional Prancis, Kylian Mbappe.

Penyelidikan diumumkan pada Selasa, 7 Juli 2026, menyusul laporan yang diajukan Federasi Sepak Bola Prancis (French Football Federation/FFF). Perkara ini bermula dari komentar Amarilla di media sosial setelah Prancis mengalahkan Paraguay 1-0 pada babak 16 besar Piala Dunia FIFA 2026 di Philadelphia, Amerika Serikat, 4 Juli 2026.

Jaksa Penuntut Umum Paris menyatakan penyelidikan dilakukan atas dugaan penghinaan di ruang publik yang diperberat karena didasarkan pada asal-usul, etnis, kewarganegaraan, ras, atau agama korban. Berdasarkan hukum Perancis, pelanggaran tersebut dapat dikenai hukuman penjara paling lama satu tahun dan denda hingga 45.000 euro apabila terbukti memenuhi unsur pidana.

Kronologi Kasus Mbappe Dihina Senator Paraguay

Kasus ini bermula setelah pertandingan babak 16 besar Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Paraguay dan Prancis. Dalam pertandingan tersebut, Mbappe mencetak gol melalui tendangan penalti pada menit ke-70 sehingga membawa Les Bleus menang tipis 1-0 dan melaju ke babak perempat final.

Tidak lama setelah laga berakhir, Celeste Amarilla mengunggah sejumlah komentar melalui media sosial yang menyerang Mbappe. Ia menyebut penyerang Real Madrid itu sebagai "orang bodoh" dan menudingnya tidak bersedia berjabat tangan dengan kiper Paraguay, Orlando Gill. Amarilla bahkan menyatakan Gill seharusnya menunjukkan gestur tidak pantas kepada Mbappe.

Dalam unggahan lainnya, Amarilla melontarkan komentar yang dinilai bernuansa rasis dengan menyebut Mbappe sebagai "orang Kamerun yang terjajah yang berpura-pura menjadi orang Prancis". Ia juga melontarkan penghinaan pribadi serta menuduh pemain berusia 27 tahun itu bermain dalam keadaan ketakutan sepanjang pertandingan.

Unggahan tersebut segera memicu kecaman luas di media sosial dan menjadi perhatian media internasional. Banyak pihak menilai pernyataan Amarilla telah melampaui batas kritik olahraga karena menyerang identitas rasial dan latar belakang pribadi seorang atlet.

Mbappe kemudian membalas melalui akun X miliknya. Ia menyebut Amarilla sebagai perempuan yang hina dan tidak layak menduduki jabatan senator. Menurut Mbappe, komentar tersebut tidak mewakili rakyat Paraguay yang telah menunjukkan semangat juang dan kehormatan selama mengikuti Piala Dunia. Ia juga menegaskan tidak akan membiarkan tindakan rasisme dan penyebaran kebencian dibiarkan tanpa perlawanan.

Respons Pemerintah Paraguay dan Langkah Hukum Perancis

Kasus ini segera mendapat perhatian dari pemerintah Paraguay. Wakil Presiden Paraguay, Pedro Alliana, menegaskan bahwa sepak bola merupakan simbol persaudaraan yang seharusnya mempersatukan masyarakat dan tidak boleh menjadi ruang bagi diskriminasi dalam bentuk apa pun.

Pemerintah Paraguay kemudian mengeluarkan pernyataan resmi yang mengecam komentar Amarilla. Pemerintah menyatakan bahwa pernyataan tersebut bertentangan dengan prinsip penghormatan terhadap martabat manusia dan nilai hidup berdampingan secara damai yang dijunjung negara. Pemerintah juga menegaskan bahwa komentar senator tersebut merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan sikap resmi Paraguay maupun rakyatnya.

Kecaman juga datang dari anggota Kongres Paraguay, Johanna Ortega, yang menyampaikan solidaritas kepada rakyat Prancis. Menurutnya, persaingan di lapangan tidak boleh menghilangkan rasa hormat, martabat, dan komitmen terhadap kesetaraan.

Di Prancis, FFF mengecam keras pernyataan Amarilla dan menyebutnya sebagai tindakan rasis yang menjijikkan serta tidak dapat diterima. Federasi kemudian melaporkan kasus tersebut kepada Kejaksaan Paris. Berdasarkan laporan tersebut, jaksa membuka penyelidikan untuk menentukan apakah komentar Amarilla memenuhi unsur tindak pidana penghinaan bermotif rasial sebagaimana diatur dalam hukum Perancis.

Menteri Olahraga Prancis, Marina Ferrari, juga mengutuk komentar tersebut. Ia menilai pernyataan Amarilla memalukan dan semakin tidak dapat diterima karena diucapkan oleh seorang pejabat publik. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turut memberikan dukungan kepada Mbappe melalui media sosial dengan menyatakan bahwa perjuangan melawan rasisme harus menjadi tanggung jawab bersama.

Bagi Mbappe, insiden ini menambah daftar pengalaman menghadapi serangan rasis selama karir profesionalnya. Meski demikian, performanya di Piala Dunia 2026 tetap impresif. Hingga menjelang babak perempat final, Mbappe telah mencetak tujuh gol, menyamai torehan Lionel Messi dan Erling Haaland di puncak daftar pencetak gol terbanyak turnamen. Prancis sendiri dijadwalkan menghadapi Maroko pada 9 Juli 2026 untuk memperebutkan tiket ke semifinal.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Editor: Safrezi

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan